Archive for August, 2008

Hey,

Maaf sekali..

Aku sedang tak punya waktu untuk sedih..

Apalagi ruang untuk marah..

Aku sedang sibuk..

menunggu pelangi 🙂

Advertisements

August 21, 2008 at 5:53 pm 15 comments

Apa artinya..

Setiap tetes gerimis yang menyejukkan..

Setiap pagi yang mengalirkan pengharapan..

Dan malam tanpa kata yang terasa begitu panjang..

Andai saja itu bisa disebut cinta..

Kenapa aku tak juga mengerti caramu mencintaiku..

August 21, 2008 at 3:14 am 5 comments

Cerita dari ibu yang bahkan lupa aku tanya namanya =’)

Cuaca di Jogja memang sedang tidak bersahabat.. Malahan Hepatitis A lagi ngetrend.. alhamdulillah, di keluargaku ga ada yang kena.. Tapi sakit demam, pilek, batuk dan puyeng2 berasa digilir menerpa kami satu persatu.. Mulai dari aku, trus Arla keponakanku, trus mbak Umi, trus mbak Ida trus yang terahir ini mas Edo. Kalo Cak Sari laen lagi penyakitnya, matanya merah tapi bukan belekan bukan bintitan.. Betapa manusia selalu di uji dengan rasa sakit ya;)

Pelajaran yang aku dapat hari ini.. Jangan pernah lupa melihat kebawah.. selalu ada yang lebih sakit dari kita.. lebih susah dari kita.. Btw, Tuhan terima kasih ya untuk hari ini. Sudah mengingatkanku agar selalu bersyukur untuk hidupku..:)

Hari ini suhu badan mas Edo belum juga turun. Mata cak sari juga masih merah.. Sepasang suami istri itu merasa perlu ke dokter, aku juga merasa sebaiknya ikutan mengantar.. Lalu kami sekeluarga pun memutuskan piknik sejenak di rumah sakit Panti Rapih untuk periksa bersama.. oh kami memang sungguh kompak;)

Duduk manis di ruang tunggu, aku bersebelahan dengan seorang ibu berjilbab lebar, nyaris menutup lututnya. Ibu itu terlihat sangat sederhana. Disebelahnya anaknya yang berusia kira-kira 3 tahun bersender di bahunya.. rebahan.. Di dekapnya anak itu dengan sebelah tangannya.. Ibu yang berjilab lebar itu menyapaku..
“ajeng mreksakke sinten mbak?” tanyanya sambil tersenyum ramah.. Aku ga terlau ngerti bahasa jawa halus.. tapi untuk menjawab pertanyaan ibu itu, rasanya aku tau..
“kakak saya bu..sakit” aku ikutan tersenyum..sejujurnya agak segen berlama lama bicara dengan bahasa jawa, aku takut salah.. tapi mungkin rasa penasaran ibu itu sudah tak terbendung lagi, lalu dia bertanya lagi “Mbak, bade taken, mreksakke teng riki awis mboten nggih mbak?” hummm… aku berpikir cukup lama untuk mencerna pertanyaan ibu itu, tapi tetep ga ngerti juga apa arti kata awis dalam bahasa indonesia.. Jadi aku putuskan buat bertanya sama Mas Edo yang orang Jawa asli.. Ternyata maksud pertanyaan ibu tadi adalah, “mbak mau tanya, mriksain disini mahal ga ya mbak?” karena aku ga bisa menjawab dengan bahasa jawa, aku putuskan untuk menjawab dengan bahasa indonesia.. dengan berusaha sehalus mengkin tentu saja.
”umm.. mungkin tergantung sakit apa ya bu.. kalo sakit nya ga terlalu parah, mungkin ga terlalu mahal..” rasanya ibu itu mulai mengerti aku ga terlau paham bahasa jawa halus.. dia mulai menggunkan bahasa indonesia nya yang kental berlogat jawa..
“kalo sakit seperti anak saya ini.. kira2 berapa ya mbak” “saya takut kalau disini bayarnya lebih mahal..”
Bukan hanya karena aku ga punya background sekolah kedokteran yang membuatku seperti kehabisan nafas dan terdiam beberapa saat. Bukan juga karena aku sesungguhnya bener2 ga ngerti berapa habisnya biaya pengobatan anak ibu itu.. Tapi karena aku ga sanggup ngeliat mata anak ibu itu.. Mata kanannya ga bisa dibuka.. Bengkak besar sekali.. nyaris sebesar tangan kecilnya yang mengepal.. Sediiih banget ngeliatnya.. tapi aku tetap berusaha bicara dengan nada senormal mungkin..
”maaf bu.. saya kurang tahu itu berapa habisnya.. mungkin tergantung obat nya juga ya.. Sebelumnya anak ibu sudah pernah diperiksa dokter?” aku sungguh ingin tahu, bagaimana ceritanya mata adik kecil itu tiba2 jadi sebesar itu..
“sudah mbak.. sudah saya bawa ke dokter puskesmas di Bantul. tapi katanya dokter disana sudah nggak bisa nyembuhin lagi. Ga ada alatnya.. harus dioperasi.. padahal saya sudah habis banyak mbak.. mahaaal sekali mbak..” ibu itu diam sebentar.. “sudah habis empat puluh satu ribu mbak”

