Look!! He’s My Brother!!!

March 7, 2008 at 9:09 am 15 comments

Aku. Anak bungsu dari 5 bersaudara. Keluara besar. Keluarga yang cukup emosional dan sentimental. Kami rapat, lekat meskipun tidak di satu tempat.. Kenyataannya memang begitu, karena alasan Dinas, papa ku berpindah tugas dari satu tempat ke tempat lain. Kami berlima pun harus menetap di Kota Jogja dan tinggal berjauhan dari orang tua. Di mulai sejak aku duduk di Bangku SMP kelas 1. Sejak saat itu pula kekagumanku pada kakak kakakku tumbuh. Sampai Sekarang. Saat kami terpisah berjauhan. Jakarta-Jogja-Sorowako-Singapore.  

Kami memang tidak berdekatan secara fisik, tapi setidaknya hatiku selalu hangat setiap membaca sms mereka, yang sekedar menyapa “Tate lagi apa? Naya abis les balet nih!””aunty, dek arla kena campak ni.. kasian banget deh ”Atau ketika aku menerima telp dari Sorowako, dari kakak laki2 yang lebih seperti sahabatku, bercerita sana sini , ato hanya untuk sekedar menertawakan kebodohan kami yang ga perlu. 

Rasanya aku inginnnn sekali bercerita tentang semua, tapi saat ini ada 1 cerita yang tidak lagi bisa menunggu. 1 cerita yang aku simpan entah untuk alasan apa. 1 cerita yang hanya bisa kusampaikan dengan tatapan kagum karena lidahku tak pernah mampu menemukan kata yang tepat. 1 cerita tentang kakak laki laki ku.. 

Dia Sulung dari 5 bersaudara. Kami memanggilnya Kyai, Kyai Ian. Kyai adalah nama panggilan tradisi Palembang untuk kakak laki2 pertama atau yang di tuakan. Karena anak pertama, dia adalah sosok yang dominan dalam keluarga, kalo lagi kesel kami adek2nya suka bilang ”aahhh kyai mah emang menangan ” hehehe.. 

Bukan rahasia lagi di keluarga kami, bahwa letupan emosinya kadang meledak hebat, tak terkendali, atau jebol tanpa perlawanan yang berarti. Karenanya, salah satu hal yang kami syukuri adalah Istrinya yang sabar dan pengertianJ Meskipun begitu, aku belajar 1 hal darinya. Bahwa Manusia Bisa Berubah. Seperti dia yang susah payah namun tetap berusaha mengontrol emosinya, dia yang berlapang dada menerima cobaan atas kehilangan buah hati pertamanya-aku tau pasti itu tidak mudah mengingat usianya saat itu yang masih relatif muda. Dia yang ga pernah bosan mengingatkan adik adiknya berulang kali bahwa hidup tidak mudah, yang bersahabat dengan udara dingin untuk berjamaah subuh di masjid. Dia yang sebenarnya berhati lembut, mudah marah namun juga mudah menyesal. Dia kakak laki lakiku.. 

Suaranya menggelegar, tidak hanya tertawanya tapi juga bicaranya (baca: amarahnya) Tipikal orang sumatra mungkin, Keras. Bisa jadi. Tapi aku mensyukuri ini kok, karena kalau tidak, aku tidak akan punya pengalaman tak terlupakan tentang ujian matematika ku di Sekolah Dasar. Aku masi ingat betul gimana stress nya Santi kecil ketika harus berhadapan dengan pertanyaan2 mautnya seperti  ”kapan ujian matematika???” atau “sini kyai ajarinnnn matematika” uuuhhh rasanya kalo bisa saat itu juga aku resign jadi adeknya biar bisa selamat dari malam penuh siksaan bermain dengan angka. Sering kali malam itu ditutup dengan banjir air mata, sang adik sukses dibuat menangis belajar matematika. Hehehe dihajar oleh malam yang dimeriahkan oleh angka angka.. 

Oya, coba tebak.. Kapan aku mulai bisa baca tulis? Untuk Matematika, nasibku boleh naas dan memprihatinkan, tapi kalo urusan baca tulis, maap yaaa.. boleh lah saya sedikit bangga. Umur 4 tahun aku sudah bisa membaca dan menulis. Benar sekali, bahkan sebelum aku duduk di bangku SD!! Bukan, bukan, bukan Guru TK ku yang mengajariku mengeja dan memegang pensil, tapi kakak laki laki ku.. Dia yang pada saat itu bahkan belum lulus SMU, saat anak laki laki seusianya lupa pulang kerumah, asik dengan dunia remaja dan pencarian identitas. Dia masih bisa mengajari adik perempuannya baca tulis. Lalu bagaimana mungkin aku tidak mengagumi kakak laki lakiku.. 

