Archive for September, 2008

Indahnya bebagi

Adalah kebahagiaan yang luar biasa sekali ketika kita bisa membahagiakan orang laen. Susah si ngejelasin gimana pol2an puasnya ketika kita bisa bikin orang laen seneng. Harus dicobain sendiri, dirasain sendiri. Kemaren, bareng2 sama anak2 Geronimo, kami buka bersama bareng sama adek2 dari Panti Asuhan Bina Insani. Selaen berasa balik lagi kayak pas jaman KKN, pengalaman kemaren bener2 ngingetin kami untuk bisa lebih bersyukur.

 

Sore itu kami membagikan hadiah2 kecil yang kami persiapkan dari rumah. Ya ya, bener2 kayak KKN, siapa yang bisa jawab pertanyaan dapet hadiah dari kakak2 Geronimo. Aku harus memutar otak, mengerahkan daya ingatku yang mulai melemah tentang pengetahuan dasar agama, mulai dari rukun islam, rukun iman, tugas2 malaikat sampe kapan tanggal kelahiran nabi Muhammad. Malu deh, ternyata adek2 kecil itu bisa berebut menjawab pertanyaan kami, dengan benar pula. Hepi. Ya mereka, ya kami.

 

Selama ini mungkin kita terlalu sibuk dengan masalah kita sendiri, dengan rasa marah dan sedih yang rasanya sudah cukup membuat kita tenggelam dalam kesibukan sehari-hari. Sore kemaren,  rasanya saya seperti diingetin lagi, sombong banget deh aku selama ini. Udah sok ngerasa yang paling sedih, sok paling susah, sok paling marah. Trus apa? Sok ngerasa perlu ada permakluman untuk segala hal yang bikin qualitas & produktivitas hidup menurun.. Padahal masalah nya cuman segitu doang hehehe.. Coba deh bandingin ama adek2 dari panti asuhan kemaren..

 

Ga ada bapak, ga ada ibu, umurnya baru 4 tahun, bahkan ada yang lebih kecil lagi.. Ga banyak pilihan sekolah untuk mereka, sebatas apa yang yayasan mampu berikan itu yang mereka jalanin. Hiks, malunya.. aku yang bisa memilih pendidikan yang aku mau malah belum bisa memaksimalkan itu. Kemaren pas ditanya sama ustadzah Evi, “adik adik uda beli baju baru bwt lebaran belum?” mereka teriak kompakan, “beluuuuummm”. Herannya mereka bisa bilang belum sambil ketawa ketawa, bahkan ada yang bercanda, “ya belum-lah, masak ya belum-dong, durean aja dibelah bukan di bedong” (humm, ternyata emang menggubah bahasa Indonesia itu selalu saja happening. ampunnnn deh :p ) Ya begitulah, Nyatanya mereka toh masih bisa ketawa tawa. Menertawakan kesedihan yang sudah jadi bagian dari keseharian mereka. Humm, seandainya aku juga bisa seperti mereka yang besahabat dengan kesedihan, pasti aku akan jadi santi yang lebih berani dari santi yang sekarang ketika menghadapi masalah..

 

 

Sesuatu yang kita rasa kecil, bisa berarti besar untuk orang lain. Terharu banget ngeliat niat baik kita bisa diterima dengan luar biasa baik. Ketika kami memutuskan buat ngasi souvenir yang berisi tas dan tempat minum, niat nya cuman buat nyenengin mereka. Titik. Itu aja. Tapi rasanya setelah ngeliat adek adek itu seneng, ga tau deh siapa yang lebih seneng. Kami atau mereka. Sebelum kami pulang, ga sengaja aku melihat gadis kecil yang berusia 3 tahun menerima souvenir pemberian kami. Diam diam, dibelainya souvenir pemberian kami. Di cium, lalu dimasukkan kedalam tasnya souvenirnya. Wajahnya penuh haru. Entahlah, sebenarnya Siapa yang lebih terharu, adek adek kecil itu atau kami. Yang jelas rasanya nikmat banget melihat mereka bahagia. Keindahan yang berpuluh kali lipat rasanya dari yang mampu aku ceritakan lewat tulisan. Alhamdulillah…

 

Semoga setiap cerita yang aku tuturkan dengan ikhlas tidak lantas membuatku riya ya. Astaghfirullah.. (anw, makasi ya buat seorang sahabat hati yang mengajarkan buat sering mengucap istighfar 🙂

Advertisements

September 26, 2008 at 9:55 pm 3 comments

Ketika aku menghawatirkanmu,

Terasa pahit sampai di tenggorokanku..

Bukan itu saja,

Terasa panas pula mataku..

Sesak jantungku..

 

Sudahlah, aku tak mampu menulis lagi,

Habis sudah kata-kata melukiskan gelisahku..

Lemas jemariku..

 

Kirimi aku smsmu secepatnya..

Sebelum merah langit pagi ini,

Pecah oleh tangisanku..

