Archive for May, 2008

Mereka baik sekali padaku..

Malam ini aku memandangi wajah mereka.. Wajah yang biasa, wajah teduh yang mulai menua.. Demi darah yang mereka yang mengalir dalam darahku, pada mereka kecintaanku luar biasa..

 

Wajah ayahku yang gagah, yang memang akan selalu gagah di mataku.. Katakan padaku, apa yang papa simpan di balik kacamata itu.. Papa bilang, mata papa mulai cepat berair kalau terlalu lama membaca. Papa juga bilang, mungkin papa perlu ganti kacamata. Sedihnya, siang ini papa batal memeriksakan mata.. Tidak ada mobil yang tersisa. Dia bilang, sudahlah.. dia bisa memeriksakan matanya nanti di Jakarta. Apa rasanya pa? ketika keinginan papa selalu saja tertunda? Sebelum aku lupa, terimakasih untuk keinginanku yang tak pernah menunggu terlalu lama ya pah J

 

Kupandangi wajah papaku.. wajah yang jarang sekali bilang “sayang”.. tapi tak pernah sedikitpun aku meragukan sayangnya kepada ku.. Seperti dia yang tak pernah ragu memenuhi permintaanku untuk membaca surat2 pendek saat berjamaah.. Papaku jarang berkata “tidak”.. Sehingga ketika papa bilang ‘terserah’, untukku itu berarti ‘tidak’. Papaku tak terlalu banyak bicara, aku tak terlalu tau isi hati nya.. Dia memikirkannya seorang diri, dan memendamnya sendirian.. Dia tak pernah lupa berdoa, dia menyelesaikan dengan sempurna.. Papa hebat..

 

Entah sejak kapan, aku benci bila aku harus meminta apapun pada papa, meskipun aku tau papa selalu memberi.. Papa tau kenapa, karena aku tau papa tak pernah memberi diri sendiri sebanyak papa memberi kami, anak2nya.. lalu mana mungkin aku banyak meminta.. Namun kalau saja boleh malam ini aku meminta.. Beritahu apa yang papa rasakan, ketika kami masi saja tak pernah behenti minta dimengerti.. Jangan di pendam.. Jangan hanya berbagi saat tahajud.. Percaya deh.. Hati ini, bukan hati gadis kecil lagi..

 

Kupandangi sekali lagi wajah lelaki yang mulai beruban itu.. wajah yang tak terlihat lelah, meskipun seharian ini menghabiskan waktunya menemani cucu cucunya bermain. Bahagia nya luar biasa ya pa? Aku tak perlu berusaha terlalu keras agar bisa merasakannya.. Aku tau papa bahagia, meski tidak tertawa dengan bahu terguncang J

 

Papaku masuk kamar, meninggalkan istrinya bersama ku.. Mamaku..

Aku pandangi wajahnya, wanita yang tak lagi muda namun tetap ceria.. seceria wajahnya saat setia menonton Cinta Fitri, sinetron favoritnya.. tempat papaku selalu berbagi cerita sepanjang hari, entah di mobil, di meja makan sampai menjelang tidur.. Aku ingin seperti mamaku, yang berhati luas tanpa batas dan mendengar tak kenal bosan..

 

Mamaku selalu berbagi, bercerita apa saja.. Kadang cerita berulang entah untuk keberapa kalinya.. kadang mama bercerita sampai menangis.. kadang tertawa lepas tergelak.. Sekarang ini saja sambil aku mengetik, mamaku tidak berhenti bercerita, rasanya mama bisa jadi penyiar radio juga dengan bakat terpendamnya.. J dia selalu ingin tidur bersama ku.. mungkin untuknya suara ngorokku terdengar terlalu merdu untuk dilewatkan.. ;p Aku ingin seperti mamaku, jago sekali memasak. Yang ini tak ada hubungannya memang.. cuman tidur pun tak bisa pulas dengan perut kosong bukan.. J

 

Kupandangi wajah mamaku, wajah nya yang segar dan tak pernah mau mengenal lelah.. Mamaku  dengan daster orange-nya.. Kemarin dia panic luar biasa, ketika aku sakit kelelahan.. Muntah ga karuan, semua yang kumakan keluar, tepat jam 3 pagi.. mama bangun dan menemani aku tidur.. memijat ku dengan minyak kayu putih andalannya.. Hangat.. Minyak kayu putih memang hangat, tapi lebih hangat tangan mama..

 

Kalau saja pagi itu tenggorokanku tidak terlalu kelu, dan badanku tidak terlalu lemas.. Pagi itu aku ingin bilang, aku kangeeeeeeennn sekali sama mama.. Mama yang lebih sering bilang “sayang” dibanding papa. Yang lebih sering bercerita ketimbang papa.. Yang mengajariku berbagi dan mengalah.. yang mengajariku mengerti kapan saat diam, kapan berhenti lalu berlari..