Ya allaaah rasanya jantungku nyaris berhenti berdetak.. Mataku mulai panas.. Bukan hanya karena aku tahu Cak Sari harus mengeluarkan uang sebesar tujuh puluh ribu rupiah hanya untuk mengobati mata merahnya, jumlah yang pasti jauh lebih kecil dibanding biaya pengobatan untuk anak ibu yang harus operasi. Tapi sejujurnya, karena aku juga marah dengan diriku sendiri.. Menghabiskan hasil ngeMCku yang entah berapa kali lipat biaya pengobatan anak ibu itu di puskesmas, sementara ibu itu masi terpaksa mengakui empat puluh satu ribu adalah angka yang dirasa mahal sekalipun itu untuk biaya pengobatan anak kesayangannya.. Aku jelas marah sekali.. Bukan pada ibu itu, tapi pada pada diriku sendiri, untuk barang2 yang sudah terlanjur terbeli. Yang tentu saja ga ada penting2nya sama sekali dibandingkan dengan pengobatan untuk anak ibu itu..

Ya allaaah… betapa kau sudah menyentuhku dengan caramu yang sempurna…

Rasanya ga ada apa2nya permasalahan cintaku, kuliahku, kerjaanku, sakit demamnya dek Arla, sakit demamnya mas edo, sakit matanya cak sari.. Kali ini kami sudah melihat kebawah… Dan lautan syukur kupanjatkan untuk Tuhanku yang baik hati..

Kutitipkan lembaranku yang tersisa di dompet pada suster di Panti Rapih.. Jangan diliat dari berapa jumlahnya ya bu.. Anggap saja itu ungkapan rasa terimakasih saya karena ibu mengajarkan hal besar pada saya siang ini. Tepat di hari saat bangsa ini merayakan kemerdekaannya yang ke 63.. Ya allah, tolong kasihi bangsa kami ya.. agar suatu saat nanti kami benar2 merasakan kemerdekaan, lahir batin 😉

