Archive for February, 2009

Tuhan Sayang, Saya Bisa Apa…

Tuhan sayang, peluk saya, saya kehilangan..
Dini hari saat teman menyampaikan berita duka meninggalnya seorang Sapto Raharjo, saya dilanda sedih yg mendalam.. Tuhan sayang, saya bisa apa.. selain mendoakan beliau yang Kau ajak menemanimu di surga.

Tuhan sayang, aku ingin bercerita. Bagi saya beliau bukan hanya seorang dari level manager di sebuah Radio. Tapi juga teman terdekat. Masi ingat, bagaimana kami bergurau santai lewat SMS dan saling memuji karya persembahan kami di Wayang Trendi. Project hebat terahir yang beliau persembahkan untuk Radio yang selalu besar di hati kami. Atau ketika beliau berusaha meluangkan waktu disela-sela kesibukan pekerjaannya untuk menengok saya ketika berkunjung ke Singapur. Sementara saya menjalani studi saya disana. Perhatian sederhana yang terasa mewah dihati seorang saya yang pada saat itu jauh dari keluarga. Tuhan sayang, tentu saja saya kehilangan.. Tapi saya bisa apa, selain meratap padaMu dan mendoakan yang terbaik.

Tuhan sayang, segala tentangnya melintas di kepala saya. Betapa beliau dicintai oleh teman-teman. Seorang teman terbaikku, ian sofyan, baru saja menelponku dan menangis sesenggukan. Begitu juga Maria Shani, teman yg selalu dekat dihatiku jg merasa kehilangan yang luar biasa. Dan saya, tenggorokan saya masih terasa tercekat, beberapa kali saya terpaksa mengusap mata ketika menuliskan catatan kecil ini. Kami semua kehilangan, Tuhan. Bagaimana tidak, Beliau bukan hanya seorang seorang musisi hebat, tapi juga seorang sahabat. Simbah, kami biasa memanggilnya. Simbah, sahabat dan musisi kebanggaan, meninggalkan kenangan yang membekas di hati terdalam.

Tuhan sayang, tak ada ketidakrelaan dihati saya. Bukan karena saya toh tak bisa berbuat apa apa, tapi karena saya percaya Kau telah memilihkan yang terbaik untuk Nya.

Tuhan Sayang, tolong temani kami yang ditinggalkan. Bisikkan amanah dan semangat yang beliau tinggalkan.

Tuhan sayang, saya kehilangan. Tapi saya bisa apa, selain menghidupkan semangatnya di jiwa saya dan mendoakannya.

Tuhan sayang, betapa saya percaya padaMu, pemilik lautan kasih sayang tanpa batas. Kau pasti akan menjaganya kan.. Jangan khawatir, sayapun akan menjaga semangat yang beliau tinggalkan, di hati saya.

Tuhan sayang, sampaikan padanya ya, saya sungguh kehilangan. Tapi saya bisa apa, selain menghormati kehendakMu dan mentransfer energinya menjadi kenangan dan pelajaran hebat untuk hidup saya. Rasanya surga pun tak mampu menghentikannya berkarya.

Tuhan sayang, peluk saya sekali lagi. Saya kehilangan..

*kehilangan yang mendalam untuk Simbah yang kami cintai, Sapto Raharjo. Doa kami untuk Simbah.

February 28, 2009 at 2:31 am 1 comment

Selamat Tidur, Senja.

Tergesa langkahnya, rindu tempat tidur kesayangannya. Menghela nafasnya, lelah. Hari ini memang cukup melelahkannya. Meeting berulang dan tumpukan report yang terkadang memuakkan namun tak terelakkan untuk dikerjakan. Nasib pekerja.

Senja, nama perempuan itu. Masih berbalut busana kerja, bersender lemah pada sandaran kasur tempat tidur yang berbalut seprei merah muda. Matanya letih, menggerakkan tombol remote TV dari satu saluran station ke station yang lain. Tak pula menarik baginya. Senja mulai menguap,letih sekali. Menyisakan genangan kecil disudut mata.

Pukul 2 dini hari, Senja mulai memaklumi rasa kantuk yang mendera. Senja mengasihani dirinya. Hanya punya waktu 4 jam untuk kembali terbangun dan tenggelam dalam rutinitas kantor yang memaksanya bersahabat dengan jemu. Tak bergeser ia dari posisinya, namun tangannya meraih agenda yang penuh coretan beban. Agenda merah muda. Pekerjaan esok hari menunggu. Beberapa point dalam agenda dihadiahi tulisan2 tangan Senja, lincah berkomunikasi dengan otak yang terbiasa bekerja aktif meski kantuk mendera hebat. Selesai untuk hari ini. Besok masalah besok. Senja tersenyum sebentar, menutup agendanya. Sedikit rasa yang coba ia tampik, ingin segera pagi.