 

Mamaku yang tidak cukup lama menemaniku tumbuh saat aku remaja.. Aku tau wanita berdaster orange itu sungguh ingin membagi waktunya denganku. Seandainya  wanita itu bisa membelah diri layaknya amoeba, berpisah dengan ke 5 anaknya pasti bukanlah pilihannya. Apalah artinya seandainya, toh aku tak lagi tinggal bersama mereka saat aku duduk di bangku SMP, Kakak tertuaku yang mengambilkan raport untukku.. Aku tertegun, sadar betapa aku tetap saja tak pernah meragukan ksih mereka. Mereka yang jiwa nya tumbuh bersama jiwaku, meskipun pergantian usiaku sampai detik ini lebih banyak aku lewatkan tanpa mereka. Mereka yang berwajah teduh dan hati yang bijaksana.. Mereka yang selalu menyebut namaku disetiap sujud doanya.. Mereka yang sebaik itu padaku.

 

Kupandangi sekali lagi wajah mereka. Wanita berdaster orange, matanya  terpejam namun tak kunjung juga berhenti bercerita. Lalu kupandang lelaki bersarung yang tidur pulas mendengkur. Apa rasanya Pa, Ma? membesarkan 5 orang anak dengan berjuta harapan.. Papa mama baik sekali padaku, baik sekali… Ngomong2, rasanya 3 orang anak saja cukup untukku nanti.. Mahal sekali biaya pendidikan di negara ini..

 

 Agar papa mama tau, aku tak pernah habis bersyukur punya mama papa yang luar biasa baik..

 

Aku tau janji harus ditepati, tapi kurasa bukan itu pula alasanku bila nanti aku ingin menghabiskan waktuku bersama mereka selepas aku lulus nanti. Adalah karena aku ingin berbuat lebih baik lagi sama mama papa. Aku tak pernah tau sampai kapan lagi waktuku.. Selagi aku masih mampu.. Aku ingin berada dekat saja..

 

 

 

Jogjakarta, 13 Mei 2008

Advertisements

May 12, 2008 at 6:17 pm 14 comments

tanahku dan tanahmu..

Aku menginjakkan langkah ku kembali, kok terasa beraat.. Kenapa ya? Mungkin karena jarak tempuh yang bertambah.. dan semua cerita yang berentet menyertai setiap langkah.. Banyak cerita.. semua bermakna.. maksudku, sangat bermakna.. umm at least untukku sih..

 

Aku juga menghirup udara yang sama kembali, bukan udara yang baru..

Namun kenapa terasa berbeda ya? Ohh mungkin karena indera yang bekerja lebih baik dari sebelumnya.. Lebih peka menurutku.. Sensitive..

 

Alam bawah sadarku pun sibuk mengkomparasi, mulai dari segi estetika sampai materi..

Ahh sayang sekali, tanahku terpuruk, jauh dibawah.. meski tanah ku jauh lebih subur dengan manusia2 berkehidupan spontan yang lebih memiliki rasa.. Come on.. apa artinya dunia ini tanpa hasrat.. lalu, bekerja tanpa cinta?? oh semoga tidak terjadi pada ku…Biarkan robot robot itu yang mengerjakannya..

 

Aku suka tanah mu, dimana aku menorehkan cerita yang lengkap oleh airmata bahagia dan luka.. aku suka tanahmu, suasana mu yang pasti, tak tersentuh oleh sesuatu yang tak beratur.. dan lagi, aku mulai terbiasa dengan yang pasti pasti..humm rasanya aku mulai jatuh cinta pada aturan..

 

namun sekarang, aku kembali.. ketanahku yang tak mengenal aturan untuk mengatur.. Lalu semua menjadi tak pasti, aman bukan berarti pasti aman, teratur bukan berarti pasti mau diatur.. Aku tak lagi bisa menghitung jarak dan waktu.. untuk apa? Toh selalu saja luput.. selalu berubah dari apa yang dijadwalkan.. Jarak, waktu, rasa, pikir. Mereka boleh berubah.. Tapi kecintaanku pada manusia2 yang berdiri di tanah ini toh tidak pernah berubah. Kerinduanku pada mereka, luar biasa..

 

Keringatku mengucur.. seperti semua manusia lainnya..

Kami terpanggang oleh impian dan harapan..

Kami bukan berlari, hanya saja kami tak bisa berhenti..

 

aku suka tanahmu, tapi aku akan tinggal di tanahku.. karena ini milik ku…

 

 

Welcome back Dear Me..

Jakarta Malam ini, May 06 2007

May 6, 2008 at 5:04 pm 9 comments


warna-warniku

yang menghampiri

  • 41,266 pasang kaki