Archive for July, 2008

Perempuan Yang Menunggu Pagi

Disudut jalan, seorang perempuan berdiri sambil menengadahkan kepala. Menghiraukan bising suara dan bersahabat dengan kesepian. Hanya kerlip dalam kelam yang mampu menghiburnya. Langit memang masih saja hitam, namun sayang, tak tampak satupun bintang.
“Dimana ya bintang?” ia bertanya pelan. “Ah.. apa kau bawa semua semua bintang ikut serta denganmu? Kenapa tak kau sisakan sedikit saja bintang untukku malam ini? Aku ingin menceritakan kerinduanku”. Perempuan itu menghela nafas panjang, menampakkan raut muka kecewa. Ia merubah posisi berdirinya, entah untuk yang keberapa kalinya, namun tetap dengan kepala menengadah.
“Kenapa lama sekali?” lagi lagi perempuan itu menggumam sendiri. Lalu mulai beranjak meninggalkan sudut jalan, berjalan pulang. Masih dengan kepala menengadah, memastian langit masih gelap. Gelap tanpa bintang. Perempuan itu berjalan tergesa. Seberkas sinar terpancar di wajahnya. Bersamaan dengan harapan yang perlahan menggerayangi otaknya. Menemukan sosok lelaki yang ditunggu di rumahnya. “Kasihan sayangku.. kalau dia harus menungguku terlalu lama di rumah” Ia bergegas hampir berlari. Sesekali tertatih saat tersandung kerikil kecil yang tak terlihat. Namun senyum tetap tersungging disudut bibirnya. Senyum sederhana di bibir yang indah. Tampak sempurna. Oh ya, Perempuan itu bernama Rohmini, aku memanggilnya Mbak Mini. Mbak Mini yang cantik.

Aku tak suka melihat mbak Mini kecewa, tak rela harus melihat senyum tertunda menghiasi wajahnya yang cantik. Seperti saat tak ditemukannya sosok yang sangat dia harapkan menyambangi rumahnya. Mbak Mini terduduk lemas di kursi teras rumahnya. Mbak Mini menengadahkan kepalanya, melihat langit. ”Ah bukan salahnya.. toh langit masih gelap” Seketika seulas senyum menghiasi wajahnya. Senyum terindah yang pernah kulihat.

Masih di teras rumahnya, Mbak Mini memangku album photo, melihatnya satu persatu. Dibelainya gambar di photo itu, diciumnya dengan lembut, kemudian dipeluknya. Lama sekali. Setelah itu dia tersenyum, membiarkan album photo itu terbuka. Tampak gambar Mbak Mini dengan kebaya warna emas dan pria tampan dengan setelan jasnya. Pria tampan dan perempuan cantik. Mereka sungguh tampak serasi. Sementara itu, beberapa orang yang melintasi teras rumahnya iseng menyapa. ”wah Rohmini rajin sekali, jam segini sudah nongkrong di teras” Mereka bicara dengan tone suara yang tidak biasa, setengah tertawa.
”Iya mas, nungguin mas Haryo” Mbak Mini tampak tersipu sipu. Rasanya itu sungguh pemandangan yang susah aku definisikan. Setengah berteriak, segerombolan ABG laki laki dengan seragam putih biru ikut menggoda dengan celotehannya “ Mbak, Ini dicariin Mas Haryo ni Mbak” Mereka tampak saling dorong. Mbak Mini beranjak dari tempat duduknya, bergegas mendekati gerombolan itu, tentu saja dengan senyum tersungging diwajahnya. Segerombolan ABG laki laki itu segera berlarian sambil tertawa tergelak, tampak puas. meninggalkan Mbak Mini yang berdiri memeluk pagar. Kesedihan sungguh terpancar dari sinar matanya yang meredup. Anak2 ABG itu benar benar sudah keterlaluan.
“Mbak Mini, ayo masuk kedalam” aku mencoba menuntunnya masuk kedalam rumah.
“Tidak Lastri, aku harus menunggu mas Haryo pulang”
Aku terdiam sejenak. “Kenapa tidak menunggu mas Haryo dari dalam saja? Sambil membuatkan kopi kental untuknya. Mas Haryo pasti senang mbak” Aku mencoba membujuknya.
“Ah.. kamu benar Lastri. Bagaimana mungkin aku hampir lupa menyiapkan kopi untuknya.” Rupanya bujukanku berhasil. Mbak Mini bergegas masuk, sementara aku setia mengikutinya di belakang.