August 17, 2008 at 11:30 am 10 comments

Nama Indonesia

Sebagai salah satu perempuan yang berusaha memupuk jiwa nasionalist menjelang HUT RI ke 63 rasanya ga cukup sekedar masang bendera kecil di mobil, nganter ponakan ikut lomba lomba di kinderstationnya, bikin insert 17an di radion, bikin quiz 17an di radio yang berhadiah merchandise limited edition dari geronimo (hahahha hadiahnya terdengar mengada ada yak).. Sekarang, aku mau sedikit berbagi cerita tentang Indonesia lah di blog.. Emm.. aku bukan orang yang gandrung ama sejarah si.. (Malah banyak lupanya) Trus aku manut manut aja sama apa yang dibilang di buku PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) Kalo dibilang Soeharto yang mimpin agresi militer.. Ya wes, soeharto aja.. ga pernah ambil pusing.. yang penting pas jawab soal pas Ujian ga salah aja.. kalopun itu jadi kontroversi, ya sabar aja nunggu asil ahirnya.. Humm, rasanya memang aku ini rasa ingin tahuku kurang sekali untuk urusan sejarah… Tapi untuk hal2 kecil aku malah lebih pengen tau.. kayak misalnya berapa jumlah rambut yang ada dikepala, cerita tentang air terjun niagara yang disuatu hari pernah berhenti mengalir, siput yang hobi tidurnya ngalah2in kebo karena ternyata bisa tidur selama 3 tahun.. hehhe yang gitu gitu deh… Nah.. kapan gt aku pernah kepikiran juga.. Gimana si proses penamaan Indonesia untuk negara ini.. tapi trus kayanya karena hubunganku dengan guru sejarah semasa SMP dan SMA ga terlalu syahdu dan harmonis, makanya kalo pertanyaan yang ga kontekstual dengan kurikulum segen juga nanyainnya…Setelah pertanyaan itu mengendap dan terbangkitkan kembali dengan moment 17-an.. Maka kuputuskan buat mencari tau (yang uda tau duluan, usaha ku jangan di Huuuuw yaaa :p

Thanks to bang google, dan dj wiki, wikipedia maksudnya hehehe.. aku pun segera googling dan aku menemukan cerita tentang proses penamaan Indonesia..

Ini ringkasan ceritanya ya..

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA. Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.

Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:

“… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians”.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:

“Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago”.

Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiër (orang Indonesia).

Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda”. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, lahirlah Republik Indonesia.

Source:

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7e/Animated-Flag-Indonesia.gif/120px-Animated-Flag-Indonesia.gif

http://www.heartbeatstation.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=165

http://www.baladika.info/2007/08/19/

Yeee.. panjang bener postinganku ini.. Semoga bisa nambah pengetahuan kita tentang negeri ini deh… kalo ada info info laen tambahin di comment aja yaaah.. 🙂

Satu hati untuk Merdeka!!

August 16, 2008 at 2:15 am 7 comments

saat dinihari..

Hai.. apa kabar? Aku ingin bercerita.. penuh sekali rasanya.. perlu berbagi.. 🙂 ngomong2, terima kasih untuk selalu punya waktu untukku ya 🙂

Aku ingin bertanya, penasaran.. Sebenernya kenapa si ukuran besar dan kecil itu selalu relative.. bukankah Kau bisa membuat takaran pastinya.. Agar yang besar untuk ku besar pula baginya. Dan yang kecil untukku juga kecil baginya.. Sejujurnya, aku lelah dengan perasaanku.. Membunuh rasa bersalah karena memikirkan sesuatu yang besar menurutku, tapi aku sadari kecil sekali artinya untuk dia..

Lalu bagaimana bila kecintaanku yang besar ini masih saja selalu kecil dimatanya, begitu juga sebaliknya.. Hei, aku tidak membingungkanmu kan.. Kau pasti tau maksudku.. Aku kesal sekali.. kau tau itu.. Aku kesal dengan perasaanku yang enggan mati juga mesti kubunuh berulang kali.. Upsss maaf, kau melarangku untuk membunuh.. Tapi jika tidak kubunuh, aku akan menyakiti perasaanku.. Aku harus bagaimana.. Seorang teman baik berkata, yang bisa melindungi hatiku ya diriku sendiri.. aku percaya temanku berkata benar 🙂