September 26, 2008 at 9:52 pm 8 comments

Ketika kamu tidak mengangkat telponku..

Ingin sekali aku mengusir pikiran burukku..

 

Bahwa kau tidak sedang punya cukup waktu untuk mengingatku..Bahwa cerita tentang hujan pagi ini sungguh sudah membuatmu mati kebosanan. Apa benar aku semembosankan itu? Atau pertanyaanku tentang apa yang kau lakukan disana mengganggumu? Bahkan tak semenitpun kau punya waktu untuk meninggalkan tumpukan pekerjan, sekedar menceritakan kesibukanmu dan memberiku kesempatan menyemangatimu dari jauh.

 

Ketika kamu tidak mengangkat telponku..

Dimana kamu? Sedang tenggelam dalam obrolan hangat bersama perempuan yang jauh lebih menarik dariku? Mungkin aku memang sudah tidak lagi menarik, Tapi tidak tahukah kamu aku menunggu mu di daratan hingga terbakar kulitku.. Hanya untuk menanyakan kabarmu..

Ketika kamu tidak mengangkat telponku..

Apa yang kau rasakan? Kepedihan yang menghunus nadi? Kesepian yang membuat airmatamu kering? Kenapa tidak kau ceritakan padaku.. Kalau saja kau beri dirimu kesempatan untuk mengatakan kau ingin menikmati kesedihan seorang diri. Aku sungguh tak akan mengganggu..

 

Tapi kenapa tak juga kau angkat telponku..

Sejujurnya, aku mengkhawatirkanmu.. Biasanya kau memang suka tertidur terlalu puas hingga susah terbangun oleh dering telpon.. Tapi kenapa kamu bisa tertidur sepulas itu? Kamu tidak sakit kan? Maksudku kamu tidak sedang demam tinggi atau pusing atau apalah.. Apa karena aku bukan dokter yang mampu menyembuhkanmu lalu kau malas mengangkat telponku.. Semalam kamu bilang, merasa mual dan ingin cepat tidur.. Jangan2 kamu benar2 sakit.. Air mataku mulai tergenang, nyaris terjatuh.. Kenapa tak bilang kalau kau benar sedang sakit.. kenapa kau tak memberiku kesempatan, untuk merasa menjadi perempuan yang paling berarti dengan mengirimkan doa kesembuhanmu.. Aku selalu sakit jika kau sakit..

 

Kenapa tak juga kau angkat telponku..

Sekarang giliran aku yang kau buat sakit.. Sakit karena tidak mendengar jawaban suaramu untuk pertanyaanku.. Sakit karena menghawatirkanmu.. Malam ini bantalku basah..

 

Sementara dia tak juga sedikitpun mengalihkan konsentrasinya dari depan laptop, PDA-nya berkedip kedip, tak ada suara. Hanya bergetar dan berpendar sebuah nama. Terlupakan.Tergeletak di sudut belakang bawah jok mobil.

137 missed call.

September 15, 2008 at 3:03 pm 18 comments

Bestfriend Forever

Memasuki usia seperempat abad, rasanya memang tidak semeriah ketika aku menyambut sweet seventeen. Malahan beban rasanya semakin berat saja. Entah itu tentang tujuan hidup, relationship, pekerjaan, arrrrgghh mendadak pusing nih rasanya hehe.. Banyak hal yang berubah, terutama dalam soal memahami relationship, entah itu dengan pacar atopun dengan teman. Diumurku yang sekarang ini, adalah bukan hal yang sulit untuk menerima bahwa dalam hubunganpun selalu ada masanya. Kapan ketika hubungan itu dirasa masi fresh dan membuat addicted, kapan ketika mulai bosan, bahkan ketika memasuki fase expired. Aku meyakini sekali, bahwa dalam bertemanpun sama seperti pacaran, awalnya meledak2, serrrru banget. Tapi trus kadang juga ada masa expirednya, mau dipaksain gimanapun juga susah, feel nya uda ga dapet, ga ada chemistry orang bilang. Tapi inilah hebatnya pertemanan manusia dewasa, bisa sama2 memahami bahwa gimanapun teman akan ada saat kita butuh, saat kita sedih. Untuk berbagi kebahagiaan mungkin emang lebih mudah, tapi untuk berbagi kesedihan? Hanya dengan orang2 tertentu kan..

 

Bersahabat adalah tentang chemistry.. Tentang rasa yang susah terdefinisi.. Hilang, pergi, datang berganti.. Tapi satu hal, kita bisa selalu datang tanpa segan.. Entah kenapa rasanya mereka selalu ada.. J

 

Aku dan Ian mungkin salah satunya. Dulu saat kami masi satu radio, kami jarang banget jalan bareng, aku bahkan melihatnya seperti dia yang selalu membawa spanduk “jangan membangunkan harimau tidur” –secara dia senior banget gt loh- Yah karena teman teman dekat kami menghilang satu persatu meninggalkan jogja, ahirnya tak ada pilihan lain. Berteman atau bosan. Hehehe..