“Lastri, apa jam dirumah kita mati?” aku melihat sepintas kearah jam yang tergantung di dinding. Jam 10 lewat 10 menit.
“rasanya tidak Mbak”
“Ah.. kamu ini, mana mungkin sekarang jam 10. Coba lihat, di luar saja masih gelap begitu.” Entah apa yang dilihat Mbak Mini. Apa segerombolan ABG berseragam sekolah tadi kurang menjelaskan bahwa hari sudah terang? Aku hanya berkata dalam hati. Sementara bibirku terasa kelu. Mbak Mini sibuk sekali membuat kopi. Ketika kopi di cangkir yang 1 sudah mulai dingin, dia mulai membuat kopi lain di cangkir berikutnya. Ini sudah cangkirnya yang ke 13. Sementara kopinya mulai kembali dingin.
“Lastri, apa hanya cangkir ini saja yang kita punya?”
“iya mbak”
“Ah.. kenapa susah sekali membuat mas Haryo Bahagia. Bahkan menyediakan kopi kental yang panas saja aku tak bisa” Mata bulat Mbak Mini tampak mulai berkaca-kaca.
“Sudahlah mbak, ini kan hanya tentang kopi” aku mencoba menghibur.
“Tau apa kamu tentang Kopi” Mbak Mini berkata pelan. Tak ada nada marah, hanya terasa penuh oleh kecewa.
2 sendok kecil kopi pahit, ½ sendok gula, diaduk berlawanan arah jarum jam. 1 pisang goreng hangat. 1 Koran Harian Kota. Tepat jam 7 lewat 15. Rasanya aku bahkan tahu lebih dari sekedar secangkir kopi.
***

“Lastri, kenapa kamu tidak membangunkanku?”
“Mbak Mini terlihat sangat lelah, tidurnya nyenyak sekali. Saya tidak tega mbak”
“aaaahh Lastri kamu ini” mbak mini tampak gusar, dia berlari keluar rumah. Menengadahkan kepalanya. “Untunglah, langit masih gelap” Dia tersenyum.. Sementara tampak beberapa gadis kecil berkerudung memeluk Al-quran.
“Hey gadis kecil yang pemberani, hati hati ya. Sudah gelap lho” Mbak Mini menyapa mereka dengan ramah. Mereka tak satupun menimpali, hanya tampak tersenyum bingung. Salah satu gadis bertanya pada temannya “memangnya, di Musholla kita mati lampu ?”
”entahlah” ujar yang lain. Hembusan angin terasa mulai menggigit, sebentar lagi Mbak Mini pasti akan kedinginan. Setelah beberapa hari ini dia sangat kurang tidur, aku khawatir bisa bisa dia jatuh sakit.
” Mbak Mini mari masuk kedalam, di luar mulai dingin” dia tampak diam sebentar, lalu mengamati setelan yang dikenakannya. Daster yang aku belikan 2 minggu yang lalu di pasar Beringharjo.
”Kamu Benar Lastri, Aku tidak mungkin menyambut mas Haryo dengan daster ini. Aku harus tampak cantik untuk mas Haryo. Masi ada waktu berkemas. Sebelum pagi”

Mbak Mini memilih baju terusan berwarna Maroon. Mengusap wajahnya dengan bedak tipis. Mengucir rambutnya dengan karet berwarna maroon yang senada dengan baju. Cantik sekali. Baru sebentar rambut panjangnya terikat, rambutnya terurai lagi. Karet Rambutnya putus.
“Lastri, carikan aku karet rambut warna maroon lagi” aku mencari karet rambut berwarna maroon disemua laci rias.
“tidak ada lagi karet yang warna maroon mbak, tinggal warna hitam dan biru”
“aku ingin yang senada dengan bajuku Lastri. Carikan aku warna Maroon. Mengerti?”
“tapi tidak ada lagi yang berwarna maroon mbak. Saya tidak mungkin pergi membeli karet berwarna maroon dan meninggalkan Mbak sendirian disini. Mungkin sebaiknya biarkan rambut Mbak Mini terurai. Tetap Cantik kok mbak” kataku hati hati.
“Ah sudahlah.. tahu apa kamu soal berdandan Lastri” Mbak Mini tampak gusar. Diambilnya karet rambut berwarna hitam.
Rambut terurai, bedak tipis, lipstick pink natural, aroma bunga melati segar. Meski aku tidak secantik mbak Mini, apa lagi yang tidak aku ketahui..
***

Aku menemani mbak Mini di Meja makan. Dia hanya menatap satu persatu masakan yang aku sediakan untuknya.
”Mbak Mini harus makan mbak. Nanti mbak Mini bisa sakit” Tapi perempuan cantik itu diam saja. Dia malah menatapku dalam dalam.
“Lastri”
“ya mbak”
“kenapa mas Haryo lama sekali? Katanya dia akan pulang pagi ini. Kenapa belum juga pagi?”
Aku sungguh tak tahu harus menjawab apa. Aku biarkan saja perempuan cantik itu menangis, air matanya menodai terusan maroonnya.
“Sabar mbak Mini.. sabar..” Hanya itu yang bisa aku katakan.
“Ah Lastri.. kamu tak tahu apa apa tentang kesabaran dan menunggu”
Oh ya Benarkah? Lalu apa artinya airmataku yang mengendap, kesedihan yang menguap dan kesendirian yang meresap sampai ke tulang tulangku?