Kau ini misterius sekali.. Segalanya kau rahasiakan.. tidak, aku tidak menyalahkanmu.. Lagi pula rasanya tidak ada yang perlu kau bocorkan padaku.. Aku mengerti kau inginkan aku menjalani ini.. tapi bila rasa sakit nya berkepanjangan, tidak bolehkah aku mendapatkan sedikit saja clue tentang haridepan;) huhuuuw kau pasti sedang menyumpahiku yang tiba2 menjadi tidak bernyali.. Tapi rasanya menyebalkan sekali nih.. aku ingin cuti sebentar 🙂

Hey bukankah kau tahu segalanya.. Tidak bisakah aku bertanya arti nya diriku untuknya.. Hemm, apa? kenapa aku bertanya padamu? Coz I really have no clue.. Aku tidak bisa mengira-ira aku ini apa dan siapa untuknya.. maksudku, aku takut salah tebak.. Bertanya padanya? rasanya selalu saja aku ini tidak pernah benar.. Dia terlalu pintar.. Dan kau taukan aku tidak sepintar dia.. Itu benar, Aku sedih aku tidak sepintar dia.. aku sedih aku bukan teman bicara yang berimbang.. Lagipula dia sedang sibuk sekali.. Dalam sehari, kau hanya memberi jatah waktu 24 jam untuk kami.. Untuk ku si cukup.. tapi kan tidak untuknya.. Tidak bisakah kau memberikan perpanjangan waktu 2 menit saja untuknya.. Itu loh seperti di pertandingan sepak bola.. aku harap, dia jadi ada sedikit saja waktu untuk mengingatku.. Tidak bisa? Perpanjangan waktu? Huhuuw kau ini… lalu kapan dia akan mengingatku.. lagi lagi aku merasa bukan apa apa.. Aku mulai mengesalkanmu ya.. aku terlalu banyak mengeluh ya.. maap😦 Kau pasti benci dengan sikap melankolik ku ini..

Habisnya aku bingung.. mau bagaimana lagi.. kalau memang aku ini berarti untuknya, kenapa aku tidak merasa begitu.. Apa yang salah dengan ku? Ya sudahlah, Aku hanya butuh jawabanmu saja.. beri aku tanda ya..

kenapa lagi? Ini sudah dini hari, aku harus segera pulang.. Cepatlah.. apa yang ingin kau tanyakan? Oh itu, Tentu saja aku ingin menjadi yang berarti untuknya.. kau tau sekali betapa dia berarti untukku.. Apa lagi? Oh, Iya iya.. aku tau resikonya, namanya juga jatuh ya pasti ada sakitnya lah 🙂 Tenang saja, Kalau memang aku tidak seberati itu, aku mengerti.. maksudku, aku akan berusaha mengerti.. Umm.. Aku akan belajar mengerti.. tapi sudahlah, aku hanya butuh jawabanmu.. Jadi sekali lagi, Beri aku tanda ya.. aku tunggu 🙂

Benar benar sudah dini hari, really have to go.. Pasienmu yang lain menanti..

Aku menyayangimu.. Selalu 🙂

August 14, 2008 at 7:03 pm 10 comments

pembicaraan kami di telp..

Mama   : Hallo.. assalamualaikum..
Aku       : Waalaikumsalam..
Mama   : Nak apa kabarnya kamu ini nak? Ga pernah ada kabarnya..
Aku       : Baek mahhh.. Iya nih mah lagi sibuk hehehe.. semalem aku nginep tempat kak cik..
Mama   : Mamah kirim kering kentang ama roti Meranti uda nyampe?
Aku       : Iya kering kentangnya uda tinggal dikit.. aku ama Arla suka banget.. makannya ga brenti brenti..
Mama   : Dek Arlamu gimana? Cak sari mu nangis tadi telp mamah, katanya Arla panas.
Aku       : Katanya tadi lagi mau ke dokter lagi mah.. tapi belum aku telp lagi..
ntar deh aku  telp lagi..
Mama   : Iya ya nanti mamah dikabarin lagi ya.. abis susah sekali di telp kamu itu.. suka erot telp mentari kita ini ya
Aku       : hehehe mak erot kali.. eror mah..
Mama   : hahaha iya iya mak eror..
Aku       :
………

Waduh waduhh mamahku itu lucu sekali..

