Archive for November, 2008

Kalau aku tahu..

Kau bertanya arti cinta padaku?
Ah, yg benar saja, kau pikir aku tahu?
Kalau saja aku tahu,
Tentu kubiarkan kau mengawiniku waktu itu,
Di musim hujan yang lalu,
Saat langit indah berwarna ungu..


“sambil menikmati pijetan si embah di rumah”
25 november 2008

Advertisements

November 25, 2008 at 5:40 pm 4 comments

Apa kau mendengarnya?

Dia melantunkan melodi menemani tidurku..
Indah sekali..
Oh ya, aku titip pesan,
Rasanya besok aku akan bangun terlambat..

“Hujan musim ini, bersama secangkir hot chocolate”
24 november 2008

November 24, 2008 at 11:18 am 12 comments

Tell Me When It’s Rain

Rasanya aku mendengar suara dari luar. Ya, suara itu makin jelas terdengar. Suara debaran jantung yang begitu keras. Apa yang dia rasakan hingga debarannya sampai terdengar ditelingaku? Aku mengalihkan pandangan dari balik jendela yang basah. Di luar hujan. Sementara debaran itu makin terdengar, hingga nyaris menutupi suara hujan yg jatuh bagai tanpa melodi. Suara itu jelas sekali. Dia memanggilku, menyebut namaku. Memaksa kakiku melangkah keluar.

Aku membuka pintu. Angin berhembus kencang, menerpa wajah dan rambutku. Benar saja, dia disana. Laki laki itu nyaris basah kuyup. Berdiri di tepi teras rumahku.
“Hey Nada, maaf. Aku numpang berteduh ya. Hujannya deras” katanya sebelum aku sempat bertanya apapun. Bibirnya bergetar. Dia pasti kedinginan.
Nada. Hanya dia yang memanggilku begitu, sedangkan teman2 ku yang lain memanggilku, Nanad. Ah, mengingat itu saja membuatku menghela nafas sebentar.
“Kenapa tidak bilang kalau kamu diluar?”
“Tanpa kubilangpun, kamu pasti tau aku disini.”
”Ya kamu benar, suara itu yang memberitahuku. Dia memanggilku”
”Suara? Suara apa?”
”Sudahlah, lupakan, aku jelaskanpun kamu tidak akan mempercayai penjelasanku.”
”Kamu bahkan belum mencobanya. Ayolah Nada, jelaskan padaku..” dia berkata sambil merapatkan jaketnya.
”Ah sudahlah, masuk dulu ke dalam, anginnya semakin kencang. Tidak akan nyaman berteduh disini.”
Tanpa berkata-kata, lelaki itu menuruti permintaanku. Permintaanku pada lelaki yang menyimpan luka, tidak hanya dihatinya, tapi juga di hatiku. Lelaki itu bernama Ari. Ari Danandjaya.

“Kamu benar Nada, disini lebih hangat” katanya sambil terus mengusapkan tangan kanan dengan tangan kirinya, ditiupnya sesekali. Dia mencoba menghangatkan diri. Kami duduk berhadapan.Sementara aku masih tetap diam, entah kenapa bibirku terasa kelu. Tapi mataku tak bisa sedikitpun melepaskan sosok didepanku. Rambutnya basah, bibirnya sedikit pucat, kakinya terus bergoyang goyang tanpa irama. Mungkin dia merasa sangat tidak nyaman dengan keheningan yang tanpa sengaja kuciptakan ditengah perjuangannya melawan dingin.
“Umm..benar tidak apa-apa aku disini?” dia mencoba memecah keheningan.
”Tentu saja, aku tidak akan membiarkan sesorang pingsan karena kedinginan di teras rumahku”
”Ahh ayolah Nad, yang benar saja.. Kamu tau aku tidak selemah itu” katanya sambil terus menggosok-gosokan tangannya. Tangan yang pucat karena dingin hujan. Tangan yang dulu sering memayungi ku ketika hujan turun, musim hujan yang lalu. Musim hujan kali ini, tak ada tangan yang memayungiku, pun tidak tanganku sendiri. Aku menghela nafas panjang..
“Tunggulah disini, Ri. Aku buatkan Coklat panas untukmu”
“Terimakasih, Nad. Dingin dingin begini, rasanya pasti enak sekali”