“Apa belum juga pagi Lastri?” Suara mbak Mini mulai terdengar bergetar.
Aku melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 2 lewat 15 menit. Berjam jam kami lewati dengan diam yang terasa menghunusku sampai ke ulu hati.
“Belum mbak, beberapa jam lagi. Mungkin sebaiknya mbak Mini tidur dulu.”
“Aku tidak ingin tidur. Aku ingin Mas Haryo tahu aku tetap menunggunya terjaga.”
“Sudahlah mbak.. sebaiknya mbak tidur saja.”
“Tidak lastri aku ingin menunggunya. Dia bilang Pagi ini dia akan pulang”
”Sudahlah mbak Mini..” Mataku mulai terasa panas.
”Aku ingin dia tahu aku memaafkannya Lastri”
“Tapi memaafkan tetap saja tak membuat mas Haryo kembali mbak” Ucapku lirih. Mati matian kutahan air mata yang tergenang dipelupuk mata agar tidak jatuh.
“Sudahlah Lastri. Kamu tak tahu apa itu Maaf” Ucapan Mbak Mini terasa begitu dingin. Dia memalingkan tatapannya keluar jendela yang dibiarkan terbuka.
Kali ini mbak Mini benar, diluar memang gelap. Dia juga benar, aku tak tahu apa itu Maaf. Kenapa Mbak Mini masih juga memaafkan mas Haryo ketika dia jujur berkata mencintai perempuan lain, aku sungguh tak mengerti kenapa Mbak Mini masih memaafkannya, menerimanya dan menunggunya. Aku enggan mengerti.

“Mbak Mini mau kemana?”
“aku akan menjemput Mas haryo diujung Jalan. Dia Bilang pagi ini dia akan pulang. Aku akan menjemputnya. Aku tak tahan lagi Lastri. Bukankah semestinya ini sudah pagi”
Rasanya lututku begitu lemah, tak kuat menahan tubuhku yang terasa berat oleh beban kepedihan. Air mataku ahirnya tumpah, mengalir tak mau berhenti. Aku tak kuasa mencegah kepergian Mbak Mini. Bukan hanya mbak Mini yang menunggu pagi. Aku juga menunggu pagi. Pagi dimana mas Haryo akan menceraikan mbak Mini. Pagi yang tak kunjung datang, karena malam terlanjur merenggut mas Haryo dalam kecelakaan maut. Malam dimana sebelumnya dia bilang akan menyampaikan niatnya untuk menceraikan Mbak Mini. Malam dimana kesetiaanku mengabdi pada Mbak Mini akan aku gadaikan atas nama penghianatan. Malam dimana kami berpelukan lama saling menguatkan, membunuh rasa bersalah. Aku juga berhak bahagia, dia meyakinkanku berulangkali. Malam dimana aku meneteskan airmata untuk penantian yang aku pikir akan berujung bahagia. Ya ternyata aku salah, Malam itu tak lebih dari malam terpanjang yang tak hanya untukku tapi juga untuk mbak Mini.
***

“Tampak pagi kita sekarang kurang menarik teman” seorang lelaki di warung kopi bicara sambil menatap lurus sudut jalan didepannya.
“Betul juga. Dimana perempuan cantik yang selalu bertanya tentang pagi itu?”
”Apa kau belum tahu ? Dia meninggal dini hari tadi”
”Benarkah?”
“Ya. Tewas tertabrak mobil. Katanya, dia berjalan menengadah melihat langit, tanpa menghiraukan kendaraan apapun didepannya”
“Sayang sekali. Padahal dia begitu cantik.”
“Cantik tapi stress, Mau kamu?” Mereka tertawa tergelak. Aneh. Bahkan kematian bisa saja jadi bahan tertawaan manusia.

Sudut jalan itu tak seperti biasa. tak ada lagi perempuan cantik yang menengadahkan kepala menanyakan pagi. Berganti dengan bendera putih yang terpasang dengan ribuan kata Maaf yang tak pernah habis aku ucapkan. Meski untuk alasan yang berbeda, Aku dan Mbak Mini adalah perempuan yang menunggu pagi. Sayangnya, Pagi itu tak pernah terjadi.

Oh ya, perkenalkan. Aku Sulastri. Aku pembantunya. Maaf, maksudku perempuan yang terlanjur mencintai suaminya.
(TAMAT)

Advertisements

July 26, 2008 at 6:56 am 12 comments

Cerita Tentang Rumah-ku.