Senja mengutuk diri. Tak juga ia tertidur, meski sudah jam 3 pagi. Sadar hanya 3 jam waktu tersisa untuk lelapnya, Senja semakin panik. Semakin mengasihani diri. Tentu saja Senja mengantuk, berulang kali ia menguap. Tapi tak juga membuatnya terlelap.

Senja mulai menghitung domba dengan mata terpejam. Namun hitungan keseratus membuat matanya terbuka lebar. Menyumpahi kebodohannya. “Domba siapa yang kuhitung? Perempuan bodoh”. Dalam hati Senja mengiba, Tolong Tuhan, ajari aku tertidur..

Senja menghela nafas keras, miskin ide agar mampu tertidur pulas. Mati gaya. Diraihnya HP yang tergeletak disampingnya. Folder inbox dengan gambar amplop tertutup menggoda matanya.

From: Matahari
08157903333
Masih belajar tidur, Senja? Lepaskan saja dulu bebanmu. Miss u much 🙂

Sms dari Matahari. Senja tersenyum, Matahari baik sekali, tak ada celahnya. Diketiknya rangkaian kata dengan cepat.

To: Matahari
08157903333
Boleh kutitipkan dulu bebanku? Besok pagi tak akan lupa aku ambil kembali 🙂 Miss u too.

Message sent.

Senja tak lagi menguap, namun masih gelisah. Tak punya waktu banyak, sudah pukul 4. Setiap hari Senja berharap bisa tertidur pulas, namun setiap hari pula senja kecewa.

Hp merah muda itu berbunyi lagi. SMS.
From : Matahari
08157903333
Tak harus kau ambil kembali, Senja. Bagilah denganku. Tentu saja bila kau mau 🙂

Senja membalas sms dengan segera.
To: Matahari
08157903333
Ya. Aku mau. Tapi maukah kau memberi tahuku Matahari, Bagaimana cara melepas beban? Aku mengiba.

Message sent.

Senja seperti dikejar waktu, deadline waktu tidur yang semakin berkurang. Senja ingin menangis, kenapa ia harus memohon untuk sekedar waktu tidur.

Pesan singkat menggetarkan kembali HP merah muda senja.
From: Matahari
08157903333
Hanya kau yang tahu, dan hanya bila kau mau. Berusaha ya, senja 🙂

To: Matahari
08157903333
Ya, Matahari. Aku akan berusaha. Please doakan aku :’)

Message sent.

From: Matahari
08157903333
Jika kau berhasil terbangun esok hari. Aku akan menghadiahimu cerita indah tentang cinta 🙂 Aku mendoakanmu, Senja. Selalu.

To: Matahari
08157903333
Hehe.. Terimakasih, Matahari 🙂

Senja seperti hendak menangis. Tapi tentu saja ia tahan, airmata hanya akan membuat malam tak ubahnya tragedi. Bukan tentang hadiah cerita indah dari matahari yang membuatnya bergenang air mata. Tapi karena Senja putus asa, tak menemukan jawaban atas beban apa yg menahan tidurnya. Pekerjaan? Ia rasa tidak, tak ada masalah baginya bergumul dengan pekerjaan yang menjemukan. Pekerjaannya lancar.Happy boring job, menurut Senja. Beban itu bukan pada pekerjaan. Lalu apa, senja mulai berpikir keras.

Matanya berkeliling keseluruh kamar, photo-photo dalam figura lucu apik berjejer. Gambar Senja bersama seorang lelaki. Bukan Matahari. Nyeri menghujam dadanya. Sesak. Senja menemukan jawabannya. Pukul 4:30, saat matahari belum juga terbit.

Bebannya adalah kenangan yang sulit terhapus. Bukan salah waktu yang tak cukup ampuh, tapi Senja yang tak pula menggerakkan hati menghapusnya. Tak ada jalan lain bagi Senja. Menghapus kenangan, hanya jika ia ingin tertidur meski sebentar. Senja membalik beberapa photo yang tertata rapi di meja rias. Melepas beberapa gambar yang tergantung di kaca kamarnya. Apalagi ya, Senja berpikir sebentar. Matanya tertuju pada jari manisnya. Masih saja, Cincin bermata satu yang melingkar sempurna.
Senja menghela nafas, meluaskan hati. Dilepasnya cincin itu perlahan. Air matanya menetes.

Tidak. Tak akan aku menangis, ujar Senja menguatkan hati. Dihapusnya airmatanya. Hanya tertidur, itu saja yang ia inginkan. Biar saja meski hanya satu jam.