Aku kembali dengan membawakan handuk untuk mengeringkan badannya. Kuletakkan coklat panas itu di atas meja. Melewati beberapa kali musim hujan dengannya cukup membuatku mengerti apa yang disukai dan yang tidak disukainya. Dia tidak suka kopi. Katanya, hidupnya sudah cukup pahit, jadi tidak perlu menambah pahit dengan minum kopi. Aku tersenyum mengingatnya. Dia memang begitu, kuat dan keras dengan kemauan dan mimpinya. Rasanya, hanya cinta yang mampu menggetarkannya.
“Minumlah Ri, selagi hangat”
“Ennnaaak sekali” katanya setelah menghirup coklat hangat yang kusajikan dalam mug yang memang selalu kusediakan khusus hanya untuknya. Kedua tangannya sibuk mengeringkan badannya yang basah dengan handuk.
“Umm, kamu mau kemana tadi Ri, sebelum hujan menghentikan perjalananmu?” Aku mencoba bersikap santai dengan mengajaknya ngobrol.
“Aku rindu rumah, Nad. Aku ingin pulang.”
“Kamu bisa melanjutkan perjalananmu setelah hujan reda”. ujarku sambil tersenyum.
“Entahlah. Setelah melihatmu, aku lupa jalan pulang.”
“Haha, tapi tetap saja, aku tak mampu meredakan kerinduanmu, kan?”
“Eh, siapa bilang aku tidak merindukanmu, Nada.”
“Tapi aku bukan tujuanmu, Ri. Hujan yang mengantarkanmu didepan pintu rumahku”
“Ya, bisa jadi benar.” dia berkata pelan.
Aku terdiam.Tentu saja aku benar, kalau bukan karena hujan, tak mungkin dia terhenti disini.Tiba-tiba tangan dinginnya menyentuh tanganku, terasa dingin dalam genggemanku.
“Tapi kamu tahu, Nada. Kali ini, aku sungguh berterimakasih pada hujan.”
Aku hanya diam, menikmati tangannya yang dingin. Menghantarkan hangat tanganku pada jemari kokoh lelaki disampingku.
“Tanganmu masih saja lembut, ya Nad. Sama seperti dulu” katanya sambil mengusap lembut tanganku.
“Sudahlah, Ri. Tak ada gunanya bicara begitu.” ujarku tanpa berusaha sedikitpun menarik tanganku dari genggamannya.
“Bau rambutmu juga masih sama. Wangi, seperti permen karet” ujarnya sambil membelai rambutku. Seperti ada magnet yang menarikku begitu kuat untuk bersandar di dadanya yang bidang. Aku kalah. Aku bersandar semakin rapat. Menikmati suara yang sungguh tak asing untukku. Suara debaran jantungnya yang mebuatku enggan membuka mata. Sementara hujan seolah tak mau berhenti, beberapa kali petir dan kilat membuatku makin bersembunyi di dadanya. Dia teratawa.
“Gila ya, Kamu benar benar belum berubah, Nada. See, this 24 years old lady yang mengaku sudah dewasa, masih saja takut kilat dan petir.” Dia tertawa sambil mengacak rambutku. Aku menarik tubuhku dari dekapannya. Entah kenapa tiba tiba aku menjadi gusar. Aku menatapnya tajam.
“Dengarkan aku baik-baik, Ri. Aku, kamu, kita, tak lagi sama. Sama seperti kamu, aku juga berubah.”
Dia diam. Wajahnya berubah serius.
“Aku belajar banyak, Ri. Belajar untuk tak lagi terlalu mengkhawatirkanmu, untuk melepaskanmu, untuk menikmati kehilanganku” aku bicara sambil mengatur napas yang terasa memburuku.
“Aku tau kamu pun berubah, aku bisa merasakannya. Kamu tak lagi mudah jatuh cinta, kan? Hatimu tak lagi mudah tergetar. Kamu tak lagi sama, Ri.”
”Jangan sok tau, Nada” Aku tau benar, dia mulai terbawa emosi.
”Ya, Mungkin ada beberapa hal yang tidak berubah. Mimpimu, harapanmu, mungkin masih sama. Tapi kamu yang sekarang tetap saja bukan kamu yang dulu. Kamu yang sekarang mengejar impian dan harapan lebih keras dari sebelumnya. Hatimu yang sekarang, lebih sukar melunak. Dingin.”
”Kamu selalu merasa benar, Nada ” wajahnya gusar, alisnya berkerut. Raut muka yang sudah aku hafal. Dia membuang tatapannya keluar jendela.
”Ya, dan kamu tidak pernah merasa salah, Ri” aku ikut menatap keluar jendela. Masih hujan. Masih basah. Dan masih saja begini, entah berapa musim kami terpisah, tapi kami masih saja bertengkar. Well ya, kami memang partner yang serasi untuk berdiskusi, duet hebat ketika bercanda, tapi kami juga pasangan berimbang ketika bertengkar. Umm, bahkan mungkin terlalu berimbang, sehingga tidak pernah ada yang benar dan salah. Selalu saja menyisakan PR untuk setiap masalah, berharap agar waktu yang bisa menyelesaikan. Lalu, meledak begitu saja, seperti bom waktu.