“Ehem ehem” Suara berat itu, terdengar tak asing lagi di telingaku.
“Heeeey” aku memalingkan wajahku dan menatap sosok yang sangat ku kenal di depan pintu. Meski aku merasa sudah mengenalnya, kehadirannya tetap cukup mengagetkanku.“Kenapa tidak bilang sebelumnya kalo mau kesini?”
“Memangnya salah? Bukankah kamu akan lebih mengingatnya kalau aku datang tiba tiba?”“Ini bukan tentang salah atau benar. Tapi coba lihat deh.. Aku belum sempat bebenah.. Rumahku berantakan begini” Kataku sambil membereskan sedikit barang yang tergeletak di tempatyang tidak semestinya.
“Ah, Sudahlah. Tidak perlu kau rapikan. Bukankah lebih menyenangkan bila sesuatu tidak dibuat buat.. Apa adanya..” Dia tersenyum hangat. Rasanya hati ini tenang melihatnya. Harus aku akui kali ini dia benar. Jadi aku putuskan untuk tidak membahasnya lebih lama. Dia masih berdiri didepan pintu rumahku yang terbuka. Sedangkan aku, aku masi terheran heran dengan kedatangannya yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Ah.. ceritanya selalu saja begini, tiba tiba datang tanpa pemberitahuan. Aku tersenyum. Senang.
“Heey, rumahmu menarik” katanya mengacaukan lamunanku. Dia masi berdiri didepan pintu, dengan mata yang seolah menelanjangi seluruh ruang.
“Umm.. ya beginilah.. Ini Rumahku.. Ini Jiwaku.. Sini, Masuk kesini” aku tersadar masih tetap membiarkannya menunggu di depan pintu.
“Rumahmu menarik sekali” katanya sekali lagi. Ditelingaku, kata katanya terdengar tulus. Aku senang mendengarnya.
 
“Ayo, duduk disini. Kita ngobrol di Ruang Tamu.”
Aku menemaninya ngobrol berjam-jam. Sungguh tidak terasa. Waktu serasa berjalan cepat sekali. Dia memang menarik, atau obrolannya yang menarik. Entahlah. Lagi lagi aku senang.
“Ceritalah tentang Rumahmu” Pintanya.
“Kenapa?”
“Karena aku sangat ingin berlama lama di dalamnya.”
“tidak ada yang menarik dari rumahku.”
“dan itu tidak sedikitpun menyurutkan keinginanku untuk tetap mendengarnya” Dia menatap mataku sambil tersenyum. Aku sungguh tersanjung.
“Baiklah, kita mulai dari Ruang Tamu. Seperti yang kamu lihat sendiri sekarang. Ruang tamu ini adalah ruangku untuk berbasa-basi, untuk tersenyum ramah dan tertawa lepas. Mereka tamuku, tidak sepantasnya mereka melihatku bersedih, apalagi menangis. Lagi pula rasanya kurang nyaman menangis di ruang tamu”
”Ruang tamu mu kereennn. ” Katanya sambil mengacungkan jempol.
”Oh ya.. kalau kau mau, aku akan mengajakmu berkeliling” Tanpa menunggu jawabannya terlalu lama, aku berjalan menuju Dapur. Dia mengikutiku di belakang.

”Ini Dapur-ku” Kataku, Dia mempehatikan seisi ruangan.
”Kamu suka berlama-lama disini ?”
”Saat ini aku senang sekali memasak. Kalau sudah memasak aku suka lupa waktu. Kamu tau kenapa ? Karena aku butuh makan”
”Pasti rasanya menyenangkan ya… bisa memenuhi kebutuhanmu dengan sesuatu yang kau sukai” katanya.
”Ya. Rasanya luar biasa.” Kataku cepat.
”oh ya, kamu mau minum ?” aku mengambilkan air putih untuknya. Dia meminumnya segera. Lalu kami terus berkeliling kesetiap ruang.

”Kamu Punya Mushola?”
”Tentu saja. Itu Ruangku dengan Tuhan. Aku selalu menyediakan ruang untukNya seperti dia yang menyediakan ruang untuk ku.”
“Boleh aku melihatnya ?”
”Kamu tidak akan bisa melihatnya.”
”kenapa tidak ?”
”Karena itu tidak untuk dilihat. Hanya Kami yang bisa merasakannya.
“Kami?”
“Ya. Aku dan Tuhanku yang baik hati”
Dia tersenyum. Aku rasa dia mengerti.
 
”Hei ngomong ngomong, dimana Kamar-mu ? Katanya kepribadian orang bisa terlihat dari kamarnya.” Dia tampak bersemangat.
“Bisa jadi begitu. Untukku, kamarku adalah ruang paling pribadiku. Untukku berbicara dengan hati, menangis tersedu atau berteriak lantang. Tempatku membebaskan diri”
“Jadi hanya kau yang boleh berada disana?”
“tidak juga. Seseorang dengan kehedakku boleh menemaniku menjadi diri sendiri?”
“Menurutmu, bisakah orang sepertiku menemuimu di kamar?”
“tentu saja. Aku menyukaimu.” Wajahnya tampak lega. Dia tersenyum.
“Antarkan aku ke kamar-mu. Aku ingin melihatnya.”
“Kamarku disebelah sana. Ruang yang paling belakang.” Aku menunjuk sebuah ruangan yang terletak di sudut belakang. “pergilah kesana” kataku kemudian.
“sendiri?”
“Ya. Aku menunggu disini.”
“Kenapa begitu?”
“Karena aku ingin kamu menghampirinya dengan keyakinanmu. Bukan keyakinanku.”
“tapi aku pun butuh keyakinanmu.”
“Percayalah, ruangan itu sudah penuh dengan keyakinanku didalamnya. Ruang itu untuk mu.” “Pergilah, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama”
Dia masih menatap jauh. Entah apa yang dia pikirkan.