 

Kami tidak intens nonton bareng dan hahahihi ngerumpi di coffee shop, tapi antah berantah tanpa schedule, sesekali aku menelponnya dan mengajaknya pergi atau sebaliknya. Tapi seperti yang aku bilang tadi kami selalu bisa datang tanpa segan.. Sepeti aku yang mungkin menelpon dia atau suaminya berjam2 saat jam kantor hanya untuk menceritakan kisah cintaku yang seperti telenovela ga pernah tamat 😛

 

Atau saat Ian menelponku pagi sekali dengan nafasnya yang tanpa birama sama sekali. Sungguh membuatku shock yan L Cara yang tepat membuatku melek dan kelimpungan. Mandi ga lebih dari 5 menit dan langsung mengantarmu ke rumah sakit. Pagi itu, ternyata tidak kulihat lagi wanita Independent yang cerdas. Tapi wanita luar biasa yang berjuang melawan sakitnya. Aku terharu sekali loh, aku lupa bilang ya.. Dengan nafas tersisa yang membuatmu menagis itu, kamu selalu membisikkan doa bahwa kamu masi ingin bertemu anakmu.. ”ya allah, ijinkan aku bertemu anakku dulu ya allah” gitu kan yan doa mu? Ternyata sekuat dan sehebat apapun dirimu, tetep aja status terpenting dalam hidupmu adalah menjadi seorang ibu. kalo aku ga harus jadi  satu2 nya manusia yang tersisa di mobil dan terjebak jadi sopir pasti aku uda milih untuk nagis di pinggir jalan. Terharu..

 

Entah kenapa aku ini beberapa kali berpengalaman jadi supir pasien emergency, tapi pengalamanku mengantar Ian ke Rumah Sakit sungguh unforgettable hehehe.. Untunglah, kita ini 2 wanita yang berbeda karakter.. Kalo aja kita kompakan cepet emosi, bisa bisa dokter cewek spesialis penyakit dalam yang galak dan nyebelin itu uda kita cincang cincang buat sop menu buka puasa hari ini. Sedikit mengeluh tentang pelayanan UGD nya rumah sakit umum ya.. Karena sebelum kita ke RSU kita ke RS swasta dulu jadi kerasa banget beda pelayanannya. Mulai dari pengisian form pasien di RSU yang njlimet, ampe nama orang tua pasien (laki dan perempuan) aja ditanyain. Hallooo.. maksudku bisa ga kalo ngobrolin yang begituan ntar2 aja, ni pasien uda sekarat ni.. Sama satu lagi, di RS umum kita lamaaa banget dianggurin.. huuuffff mungkin ini subjective si ya, tapi begitulah yang aku rasa.. Sebenernya si sempet curiga kita mendapat respon kurang positip dari RS karena jangan2 Ian tetep nekad ga nyopot kacamata itemnya walopun sudah tak berdaya dan terpaksa diangkut pake kursi roda. Sungguh membuatnya tampak seperti Renny Djayusman kalah kampanye hehehhee

 

Rasanya, memang berteman itu sweet banget ya.. Ga harus ketemu tiap malem minggu, tapi ga juga bikin bete dan tetep bisa hahahihi.. Ga ada status yang mengikat, tapi kita bisa datang dengan segala macam rasa. Mau itu sakit, sebel, seneng, marah. Emm.. soal marah, kadang ni kalo urusan temen suka agak2 jadi solidaritas yang berelebihan hehehe.. Kalo ada yang nyakitin temen kita, rasanya kita juga ikutan disakitin.. Temen kita dibuat patah hati, rasanya kita ikutan sedih.. temen kita yang diselingkuhin kitanya ikutan marah.. Malahan responnya kadang2 ngelebihin respon temen kita sendiri hehee.. Kemaren sempet ada temen yang patah hati, anggep aja namanya Adhis –bukan nama sbenarnya- hahahaa.. Tapi karena tetep nekat jalan ama cowok yang uda bikin patah hati itu tadi, alhasil pas dia di jemput cowoknya, yang nganter doooong.. Orang2 se Geronimo nganter ampe depan pager persis. Sampe2 cowok yang menjemputnya itu mati gaya dibalik pohon yang ga juga mampu menutupi nya dari tatapan judes kami.. walopun tanpa pengerahan masa yang heboh dan mengemparkan, secara Cuma2 kami mengarak adhis membentuk pagar betis yang ahirnya cuman ngrumun ga jelas kayak ibu2 nganter rombongan haji… hehehe kita norak sekali deh..

 

Uhhh jadi kangen teman2 wanita ku yang mencar mencar ga karuan…. Dhita, Tiara, Dinar, Shani, Rani, Fiki… Jauh di mata dekat di hati yaaaa J

September 15, 2008 at 2:57 pm 4 comments


warna-warniku

yang menghampiri

  • 41,080 pasang kaki