Sementara tak lama, alunan adzan subhuh menggerakkan Senja berwudhu. Bersujud dan menumpahkan segala. Senja menceritakan semuanya. Berkeluh kesah, tersenyum dan menangis. Tuhan yang Maha melegakan bagi Senja. Terimakasih, ucap Senja sungguh.

Senja kembali merebahkan tubuhnya, memejamkan matanya. Terasa lebih ringan. Seperti melayang, melupakan segala. Senja tidak mendengkur. Tapi Senja tertidur. Meski tak juga lelap.

Namun tak membuat terdengar suara SMS yang berbunyi. Pesan singkat belum sempat terbaca.
From: Matahari
08157903333
Senja, obrolan indah tentang cintanya aku simpan dulu ya. Sampai nanti kau tak lagi tertidur sambil menangis 🙂
Sleep tight. Semoga kau bangun terlambat 🙂

Tanpa cincin dan gambar yang tercetak. Kenangan itu tetap saja belum terhapus, masih terekam bahkan dalam tidur Senja sekalipun. Senja terpejam, bersama airmata yang belum juga berhenti.

“Selamat tidur, Senja”.

February 24, 2009 at 12:50 am 3 comments

Tentang Kupu-kupu dan pelangi

Kusangka pagi ini akan berbeda, setelah hujan lebat menjelang fajar tadi. Kusangka langit akan berhias megah, setelah matahari tak lagi malu tersipu.
Tapi tidak, kau tak muncul juga. Jangan tutup jendelanya. Biarkan saja begitu, aku masih akan terduduk di kursi yang sama.

Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila,… Umm apa 1 lagi, susah sekali mengingat 1 warna lagi. Ah, aku tidak boleh begini. Bagaimana dia akan muncul, jika aku melupakannya. Mau, kau mengampuniku? Aku masih berpikir, berusaha mengucap 1 warna lagi. Tak akan lama, sebentar lagi selesai. Eh tunggu, berapa kali kubilang, jangan tutup jendelanya. Biar saja begitu.

Angin berbisik, mengalunkan jawaban tentang warna ungu. Melengkapimu. Lalu aku berhasil mengingatmu dengan sempurna. Gerakmu, tenangmu, indahmu. Masih. Walaupun hadirmu sebatas pemuas mata, pun tak pernah mampu kusentuh. Tetap saja aku menunggu. Menghabiskan waktu.
Lalu angin semakin hebat bertiup, bersahabat dengan kilat yang menakutiku. Tidak, biar saja begitu. Jangan sentuh jendelaku. Biar saja basah. Tak ingin kuterlambat meski sedetik.

Kusangka sore ini akan berbeda, setelah kesempurnaan mimpi ditawarkan hujan siang hari. Tapi ternyata tidak.

Kupu-kupu menerobos dari jendela, menghampiriku malu-malu. Berputar cantik sambil tersenyum di depan mataku. Lalu bergerak naik mendekati telingaku. Menyampaikan pesan lewat kepakan sayap merah jambu. Katanya, jangan pernah menunggu. Tak juga dia mengampuniku. Meski begitu, ada salam terahir dari pelangi.

Kupu-kupu tak pula beranjak. Setia menemani sore yang kuhabiskan dalam dekapan rindu. Aku mengingat semua warnanya dengan sempurna, namun terlambat, salam terahir terlanjur terucap.

Aku tersenyum.
Tak ada airmata, meski tak juga bahagia.
Kututup jendela rapat-rapat, tak lagi menunggu pelangi.

Disandingku, kupu-kupu mati. Tanpa pelangi.

February 18, 2009 at 3:23 pm 3 comments

“…”

Seorang perempuan berdiri dengan kaki tergetar.. Nafasnya tersengal sengal.. Matanya berkaca-kaca, tampak jelas dia berusaha tidak mengerjapkan mata sedetikpun, khawatir akan tumpah airmata di pipinya..

“Tunggu…. aku ingin bicara.. sebentar saja..” Perempuan itu berkata dengan terbata bata..
“…” Namun laki-laki itu tak menjawab bahkan untuk sepenggal saja. Dia hanya membalikkan tubuhnya. Menatap tajam dengan hembusan angin yang cukup kuat menerpa wajah dan rambutnya..
“Beri aku waktu bicara.. Aku janji, tak akan lebih dari 5 menit”
“…” Laki-laki itu tetap tak berkata-kata.. hanya duduk merebahkan diri bersandar pada pohon rindang besar dipinggir jalan.. Suasana sore, langit jingga, tak nampak banyak kendaraan lalu-lalang..