“Umm sebentar, ruang apa itu? Ruangan yang terletak disebelah kamarmu?”
“Itu Ruang Keluarga-ku”
“Apa aku harus melewatinya?”
“Tentu saja, kamarku terletak di belakangnya bukan? Kenapa? Apa yang membuatmu khawatir?”
“Aku tidak khawatir. Hanya saja..” dia terdiam beberapa saat, “Siapa saja yang ada disana?”
“Di Ruang Keluarga ku?”
“Iya.” Dia mengangguk
“Tentu saja orang orang yang aku sayangi. Ayah ibu-ku, Saudara saudara-ku, keponakan2,ku. Kami terbiasa menghangatkan diri di ruang itu. Aku juga ingin kamu merasakan kehangatannya.” Aku menjawab mantap. Seperti biasa aku selalu bersemangat bercerita tentang orang2 yang aku sayang.

“Hei, kenapa jadi bengong? Katanya mau melihat kamar-ku?” Aku menggoyang goyangkan tanganku di depan wajahnya, memecah lamunannya. Entah apa yang dia lamunkan.
“Kenapa?” Tanya nya linglung. Tampaknya dia tidak mendengar ucapanku.
“kenapa diam saja? Katanya mau ke Kamar?” aku mengulang pertanyaanku.
“Humm.. yaaa, tapi aku ingin merokok dulu”
Aku menghela nafas panjang, kecewa. “kamu taukan didalam rumahku ini, kamu tidak boleh merokok. Tapi kalau kamu tetap ingin merokok. Kamu bisa merokok di Teras luar”

Dia berjalan keluar menuju Teras. Aku mengikutinya di belakang. Dinyalakannya sebatang rokok miliknya. Aku duduk disampingnya. Dia diam saja. Dan aku hanya menunggunya menghabiskan sebatang rokok yang membuat kami terkurung diluar. Kami tetap diam, sampai dia menghabiskan hisapan terahirnya.
“Sudah?” tanyaku.
“Ya.” Katanya pelan.
“Kau Jadi mau melihat kamarku?” aku tersenyum mencoba mengingatkan niatnya semula. “Atau jangan jangan, kamu mulai meragu ? tampaknya kamarku tidak lagi menarik untukmu.” Kataku seraya tertawa kecil.
“Bukan begitu.” Sanggahnya cepat.
“Lalu apa yang membuatmu terhenti disini ?”
“Ruang itu. Ruang yang menurutmu hangat tadi. Sehangat apa ?”
Aku tersenyum, mencoba memahaminya. “Kamu harus berada didalamnya. Maka baru bisa merasakan hangatnya. ” Kali ini dia diam saja. Kami sama2 diam. Aku masih menunggunya. Waktu seperti berhenti, rasanya lama sekali.

 “ Maaf. Aku butuh angin. Rasanya aku ingin disini saja”. Dia berkata datar, memecah kesunyian. Ia melemparkan pandangannya berpaling dariku. Lalu menyalakan rokoknya yang kedua. Aku masih diam, berlalu meninggalkannya di Teras rumahku. Menangis tanpa suara. Sendirian saja, di kamar-ku. Sementara dia tetap disana, entah sampai kapan. Yang jelas, rokok lain menunggu hendak dinyalakan.
***

July 15, 2008 at 3:12 am 16 comments

Mbak Watik, Aku ingin Langsing!!!

Perempuan mana si yang ga pengen punya badan langsing aduhai. Aku pun begitu. Tapi apa daya, ga semua impian bisa jadi kenyataan huhuuuww.. Sepulang aku ikutan program exchange student kemaren, berat badanku melonjak drastis. Naek 7 kilo man !! oh oh katakan, adakah yang lebih buruk dari itu??? Huhuhuuuw.. rasanya hati ini pedih sekali ketika nyobain baju baju yang uda ga cukup lagi, beberapa restliting dress batikku terjebak macet ditengah tengah, ga bisa menuntaskan tugas mulianya untuk nutup ampe atas.. hiks hiksss.. Belum lagi celana jeans yang rasanya perlu di kasi oli pelumas dulu biar makenya gampang. Huuhuhuuuw oh malang nya nasib perempuan cantik berwajah oriental ini..