Kami menghabiskan waktu dalam diam, hanya suara hujan yang terdengar. Aku tau dia masih kesal dengan ucapanku. Dia menatapku tajam, tak berkedip. Aku pun begitu, meladeni tatapannya, tanpa berkedip. Ah, Pemainan lama, kataku dalam hati. Dulu, kami sering melakukan permainan ini, bertahan selama mungkin tidak mengedipkan mata. Mata siapa yang berkedip duluan, dia yang kalah. Sekarang pun masih saja sama seperti dulu,tak satupun dari kami mau mengalah, sampai ahirnya suara petir mengagetkan kami berdua. Mata kami berkedip bersamaan. Dia tertawa, aku juga ikut tertawa. Ada rasa rindu yang menghinggapiku.
”Sudahlah, Ri. untuk apa kita bertengkar” kataku ahirnya, menyudahi keheningan yang membuat suasana terasa semakin dingin. Harus aku akui, setelah sekian lama aku tidak melihatnya, rasanya sayang sekali bila pertemuan kami harus dilewati dengan perdebatan dan kata-kata ketus.
”Ya, Nada, kamu benar. Untuk apa kita bertengkar? Hanya membuat perutku lapar. Im starving lah, Nad..” katanya sambil mengelus-elus perutnya.
”Are u hungry or pregnant?”
”hahaha C’mon… membayangkan menstruasi aja aku tak sanggup, apalagi kalau harus hamil”
Aku ikut tertawa mendengarnya.
”No worries. I’ll safe ur life. Will cook for u. Would b nice if u help”
“Of course, I would, Lady” ujarnya semangat.
Satu hal lagi yang masih saja belum berubah pada kami, kami mudah bertengkar tapi juga mudah berbaikan. Meskipun tidak lagi semenjak saat itu, saat kami terlalu sulit percaya dan mengerti satu sama lain. Sebesar apapun cinta kami, tak satupun dari kami membuka hati agar bisa saling melengkapi lagi. Ya, sejak musim hujan tahun lalu.