Kangen mamaaah.. Sayang mamah.. 🙂

 

 

 

 

 

 

 

August 12, 2008 at 5:47 am 3 comments

Studio (baca:presenter) yang aneh..

Untuk beberapa alasan tertentu, selama ini di blog aku tidak pernah menceritakan beberapa pengalaman ku siaran di Jogja TV. Tapi kali ini daku tak tahaaaannnn.. hasrat bercerita tingkat tinggi sungguh tak terelakkan.. Oh Maapkan aku Jogja TV.. Mohon doa restu..

Merintis karier (ciieeeeeh) di bulan mei 2007, sepertinya adalah tonggak dari sebuah kesalahan dgn mendelegasikan ku menjadi presenter acara talkshow untuk kecantikan. Hehehe.. biasanya kalo siaran radio muka masi beleran.. pake baju ga matching bak umbul2 menyambut 17-an pun daku cuek saja.. Tapi untuk sebuah program TV local yang berbau kecantikan (meskipun yang nonton mungkin cuman secara ga sengaja doang krn kebetulan channelnya kepencet) yaahh daku cukup tau diri lah.. Di make up-in tebel kayak nyai ronggeng mau pentas pun aku terima dengan lapang dada.. meskipun kebiasaan jarang mandi-ku itu suliiit sekali untuk ditinggalkan..

Sebenernya, alasan utama kenapa aku males banget cerita kalo aku siaran di TV juga itu adalah karena aku pualiiing males kalo ada yang liat.
1. karena biasanya kalo tau ada yang nonton aku jadi suka salting dan bakat banci tampil mengalami degradesi luar biasa.
2. Karena aku masih aja kesulitan menghindari kebodohan2 mengejutkan..

Buat aku, siaran di Jogja TV dengan kondisi crew yang hip hip hore itu cukup melelahkan batin.. Suka perhatiin ga si, kalo presenter TV udah terlanjur present iklan ato liputan tapi tayangan nya belum muncul2 juga, kadang2 itu cukup membuat presenter mati gaya. yaah apalagi untuk seorang presenter TV yang masih kelas amatir seperti daku ;p Kejadian dooong, udah terlanjur bilang jangan kemana mana pemirsa, kami akan kembali setelah pesan2 berikut ini”eh tapi iklaaannya ga nongol nongol.. Sudah kusunggingkan senyum terindah yang nyaris kayak orang kebelet. eh iklannya ga muncul2 juga bo 😦 karena ga tahan nyengir kelamaan, sambil tetap dengan senyum tersungging aku menggumam yang kuprediksi terdengar lirih.. “cepetan mas” eh sialnyaaa ternyata clip on masi ON.. hehehe maka berkumandanglah suara tertahanku di TV. apess…

Belum lagi kalo pas presenter yang juga manusia biasa ini agak nge-hang, waaah waah aku bisa seperti alih profesi menjadi cenayang.. (tanpa bermaksud mengurangi market share Ki joko bodo.. ampuun Ki..) Jadi gini, di program acara talkshow yang aku bawain itu, kita kan terima telp tu, nah walopun di prompter uda tertulis nama penelp dan alamatnya (misalnya Rani di Terban) tapi tetep aja kita acting ciamik dengan menanyakan nama dan alamatnya agar terdengar natural. misalnya, “halo dengan siapa ini ibu? oh bu Rani.. Bu Rani di mana bu?” ya begitulaah.. Pokoknya diucapkan dengan gaya yang sok anggun. nah karena ketika itu emang daya konsentrasiku memang sedang menurun teman teman, sehingga prosedur menanyakan penelepon interaktif itu pun langsung berubah menjadi ” Halo dengan ibu Rani ini bu?” hehehe.. itu kalo ada yang liat pasti bingung.. sebenernya siapa yang nelpon siapa sih.. berasa dukun deh langsung tau nama yang nelpon ;p Menyadari kebodohanku, gaya sok cool, jaim, anggun yang sudah ku bangunpun langsung hancur.. karena aku ga bisa nahan ketawa.. Lah tapi ternyata itu belum seberapa tauk.. ada yang lebih parah…