 

Dan layaknya perempuan laen, aku juga mencoba beberapa usaha supaya bisa kembali ke berat bada ideal (ting ting, mata berkedip). Karena berolah raga rasanya malas sekali, dietpun terasa menyiksa lahir batin, maka aku mencoba pengobatan alternatip. Pijat MBAK WATIK (jeng jeeeeng, beksound jagoan muncul) Pijat alternatip ala mbak watik ini diperkenalkan oleh Ella, penyiar Geronimo juga, dia lebih dulu jadi pasiennya mbak watik. Sebenernya katanya, metode pemijatan Mbak Watik ini mirip sama akupuntur. Bedanya ga pake jarum, tapi di pijet. Eh sebenernya si diinjek injek ding, bukan di pijet. Hahaha ga semengerikan itu kok. Diinjek2nya cukup berprikemanusiaan. Slaen pijatannya yang katanya bisa menunda napsu lapar itu, alasan laen yang membuatku tertarik adalah karena katanya pijat mbak watik juga bisa melancarkan menstruasi.

 

Maka cukup dengan berbekal 20 ribu rupiah ples harapan tulus ikhlas untuk menjadi kurus, Aku dan Ella mantab melangkahkan kaki ke pijat kurus mbak Watik yang terletak di daerah Sagan. Sebenernya aku si rada heran juga dgn pemilihan lokasi pijet kurus ini. Abis lokasi nya di lantai 2, padahal lantai 1 nya tempat jualan makanan. Sungguh cobaan besar bagi para pasien mbak watik yang ngarep kurus seperti diriku. 1 biji risoles rasanya ga akan jadi masalah bukan? sebelum jam 7 rasanya tidak apa apa ya? Maka aku pun menyemangati diri membeli risoles pujaan hati, berisi adonan ayam, wortel dan telur yang mempesona. Ella menatapku dengan tatapan penuh misteri, entah apa arti tatapannya.

Lalu ella berkata, “yakin lo mau makan risoles?”

dan aku menjawab dengan semangat berkobar “aku ga pernah seyakin ini La”

Ella berkata lagi “terserah lo si.. tapi ati2 lo mbak watik galak banget loh’”Aku mengangguk bar bar, Aku gigit risoles di tangan kanan, dan sayup sayup terdengar nyanyian surgawi di telingaku. Yesssss…

 

Sampai di lantai 2, tampak beberapa ibu dan perempuan mengantri pasrah untuk dipijat.. Oh my God, bahkan tempat pijetnya ga punya bilik khusus, very vulgar. Maksudku terbuka sekali, sangking terbukanya kita dikumpulin di satu ruangan doang. Itu berarti, setiap pasien yang diinjekin mbak watik akan menjadi pemandangan mengenaskan untuk orang seluruh ruangan. Aku melewati seorang mbak yang aku sinyalir tampaknya sebagai mbak Watik ratu pijet. Doi lagi nginjek betis ibu ibu montok.

“Permisiiii“ kataku mencoba berbasa basi. Tapi boro boro dijawab selayaknya di tempat berobat yang menganut azas pasien adalah raja. Aku malah disambut dengan suara menggelegar bak petasan betawi ngarak penganten. “BELASAN TAHUN SAYA MIJET, BARU KALI INI ADA YANG BERANI DATENG SAMBIL NGUNYAH RISOLES” huwaaaa ternyata mbak watik ini ga jinak sama sekali ngeliat risoles. Gualaknya minta ampun. Akupun jadi ciut, napsu makanku buat ngabisin sisa risoles yang tinggal setengah menguap sementara. Sementara bukan berarti selamanya.

 

 

Ritual yang terjadi sebelum pijet, adalah ditimbang. Untuk para wanita yang bengkak bengkak oleh lemak, nimbang berat badan pastilah kegiatan yang cukup mengerikan. Tapi aku pastikan menimbang di depan mbak watik rasanya jauh lebih mengerikan dari itu. Dengan suaranya yang double stereo itu, dia ngomongin berat badan kita dengan semangat membara. Dan bisa dipastikan, orang seluruh ruangan bisa denger dengan jelassss berapa berat badan kita. Rasanya mbak watik itu emang kehilangan kemampuan membaca dalam hati. Untunglah kalo dibandingin pasien yang laen aku ga termasuk yang parah parah amat, masi termasuk cukup semok aja hehehe.. jadi pas dibacain berat badan di depan khalayak ramai diriku ga terlalu sakit ati. Tapi beda kejadiannya sama si ibu yang bernasib apes karena berat badannya cuman turun setengah kilo. Mbak watik pun ngamuk ngamuk di depan timbangan, hohoho tentu saja tak lupa dengan suaranya yang double stereo ples sub woofer depan belakang. “KEMAREN DATANG 79 SEKARANG 78,5!!! INI GIMANA INI??? KOK CUMAN TURUN SETENGAH KILO??? NIAT ENGGAK IBU INI MAU KURUSSSS” ngiiieeeekkk… aku langsung menciut lagi. sumpah deh ini cuman mau pijet udah berasa mau diospek ajah. Galaknya ngalah2in Laila Sagita, pemaen sinetron yang spesialis jadi ibu ibu jahat ituh.