Hanya ada mie rebus, bakso, sosis, sayuran dan juice mangga di kulkas. Aku memperlihatkan isi kulkas padanya.
“Tak ada pilihan lain,Ri. Hanya mie rebus yang bisa dimasak.”
“Hahaahaa.. kamu bicara seolah-olah kamu bisa masak yang lain, Nada”
Aku ikut tertawa. Dia membantuku mengiris bakso dan sosis. Aku memasak mie, menyiapkan juice dari kulkas dan menyiapkan meja makan. Siap sudah. Aku mengambilkan piring dan sendok untuknya. Dia tampak makan dengan antusias.
”Biasa aja deh,Ri. ini kan hanya mie rebus”
”Bagaimana mungkin aku bisa biasa saja, Nada, kalau kamu yang membuatnya.” Kata-katanya membuatku tertawa.
”Nada, please.. jangan tertawa, Aku serius. Di mataku, kamu selalu luar biasa” raut wajahnya tampak serius. Tapi entah kenapa aku makin terbahak, padahal sejujurnya hati ini tergetar luar biasa.
”C’mon Ri, bagaimana mungkin wanita wanita tidak jatuh hati kalau kamu terus bicara dgn gaya Don Juan-mu itu”
Ari menghabiskan makanannya dengan segera. Meminum juice mangga hingga tersisa setengah. Dia mengalihkan pandangannya ke jendela. Aku ikut melihat ke jendela. Masih hujan. Dia melihat jam di tangan kirinya, aku pun reflek melihat jam dinding di ruang makan.
“Jam tanganmu kelebihan 10 menit tuh” entah kenapa aku bicara begitu, mungkin hati kecilku tidak ingin dia segera pergi meninggalkanku. Tapi sepertinya, dia tidak menghiraukan ucapanku. Dia mendekat kearahku,mengambil posisi duduk disampingku, digenggamnya kedua tanganku. Dia menatapku dalam-dalam.
”Nada, tau tidak. Aku rasa kamu salah.”
“Salah? Apa salahku?”
“Saat kamu bilang aku tak lagi mudah jatuh cinta, aku rasa kamu salah. Jantungku berdebar kencang ketika aku berdiri menunggu hujan diluar tadi. Dan saat aku menyentuhmu, hatiku bergetar hebat. Apa kamu merasakannya,Nad?”
“Ya, aku merasakannya Ri. Bahkan lebih dari yang kamu tau. Aku bisa mendengarnya dengan jelas.”
“Kamu mendengarnya?”
“Ya, suara yang aku bilang diawal pertemuan kita tadi, itu suara debaran jantung, Ri. Suara itu yang menuntunku keluar. Untuk melihat hujan. Untuk melihatmu.”
“See. Kita memang masih saling cinta, Nada. Asalkan kamu mau belajar mempercayaiku, belajar mengerti aku. Mau menghormati keinginanku. Kita pasti bisa bersama lagi” Ari bicara sambil terus menggenggam tanganku. Sementara kepalaku terasa berat, rasa sakit terasa penuh sesak sampai ke ulu hati. Ternyata dia belum berubah, semua masih saja tentang dia. Dan aku pun masih menyesali diriku yang tetap keras hati. Teringat betapa sering kami dulu bertengkar hanya gara-gara prosesi adat yang tidak dia inginkan, namun sayangnya keluargaku inginkan. Please Ri, mengertilah, itu bahkan bukan pula inginku. Belum lagi pertengkaran kita tentang jumlah undangan, catering, barang seserahan. Pertengkaran-pertengkaran yang perlahan namun pasti mengikis rasa pengertian, dan mulai mempertanyakan cinta. Lalu entah bagaimana, rasanya kami terlalu rapuh menghadapi masalah, meski berusaha tetap terlihat kuat dan tegar didepan yang lain. Tak satupun dari kami mengalah. Berpisah. Itu keputusan kita. Melupakan gedung yang sudah kita booking dan sudah dibayar setengahnya. Merelakan undangan yang sudah tercetak 2000 lembar. Untunglah undangan belum sempat tersebar, Hanya itu satu2nya hal yang bisa aku syukuri. Detik setelah pembatalan pernikahan itu kami sepakati, selanjutnya terasa seperti melewati hari tanpa jiwa. Bagaimana mungkin aku melewati hari bila sebelah hatiku hilang. Bersamaan dgn mimpi yang terkikis saat hujan musim yang lalu.