Perempuan itu menarik nafas panjang, refleks matanya ikut terpejam, airmatanya berlinang tanpa mampu lagi terbendung..
“Aku tau kamu bisa mendengarku dengan baik” susah payah perempuan menjaga suaranya agar tak tergetar..
“..” laki-laki itu masi diam..
“aku membutuhkanmu..”
“..” laki-laki itu tak juga bergeming…
“seperti aku membutuhkan udara”
“…”

Perempuan itu menggigit bibir nya yang tergetar hebat..
“Kamu tahu, aku merindukanmu..”
“…”
“seperti kemarau yang merindukan hujan..”
“…” Laki laki itu masih juga diam.. Hanya tangannya yang bergerak, sibuk mencabuti rumput-rumput liar yang membuat sepasang matanya tak lagi menatap mata perempuan yang belum juga berhenti berlinang..

“Hey… dengar.. kamu tak bisa terus-terusan membisu… Aku menyukaimu..”
“…” Laki laki itu hanya tersenyum.. Dingin.
“seperti gelak tawa yang menemani sepi”
“…” Laki-laki itu hanya tergelak sebentar… tangannya berhenti mencabuti rumput-rumput liar.. Mendekap kedua kakinya yang terlipat kedepan.. Matanyapun lurus menerawang, sesekali menatap atas langit.. Mendung.. Tapi tetap saja, tak menyisakan tatapan untuk perempuan yang sudah mulai menunduk…

Perempuan itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.. Menangis tersedu-sedu.. Napasnya makin tersengal-sengal.. Laki laki itu mulai mendekatinya.. Luluh.. Dipeluknya perempuan itu.. Dibelainya rambutnya yang menyisakan wangi… Mereka terduduk berdua dibawah pohon dipinggir kota.. Kota kecil yang menyimpan sejuta cerita dan kenangan..

“aku mengagumimu..” Perempuan itu terus bercerita.. sesekali diusapnya matanya yang belum juga kering..
“…” Laki-laki itu tetap saja bungkam..
“seperti sepasang mata yang mengagumi hamparan biru langit..” Perempuan itu melanjutkan ucapannya..
“…” Mata laki-laki itu mulai bicara dengan hatinya, sejujurnya dia seperti melihat kejujuran.. Tapi masih, bibir itu terkunci rapat..

“Kenapa kamu tetap saja diam?” Perempuan itu mulai berkaca-kaca lagi.. Sementara langit tak lagi menyisakan mendung.. Gerimis membasahi sepasang manusia yang mencoba mengukir ahir cerita.. Entah pahit atau bahagia..

Perempuan itu menarik nafas panjang.. mengumpulkan keberanian.. mengusir kepedihan..
“Aku mencintaimu…” Suaranya tergetar hebat.. Air mata itu kembali menetes…
“…”
“seperti aku mencintai pagi yang menghadirkan harapan untuk merasakan cinta bersamamu, setiap hari…” Perempuan tersedu..
“….selamanya” Ia tak lagi mencoba membendung tangisnya.
“…” Sementara dalam diamnya, laki-laki itu nyata merasakan kepedihan, yang bukan hanya milik perempuan, tapi juga miliknya. Nyeri.

Hening berbalut dingin menyelimuti beberapa menit yang berlalu begitu saja. Laki-laki itu tetap saja tak mengucapkan sepatah katapun.. Dia berdiri.. dengan tas ransel besar yang kembali dibawa dipundaknya.. Tangis perempuan mulai pecah.. Membaur airmata dengan hujan, menjadi genangan hebat tak terhenti.. Ditariknya tangan lelaki yang beranjak pergi..
“Kenapa kau tak mengucapkan sepatah katapun?” “kenapa kau pergi meninggalkanku begitu saja?”
Dipeluknya perempuan itu, sekali lagi. Cukup lama sampai ahirnya lelaki itu mencium tangan lembut perempuan..

“Maafkan aku.. untuk laki-laki seperti aku, tak akan pernah ada yang selamanya..” Untuk yang pertama dan terahir kalinya laki-laki itu bicara.. Saat senja yang sempurna berhias kepedihan, laki-laki beranjak pergi.. Menembus hujan yang halus membasahinya, menghadirkan dingin yang membekukan hatinya.. Dan cintanya..

Laki-laki itu makin jauh, meninggalkan perempuan yang mengubur air matanya hingga tak menyisakan setetes lagi.. Senja itu,adalah terahir kalinya perempuan itu menangis… Selebihnya dia titipkan airmata pada langit kelabu…

PS: Untuk laki-laki pengidap HIV positif yang beberapa saat mengunjungi kantor..
“Kamu yang menentukan nasibmu, bukan penyakitmu…”

Terus semangat ya… 🙂

February 6, 2009 at 11:13 am 10 comments


warna-warniku

yang menghampiri

  • 40,914 pasang kaki