Bisa di bilang, dia adalah salah satu orang yang berpengaruh besar dalam pembentukan diri seorang Santi. Pencetus dan pembuka mata atas apa yang aku tidak tahu, bahkan atas diriku sendiri. Seperti saat aku mengikuti lomba menggambar ketika SD, lomba menulis, saat aku ikut seleksi penyiar, bahkan sampai sekarang, saat aku menghadapi presentasi kuliahku yang sering membuat nafsu makan ku hilang. Betapa dia meyakinkan aku bahwa aku bisa melakukan itu semua, karena dia mengerti aku. Umm rasanya dia tidak pernah tau ini, karena aku juga tidak pernah mengungkapkannya. Tapi kepercayaannya sungguh menguatkanku.. 

Dia sudah seperti ayah ke-2ku. Bukan karena jarak usia kami yang terpaut jauh hehehe, tapi lebih karena dia adalah tempatku bertanya.. Semacam academic advisor bagiku, mulai dari memilih jurusan kuliah sampai hanya untuk memilih iklan apa yang akan aku presentasikan untuk kelas Promotional ku. Begitu juga saat laptopku terjangkit virus, tak bisa berfungsi untuk mendownload apapun. Dia berusaha memandu ku sepenuh hati, meskipun hanya dengan Yahoo Mesenger yang tentu saja menguji extra kesabarannya.. Rela terjebak berjam jam chatting tulalit dengan si adik perempuanyang gaptek ga ketulungan. Bersabar menjawab pertanyaan seperti “terus diapain ini ya?” “di klik ya yai?” atau “pilih Run atau save?” yang membuatnya memberi bonus huruf capital dan extra tanda seru, seperti “SAVE!!!” atau “CEPETAN KYAI NGANTUK!!” Toh dia tetap on line sampai dini hari, meskipun besok paginya dia mesti ke kantor dan menggrutu karena masuk angin.. hehehe.. ya begitu lah kakak laki laki ku.. 

Yang selalu ingin melihatku bahagia, meskipun untuk hal yang sangat sederhana.. Seperti ketika aku berlibur di KL, entah berapa kali dia menelp ku untuk memastikan agar aku tidak melewatkan “MUST VISIT” places dan “MUST EAT” foods hasil pilihannya.. Sampai sampai dia rela bolak balik membuka google earth-nya hanya untuk memastikan bahwa aku berada di arah yang tepat & sampai di tempat tujuan. Dia masih mau melakukan itu di sela sela kesibukan pekerjaan kantornya.. yaaah walopun aku masi saja tetap tersesat.. No no, the problem was not on his google earth.. its on me.. yang lupa bilang terimakasih karena sedang sibuk  tersesat seorang diri dan sangat berkeringat..  

Kakak laki laki ku yang sering menelponku hanya untuk menanyakan kabarku, dan kuliahku.. Tetap menelponku.. Walopun jawabanku begitu begitu saja, tidak ada yang fantastis, ataupun antusias.. Dia yang selalu mengingatku seperti aku mengingatnya.. 

Seperti saat itu.. Ketika aku menghabiskan waktu dengan melihat lihat buku di Kinokinuya, ada seorang bapak muda memangku anak perempuannya. Duduk cuek di lantai dan membacakan cerita dalam buku. Aku tak begitu tahu cerita apa, namun yang kulihat sesekali anak perempuan itu bertanya pada ayahnya, lalu mereka tertawa bersama.. Aku bersembunyi di balik rak buku tak jauh dari mereka, pura pura mencari buku. Tapi tatapanku tak juga lepas dari mereka, aku suka sekali melihatnya. Oh rupanya bukan hanya aku yang memperhatikan mereka, 2 perempuan matang tampak histeris disebelahku. Salah seorang wanita itu berkata penuh haru “oh tell me how to get a daddy like that.. that’s so sweet…” lalu temannya menjawab.. “u mean how to have a husband like that?” “yaaa.. a guy like that laahhh” lalu mereka tertawa dan menghilang di balik rak yang lain.. Dalam hati aku tau jawaban pertanyaan mereka..  “those women should meet my brother.. He’s just like that..” 

Namanya Adriansyah Zaidan, nama belakang yang sama seperti nama belakangku, karena dia kakak laki laki ku…

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

7 march 2008, 12:49 AM, Yahoo! Messenger FROM AYAT AYAT CINTA (THE NOVEL)

15 Comments Add your own

  • 1. rani  |  March 7, 2008 at 9:39 am

    huhuhu… andaikan aku bisa menulis ttg mb’nr seperti ini?

    ps: buat k’ian: kak makasih loh, tentang info nasi kandar pelita-nya. ketagihan sama sop kambingnya nih.. dan untungnya deket kampusku ada.
    ada rekomendasi tempat lain ga yang harus dicoba? jadi biar pas santi kesini lagi aku udah mahir buat nganter2in dia jalan2 😀

    oh ya.. kak lapor!! adikmu itu loh ajaib banget! masa teh tarik aja ga suka..??