“Nada, demi Tuhan, aku rasa kali ini Tuhan memang mengirimkan hujan untuk membawaku kesini. Agar aku menemuimu dan mengalirkan keyakinan dalam jiwamu. Nada, Tolonglah, yakinkan aku bahwa kamu mencintaiku. Bahwa kamu mau hidup denganku. Yakinkan aku bahwa kita bisa mencobanya sekali lagi.”
Ah, Ari, sebenarnya siapa yang lebih butuh diyakinkan, aku atau kamu? Pembuktian apalagi yang kamu inginkan? Tidak cukup lantangkah hati ini berteriak cinta? Tidak kah kamu mampu mendengarnya, Ri? Bagaimana aku bisa mempercayaimu,Ri, bila kamu pun tak mempercayai aku. Bagaimana kita bersama, Ri kalau kita tak juga bisa berhenti saling menyalahkan. Bagaimana kita bisa saling mencintai, kalau kita tidak juga berhenti saling melukai. Bibirku terasa kelu. Tak satu katapun berhasil aku ucapkan.
”Kenapa diam, Nad?”
”Nad?” ulangnya sekali lagi. Kali ini lagi lagi dia melihat ke arah jam tangannya, lalu melempar pandangan sekali lagi ke jendela. Hujan belum juga reda. Dia tampak terburu-buru, meski aku tak tahu entah apa yang memburunya.
”Ikutlah denganku, Nad. Aku ingin kamu pulang bersamaku”
Ah Ari, Sebegitu inginnyakah kamu pulang, hingga bahkan tak memberiku waktu menunggu hujan reda.
“Nada, aku benar-benar rindu rumah. Aku harus pulang. Ikutlah denganku, sekarang”
“Tapi hujan belum juga reda, Ari. Tunggulah hingga hujan reda”
”Nada, cintaku tak bisa menunggu”
Aku terdiam sebentar, ”Dan cintaku tak bisa diburu-buru, Ari” Suaraku melemah. Lelaki itu tersenyum. Membelai rambutku.

”Baiklah, ternyata kamu belum juga bisa mempercayaiku, Nada” Kata-katanya terasa menusuk hatiku, seperti belati yang menghujam berulang kali di tempat yang sama. Perih. Ini bukan hanya tentang percaya. Sungguh, perempuan ini bukan haus pembuktian akan cinta. Tapi andai saja kamu memberiku waktu, setidaknya hingga hujan reda, betapa leganya hati perempuan ini. Mengetahui bahwa keinginannya juga didengar. Lelaki itu mengemasi barang-barangnya, memakai kembali jaketnya. Dilihatnya jam tangannya sekali lagi, menatap lurus jendela ruangan yang basah.
”Nada, aku harus pulang sekarang. Terimakasih, ya. ” Dia mengecup keningku. Tanpa menunggu jawaban dariku, dia pergi. Meski terkadang dia tak tahu jalan ketika datang, tapi dia selalu tahu jalan ketika pulang. Aku bahkan tidak mengantarnya sampai ke depan pintu. Dari balik jendela, aku lihat laki laki itu berjalan tegap. Seperti biasanya, tanpa menoleh kebelakang. Menembus hujan.

Suara itu masih terdengar. Semakin lama semakin lirih. Ya, suara itu, suara debar jantung yang memberitahuku setiap kali hujan tiba. Ku pejamkan mataku, kututup telingaku. Kuabadikan suara itu, di hatiku. Sakit.

Musim Hujan, Jogjakarta, November 2008

November 13, 2008 at 3:10 am 12 comments

hiburanku pagi ini..

Seperti biasa, keribetan masi saja terjadi ketika aku harus berangkat memulai aktivitas di pagi hari. Buka lemari, mikir mo pake baju apa, eh yang dicariin ga ketemu.

Aku: Mbak yatiiiiik, tanktop ku dong mbak tolong…

Mbak yatik: Oh yooo.. bentar mbak… Sama kabelnya sekalian ga?

Aku: *hemm cukup membingungkan.. sejak kapan aku berubah gaya menjadi mahluk eloktronik atau manusia kabel?? emang aku google 5???