 

Pas giliran aku yang ditimbang, mbak watik nanya dengan suara membahana keseantero jagad ruagan “BARU PERTAMA KALI DATANG YA MBAK?”

“iya mbak” aku berusaha menjawab secasual mungkin.

“INGAT YA MBAK, KALO SAMA SAYA YANG SAYA PEGANG ITU ADALAH PERTANGGUNGJAWABAN PERMULUTAN, JADI MBAK SIAP GA KALO 1 MINGGU TURUN MINIMAL 2 KILO???

cihhuuy 1 minggu minimal turun 2 kilo, bagaikan melihat oase di padang pasir, aku melihat secercah harapan. “siaaappp mbak” aku menjawab dengan jantung yang berdebar mesra.

 

Selesai diinjek2 ama mbak watik, doi nanya lagi, “SEKALI LAGI SAYA TANYA, SIAP GA IKUT PROGRAM SAYA??” “siap mbak” kataku bijaksana

“PERTANGGUNGJAWABAN PERMULUTAN LHO YA!!! SEKALI LAGI!!!” bussseeett.. dalem hati aku pikir mungkin sebelum bikin pijet kurus mbak watik ini dulunya pernah sekolah tentara. Dia ngasihin selembar kertas sambil bilang gini “INI JADWAL MAKAN PAGI, SIANG, SORE. 1 MINGGU TURUN 2 KILO!!” Tadinya aku pikir, Asik juga program mbak watik ini, sehari tetep makan tiga kali tapi ternyataaaa menunya adalah sbb:

Makan pagi : Nasi 3 sendok, sayur ples tahu / tempe

Makan siang :Madu 2 sendok makan (AJA!! Hanya Madu Aja huhuhuu)

Makan sore : Nasi 3 sendok, Sayur tanpa santan & kacang, Tahu/ Tempe

Nb: minum air putih sebanyak banyaknya.

Huuhuuuu dengan jadwal & menu makan seperti itu, maka sudah dipastikan kegagalan di depan mata. Injekan kaki mbak watik kayaknya kurang mempan buat menahan nafsu makanku yang membabi buta ini. Sekali dateng ke mabak watik, sekali itu juga aku langsung resign. Mogok ga mau dateng lagi ga menampakkan diri sampe sekarang. Alesannya??? Ya udah jelas laaah.. aku ga kuat hati disemprot dengan suara double stereonya di depan khalayak ramai gara2 Berat Badan yg belum turun sama sekali L

 

Sekarang, sebulan lebih sudah berlalu.. Harapanku mbak watik sudah melupakanku dengan sukses, sehinga dia ga bakalan mempermasalahkan berat badanku yang ga turun turun..Yesss.. Oya, Aku sedang membulatkan tekad nih.. Emm menguatkan hati buat nekat dateng lagi Pijet ke Mbak Watik. Mbak Watik, tunggu aku… Aku akan datang tanpa risoles J

 

Semoga Kali Ini Berhasil!!!

 

July 10, 2008 at 5:55 pm 10 comments

Pilihan pilihan hidup..

Dulu waktu kita kecil, kira kira belasan tahun yang lalu -duh kesannya tua bener diriku, ada yang pernah baca buku petualangan Alice in Wonderland ga si? Tapi yang versi pilihan nya, terbitan nya Gramedia kalo ga salah. Salah satu buku favoritku jaman dulu tuh, ceritanya tentang Alice yang selalu dihadapkan sama pilihan2. Kayak misalnya pas dia tersesat di hutan. Pilihannnya: Alice mau nganterin kucing ato enggak. Kalo mau nganter kucing lanjut ke halaman selanjutnya, tapi kalo gak mau nganterin kucing lompat ke halaman yang laen. Kalo Alice mau nganterin kucing ceritanya begini, tar kalo Alice ga mau nganter kucing ceritanya laen lagi. Dulu, aku terkesan banget ama buku itu. Sekarang, aku keingetan lagi ama buku itu. Hidup juga seperti itu. Kita selalu dihadapkan dengan pilihan pilihan ples konsekuensi2nya yang berbeda.

 

Kalo soal pekerjaan, jodoh, rasanya emang pilihan2 besar untuk hidup. Tapi sadar ga sadar, menurutku, dalam kehidupan sehari hari kita juga di hadapkan dengan buanyaaak sekali pilihan yang bahkan resikonya jarang banget kita pikirin.Liat deh gambar yang ini, gambar ini aku ambil pas aku dalam perjalanan dari Jogja ke Jakarta.