Hari Sabtu kemaren itu, aku disuruh gantiin presenter yang ga bisa dateng.. Di acara talkshow kecantikan itu lagi (padahal mestinya aku uda pegang program laen). Bukan karena cuman jadi presenter pengganti ya kalo sore itu aku ga mandi dari pagi.. tapi karena rasanya emang aku ga kotor2 banget.. ga gatel gatel.. ga terlalu lengket juga juga kok.. hehehe sumpah deh aku juga ga mengidap penyakit kulit apapun ;p
Oya, kondisi studio di Jogja TV itu emang agak ajaib.. mirip taman bunga kalo aku bilang.. Jadi ceritanya, pas itu narasumber sedang menerangkan tentang penggunaan shampoo yang cocok untuk kulit berminyak (yaah namanya juga acara kecantikan bo ;P ) lagi enak2 nerangin tiba2 ada burung kecil gt terbang di depan kita.. dan mejeng dengan indahnya di samping kursiku.. otomatis doong aku melotot.. di studio gt lohhh bisa2nya ada burung.. aku si cuek aja pasang tampang melotot, secara muka si ibu narasumber yang sedang menguasai kamera. Eh tapi setelah kejadian si burung lewat, ga lama kemudian ada lalet menyambangi jidatku..sial beneeerrr.. karena muka ku ga ada di kamera, akupun menyibukkan diri ngusir lalet.. duuh jangaaan sampe pas lagi ngomong di kamera muka ku di lalerin.. dalem hati, aku juga bertanya tanya si.. jangan2 gara2 seharian belum mandi yak hehehe.. tapi untunglah lalet itu segera berpaling dariku.. yesss…

Tapi sayangnya nasib baik tidak sedang menyertai ibu narasumber yang bicara tentang shampoo itu.. si lalet yang berhasil aku usir dari jidatku yang bak porselen ini, malah pindah menclok di atas alis si ibu narasumber.. Dan tampaknya ibu narasumber itupun mulai kehilangan konsentrasi menerangkan shampoo.. Dia nerangin shampoo sambil sibuk ngusir lalet.. Dan sialnya, tu lalet bukan nya sadar diusir ama yang punya alis.. eh si lalet malah kayak berasa dirumahnya sendiri.. nyantai banget doi, nongkrong manis gak gerak2.. alhasil di kamera, si ibu narasumber jadi kayak punya tambahan tai lalet di atas alis.. hehehe… untung di atas alis bukan diatas kumis.. coba kalo diatas kumis bisa dikira lagi interview ama Rano karno.. sumpah deeeh… kejadiannya kocaaak beraaaat.. ga nahan bangett aku.. ketawalah aku ngakak.. huwahaahaa parahnya si ibu narasumber uda selesai nerangin, dan malang menimpaku teman teman, kamerapun sedang menyorot mukaku yang berubah jadi pink karena ga nahan ketawa.. aku bilang no telpon interaktip aja ampe muncrat.. duuh duuhh jorok bangett.. yakin banget ga bakalan disuruh gantiin acara presenter acara kecantikan lagi.. maapkan aku pemirsa.. maapkan aku ibu narasumber shampoo.. piss yooow..

Pesen studio satu, ga pake burung.. apalagi lalet 😦

August 12, 2008 at 2:24 am 9 comments

Older Posts


warna-warniku

yang menghampiri

  • 41,266 pasang kaki