Aku: Tanktop mbak, yang warna item tolong diambilin.. *masih tenang sambil ngerol rambut di kamar, sementara mabak yatik masi di bagian belakang rumah.

M’yatik: Lha neng endi si mbak, kok digolekki ora ketemu… (lha dimana si mbak, kok dicariin ga ketemu-red)

Aku: Lho bukannya kemaren di cuci? belum kering po mbak?

M’yatik: *segera tergopoh gopoh menemui ku di kamar* Masyalloooh, sopo sing nyuci??? nek aku ki demi alloh ora wani mbak megang barang2 mahal koyo ngono kui.. Opo meneh sampe tak cuci..  (masyalloh siapa yang nyuci, kalo aku demi alloh ga berani pegang2 barang mahal kayak gt, apa lagi sampe nyuci -red)

Aku: *mulai agak bingung dengan reaksi mbak yatik yang berlebihan.. Bukannya tanktop nya emang biasa di cuci dirumah ya, sampe warna itemnya mbladus gt.. Tiba tiba mbak yatik memecahkan misteri kebingunganku.

Mbak Yatik lagi: Eaalah, iki lho jenggg santiiiii…*riang gmbira* barang neng sebelahe kok di golekki.. nek aku iki rawani mbak nyuci barang larang nggone mbak santi sekolah.. Wedi nek rusak, tenan.. (kalo aku ini g brani mbak nyuci barang mahal punya mbak santi sekolah, takut rusak, beneran -red)

Aku: *melirik kesebelahku. trus ngakak abis ga brenti brenti..

Masih aku lagi: Ya alloooh mbak yatiiiiik, itu laptop, bukan tanktoppppppp… hahhaha Kalo laptop mana boleh dicuci… yang aku cariin itu tanktop item, baju kaos ku yang nggak ada tangan itu lhooo…

Mbak Yatik: sing endi si mbak.. *masi bingung2 aja

*yasudah karena ga tahan lagi nunggu berlama2 di situasi yang ndak jelas ini, aku putuskan untuk nyari si tanktop itu tanpa bantuan mbak yatik.. ternyata bener, si tanktop masi bergabung dengan baju2 yang baru di setrika kemaren.. Ngeliat aku sudah menemukan si “barang” yang aku cari. mbak yatik pun memberi komentar spektakulernya..

Mbak Yatik: Lha sampeyan niku ket mau jebulane mong nggolek “njeroan” to.. Mbok ngomong.. (lha kamu itu dari tadi ternyata nyari “daleman” to.. bilang doong..)

*ckckckckck speachless lah aku dibuatnya.

Trus pas udah beres semuanya dan tinggal pamitan pergi ama mbak yatik, aku teringat sesuatu.. Laptop-ku ketinggalan.. Eh, Ternyata Mbak Yatik dengan siap siaga sudah membawakannya untukku.. Ples lagi2 memberi bonus komentar yang menggebrak. 

Mbak Yatik: “lhaaa.. lak tenan to, senengane kesususu, tanktop-e ketinggalannn ki” *nadanya oh sungguh tenangnya, datar datar saja…

Sayang aku ndak punya banyak waktu selaen sibuk ketawa.. Nggak kebayang lah aku, ngetik di tanktop, sambil pake baju laptop. Aku janji deh mbak yatik, ntar abis pulang dari perpus, aku tegaskan sekali lagi mana yang tanktop mana yang laptop.  Next round, mungkin materi ditambah menjadi  mana yang hardtop mana yang hiphop.

________________Hehhehee… luv u mbak yatik!!______________________

 

Pesan moral yang bisa diambil pagi ini:

1. Kerjakanlah sendiri selama kamu masih bisa melakukannya sendiri

2. Bicaralah dengan bahasa yang bisa orang lain mengerti

November 12, 2008 at 5:57 am 8 comments

Please..

Dont come closer..

Too dangerous..

I’m telling u once again,

Stay there, dont come closer..

I hate to see u cry,

because i cry when u cry..

Turn off ur tears,

I tell u one thing..

“I’m a heartbreaker..”

Im leaving dear, dusnt meant i dont luv you..

November 9, 2008 at 4:14 am 8 comments

Wanita ini terhenyak beberapa saat..

Keadaan sebelumnya:

Aktivitas dimulai pagi hari jam 6, mandi and the bla bla ke Jogja TV, sampe jam 9, jemput Naya, keulang taun arla ampe jam 1, Jam 2 siaran, interview sama steven and coconuttreez, baru nyampe rumah jam 8 malem, laper makan, ngantuk padahal uda jam 9 malem, padahal jam 10 malemnya aku siaran. Aku pikir secara cuapek nya luar biasa, ndak papalah tidur dulu setengah jam doang. Biasanya juga badanku reflek aja gitu kalo uda tau mau dipake kerja, badan langsung bangun tanpa alarm. dan aku pun tertidur pulas. Maksudku, sangat pulas.

Beberapa saat setelahnya:

Kebangun gara2  Ringtone Cake-perhaps perjhaps perhaps. Telp dari Geronimo.

Arih: Santi kamu dimana??? *nada setengah panik

Santi: Dirumah.. kenapa Ri? *nada sok nyantai, padahal masi ngantuk berat

Arih: Lho ga siaran san???

Santi: Siaran?? masyalloooohhhh jam setengah 11… *gubrakgubruk* siap siap secepat kilat menuju geronimo. Wes wes wesss..

Saat siaran:

Masi ngeblank. Ga ngerti kenapa this overslept terjadi padaku. Malas berpikir apa tema siaran malem ini. So ya, kulimpahkan pencarian ide itu pada Arih. Ternyata Arih punya ide yang briliant, *scr aku bahkan ndak bisa berpikir saat itu*, Tema siaran malam ini adalah : Pilih punya pacar yang suppper sibuk sampe2 ga punya waktu buat kamu ato punya pacar yang nganggur, kemana2 nemenin kamuuu tyeruuss (btw disini kasusnya kondisi financenya sama2 terjamin). Dan ternyata respon pendengar ok banget malem itu, sampe kita bikin polling, lebih banyak yang pingin punya pacar sibuk ato nganggur sampe kemana2 ngintiiil terus.. Ahirnya skor polling menunjukkan bahwa lebih banyak yang memilih punya pacar sibuk walopun ga punya waktu dari pada punya pacar nganggur dan ngikutin kemana aja. Skornya 27 VS 15.
Setelah Siaran:
Santi: Ari, thanks bgt ya uda ditemenin siaran.. Males banget kalo mesti siaran sendirian.. Eh Ri, btw topiknya ok juga tu, biasanya malem minggu kanca muda yang respon sms ga terlalu banyak. Ini itungannya udah banyak looh..
Ari: Aku kan tadi tiba2 aja san baru dapet idenya.. gara2 ngeliat kamu *cengar cengir..
Santi: Lho??
Ari: Ya iya, tadi pas kamu aku telpon kan masi ketiduran kan.. ampe bablas2 gt.. trus denger kegiatanmu hari ini, belum lagi hari2 kemaren yang sibuk questionairres lah, kuliah lah.. Ga kebayang aku kalo pipit *pacarnya Ari* sesibuk kamu san.. Duuuhh bisa sedddih banget aku pasti. Untung kamu ga punya pacar ya, San.. Kalo ga, kasian dia lo hehehehe
….wanita ini terhenyak beberapa saat..
Santi: yaaaaah, tapi kan aku ga kayak gini tiap hari ri.. ga overslept tiap hari juga kan hehehehe…  *ketawa getir..*
Di rumah:
berusaha tidur secepatnya.. melupakan pembicaraanku dengan Arih yang cukup membayangiku..
Nite everyone, really need to sleep now 🙂

November 8, 2008 at 5:55 pm 7 comments


warna-warniku

yang menghampiri

  • 41,080 pasang kaki