 

 

Yakin banget si bapak ini sebelumnya pasti di hadapkan dengan beberapa pilihan sampai ahirnya memutuskan buat naek motor ga pake helm. Misalnya, kalo kondisinya doi ga punya helm, pilihan pertama; doi mesti nunggu temennya dateng dulu, pinjem helmnya, baru cabut. Resikonya, si doi bapak eh si bapak doi (halah) si bapak itulah pokoknya bakalan telat ato mesti nunggu lama. Pilihan kedua ; Langsung cabut tanpa helm. Resikonya, Keluar duit 30.000 kalo pas apes ketilang polisi yang suka ngumpet di tempat persembunyiannya, atooo yang lebih parah lagi kalo kena kecelakaan, helm itu kan fungsinya buat ngelindungi kepala kita. Yaah knock knock on the wood si, tapi kan tetep aja ada resiko seperti itu..

 

                                                                                                                                                          

Ini juga salah satu gambar yang aku ambil pas aku dalam perjalanan ke Jakarta kemaren.

 

Kalo yang ini, menurut kamu kenapa kedua bapak ini nekat memilih untuk duduk diatas tumpukan bawang yang setinggi itu. Apa ga kebayang kalo resikonya bisa ngebahayain nyawa mereka sendiri. Mungkin, mereka memilih itu karena terpaksa, maksudnya karena memang ga ada pilihan pekerjaan laen yang lebih layak dan lebih aman untuk mereka. Tapi kalo seandainya kita melihat jaaauuuh kebelakang, bisa jadi sebenernya mereka punya kesempatan untuk bisa hidup lebih baik. Misalnya, ketika mereka SMP, mungkin mereka memang benar2 dihadapkan pilihan untuk berhenti sekolah. Alasannya cukup jelas, ga ada biaya. Tapi lalu apa? apakah pilihan berhenti sampai disitu? tentu saja enggak, bagaimana mereka menjalani dan memaknai hidup selanjutnyalah yang menentukan apa dan bagaimana mereka sekarang. Buktinya, aku tau seorang bapak yang bahkan ga sempet lulus SD, tapi sukses merintis usaha satenya dari nol sampe ahirnya sekarang bisa beli CRV segala, huhuhuuw my dream car L Ternyata hidup emang tentang pilihan ya.. Mau jadi apa dan gimana kita, kita sendiri yang nentuin, kita yang memilih..

 

Terkadang memilih itu menjadi terasa berat karena ketika kita memilih, maka kita pun harus siap menanggung resiko dan konsekuensi atas pilihan kita. Misalnya resiko menjadi seorang geologist ples bapak gress kayak abang ku ini. Harus siap ditugasin di tempat terpencil, bahkan terpisah dari keluarga.

 

 Ini fotonya.

 

 

Yang masi bayi cantik itu, keponakan ku yang baru di lauching tanggal 19 Juni kemaren hehehe.. Namanya Fayqa Khairunnisa Putri Irwansyah. Panjang ya bo’ namanyaJ Irwansyah itu abangku, aku manggil dia Kak iwan. Nah yang Jilbaban itu Mbak nadia, istrinya. Dengan lahirnya Fayqa, maka secara resmi akupun jadi Tante dari 4 keponakan perempuan yang centil centil. Alhamdulillah J

 

Baru hepi hepinya jadi bapak baru, belum lagi puas nggendong dan meluk Fayqa, kak iwan kepaksa harus terpisah dari istri dan anak. Aku aja yang ngeliat sedih, apalagi yang ngejalanin ya.. Ga bisa ngeliat setiap hari, ga bisa ndengerin tangisannya.. pasti kangen banget.. Tapi ya begitu lah, sebagai seorang geologist, kak iwan mesti kerja lapangan di Sorowako, Sulawesi. Karena untuk membawa serta istri dan anaknya kesana masi terlalu kecil, Jadi ya… begitulah, tinggal terpisah untuk sementara adalah pilihan yang harus dijalani. Semoga mereka kuat dan bersabar ya J

 

Apa yang kita jalani sekarang, hasilnya bisa jadi ga langsung kita tuai sekarang juga, mungkin beberapa taun lagi. Begitu juga sebaliknya, apa yang kita tuai sekarang, mungkin adalah hasil dari pilihan kita beberapa tahun yang lalu. Oiya, dan tanpa kita sadari apa yang menjadi pilihan kita juga bisa berimbas pada orang lain, terutama pada orang yang kita sayangi. Mungkin, kalau pada saat itu ayahku ga mengambil pilihan untuk keluar dari pulau sumatra dan merintis karier di Jawa, belum tentu aku bisa sekolah seperti sekarang, mengetik di laptop dan berbagi cerita di blog seperti sekarang.

 

Fiiiuhh betapa hidup tidak pernah membiarkan kita untuk berhenti memilih. Kalo aku sih, memilih untuk mencintai hidup.. Apapun pilihanku.. Apapun konsekuensi yang harus aku jalanin..

 

 

  Luv,

July 8, 2008 at 12:18 pm 13 comments


warna-warniku

yang menghampiri

  • 41,266 pasang kaki