    Reply
  • 2. Dimas  |  March 7, 2008 at 10:15 am

    huhuhu… aku kok jadi sedih dan terharu ya baca ini san, jadi inget kakak2ku di jakarta… nasibmu pun sama denganku dari kelas 1 smp terdampar tanpa ortu yang pindah2 tugas.

    Reply
  • 3. santizaidan  |  March 7, 2008 at 10:48 am

    raaannniii.. udah teh gitu loohh.. ditarik tarik pulaaa… minuman kok disiksaaa…

    Btw dimas rani dari SMP udah jauhan juga lho ama papa mamanya,

    Jadi abiklah.. Dimas Raniii.. ayo kita membentuk lingkaraaannn dan bergandengannn… Perkumpulan adek sayang kakak.. Perkumpulan anak berjauhan dengan orang tuaaa.. hehehe..

    Reply
  • 4. Adriansyah Zaidan  |  March 7, 2008 at 1:52 pm

    terima kasih buat segudang pujiannya dek…
    hati kyai gerimis membaca postinganmu ini…hehehe..

    Reply
  • 5. sari  |  March 9, 2008 at 1:53 pm

    Bis baca ini jadi ikutan comment ni yank…
    tapi mo komen apa yaa.. abis kaya’nya, sudah tertulis smua di sini
    dia lah kyai kami… he he he..

    Reply
  • 6. rasyefki  |  March 10, 2008 at 7:38 am

    Plot yang di bawah ini sepertinya sangat Familiar haha…

    Begitu juga saat laptopku terjangkit virus, tak bisa berfungsi untuk mendownload apapun. Dia berusaha memandu ku sepenuh hati, meskipun hanya dengan Yahoo Mesenger yang tentu saja menguji extra kesabarannya.. Rela terjebak berjam jam chatting tulalit dengan si adik perempuanyang gaptek ga ketulungan. Bersabar menjawab pertanyaan seperti “terus diapain ini ya?” “di klik ya yai?” atau “pilih Run atau save?” yang membuatnya memberi bonus huruf capital dan extra tanda seru, seperti “SAVE!!!” atau “CEPETAN KYAI NGANTUK!!” Toh dia tetap on line sampai dini hari, meskipun besok paginya dia mesti ke kantor dan menggrutu karena masuk angin.. hehehe.. ya begitu lah kakak laki laki ku..

    Reply
  • 7. refanidea  |  March 10, 2008 at 2:20 pm

    perempuan ingin dibimbing tanpa tanda seru
    perempuan juga ingin dipercaya tanpa tanda tanya

    mungkin begitu ..

    Reply
  • 8. pank  |  March 11, 2008 at 4:13 am

    mbak, ‘the zaidans’ mau nambah anggota keluarga ga?
    kalo mau, aku bersedia diadopsi jadi adikmu..
    biar nanti aku diajarin ma kamu. *kdipkdip*
    wakakaakakakakakak.
    wah, ra lolos kualifikasi aku. hahahahahahahuok *keselek*

    -what a touching story!! bravo!! 5stars for you!!-

    Reply
  • 9. santizaidan  |  March 11, 2008 at 5:04 am

    pank pink ponk…
    bole bole sini jadi adek kuu..
    bawa cemilan trus ngerumpi hihihiii….

    Reply
  • 10. pank  |  March 11, 2008 at 8:13 am

    mama….
    takut…. ada tante2 gir*ng ma, bujuk2 aku! katanya mau jadiin aku adeknya. huaaaaa.. huaaaa…

    nyahahahaha….
    piss mabk! eh mbak!

    Reply
  • 11. Kinan  |  March 11, 2008 at 8:15 am

    Waaaaaaaaaoowwwwwwwwwww……

    Jadi ingat ibuku yg selalu membuatku menangis agar aku bisa matematika….

    http://iamkinan.wordpress.com

    Reply
  • 12. tia_fazaa  |  March 13, 2008 at 8:33 am

    huhuhu..hiks…hikis……terharu shan…pengennya punya kakak yang seperti itu……

    Reply
  • 13. myra  |  March 19, 2008 at 3:37 pm

    wah..
    seandainya abangku bgtu….
    hukz..

    Reply
  • 14. santizaidan  |  March 19, 2008 at 4:39 pm

    abang juga gitu lagi mirrr.. cuman caranya aja yang sedikit berbeda 🙂

    Reply
  • 15. marini  |  May 8, 2008 at 2:52 am

    Hiks…hiks…hiks…
    aku terharu banget dek ngebacanya, sampe netesin air mata..
    pernah dulu pas di jakarta (menteng metropolita), aku denger kyai ngajakin conversation in english gitu sama kamu..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


warna-warniku

yang menghampiri

  • 41,878 pasang kaki

%d bloggers like this: