Archive for March, 2009

Warung Reyot Itu

Terperangkap oleh sajian televisi biasa. Terkesan ringan. Namun mampu mengepung rasa yang tumbuh perlahan lalu melilit sendi tulang. Hingga sempoyongan. Gagal berdiri tegak. Terseret arus ingatan yang sayang belum juga menjadi lampau.

Kuliner pagi dalam televisi. Menampilkan presenter mak nyus yang mampir ke kota kecil kami. Kota saya dan dia. Menyajikan menu biasa dengan cita rasa istimewa. Dari sebuah warung reyot yang selalu ramai pembelinya. Disandingnya, tegak pohon rindang besar, memudahkan mata bila ingin mencarinya. Warung Tengkleng kesukaan. Kalau boleh dilengkapi, Warung Tengkleng kesukaan kami. Saya dan dia.

Program kuliner televisi biasa. Namun sanggup melengkungkan bibir saya menyaksikannya.Bukan semata membenarkan lidah presenter saat berucap “mak nyus pemirsa”. Pun, tak mampu mengelak dari tarian lampau yang gemulai hadir memanja kenangan silam. Gambar muda saya dan dia. Yang semula tampil ragu-ragu, namun lalu tegas jelas, seolah sedang pentas. Tercukupkan peran kami. Mengartikan bahagia dengan senyuman yang terselip dalam kebersamaan sarapan pagi.

Warung reyot yang kami sambangi bahkan sebelum mandi. Bisu menyaksikan gairah setia yang menguatkan dua pasang kaki. Sekian lama. Namun lalu rapuh oleh masa yang enggan kompromi. Keropos tulang kami. Lumpuh tak mampu berdiri. Tanpa daya. Tanpa kursi roda.

Warung reyot tua itu, menyimpan kenangan yang tak mau mati. Hidup selamanya, pun enggan pergi.

Sungguh terkepung otak pagi, oleh rindu yang masih saja bernafas diam diam. Meski sembunyi disudut gelap hati.

Cukup satu acara televisi. Seketika. Dia mengisi pikir saya. Tanpa jeda. Lalu gemuruh. Penuh. Tak menyisakan ruang bahkan sekedar setengah centi.

Saya telan rasa rindu pagi hari. Bulat. Pahit.

Advertisements

March 31, 2009 at 5:27 pm 2 comments

Lelakiku Sayang

Lelakiku sayang,
Duduk dan diamlah disini.
Rebahkan letihmu.
Biar saja dulu angin menyapu lembut kulitmu, mengeringkan keringatmu.
Sementara aku meluaskan hati mendengarkan kesahmu. Meski tak seberapa meringankan bebanmu,
Mendekatlah.
Biar kuabdikan waktuku untuk menemanimu.
Lelakiku sayang,
Hanya sesederhana itu cintaku untukmu.

Lelakiku Sayang,
Lelahkah? Berputar otak itu seharian, kencang otot itu kau paksakan. Bolehkah kau redakan sedikit, sayang. Izinkan aku menyusup sebentar.

Lelakiku Sayang,
Terkadang aku kesulitan menemukanmu. Pekerjaanmu menumpuk berlebihan. Menjulang tinggi keatas, merapat melingkar kesamping. Dan kamu, asyik tenggelam dibaliknya. Aku tak bisa melihatmu. Tapi tak masalah bagiku. Aku tau kau tersenyum dibalik tumpukanmu. Namun bila matamu mulai bosan dan berkunang-kunang, lalu mulai meratapi tumpukan yang menjulang. Turunkan dulu tumpukan itu sebagian. Dan akan kau lihat aku menunggumu di depan. Hanya untuk sekedar mengusap punggungmu yang mulai terasa pegal.

Lelakiku sayang,
Sejujurnya aku ingin menguasai otakmu. Agar hanya ada aku dalam pikirmu. Kamu bilang, memang nyata begitu. Tapi sesungguhnya, tentu saja aku tahu tidak. Kamu memilah otakmu atas porsi pikir yang hanya kamu dan Tuhan yang tahu. Namun biarlah, asal aku masih memiliki sedikit kavling dalam hatimu. Biar kuhangatkan bagian itu. Agar tak akan bosan bila kau berkunjung.

Lelakiku Sayang,
Kau bilang, aku tak perlu cemburu. Meski matamu sering tertangkap olehku menikmati keindahan wanita lain. Atau bibirmu tak terbentung terucap pujian atas elok kecantikannya. Namun toh hatimu hanya terjerat olehku. Tapi tahukah sayang, aku pun ingin menghibur matamu. Aku menanti pujian dari bibirmu. Dan jika ahirnya terucap juga kata cantik darimu, rasanya seperti baru saja kumenangkan kontes kecantikan yang entah berguna entah tidak itu.
Itu aku yang mencintaimu, sayang. Jadi maaf, jika aku terlalu lama menghabiskan waktu untuk sekedar bersiap menemanimu makan.

Lelakiku Sayang,
Bolehkah sekali waktu ku intip fantasimu. Penasaran. Adakah wanita lain yang menyulut gairahmu. Jika iya, maka biarlah. Karena kau lelaki.

Lelakiku sayang,
Bolehkah jujur. Terkadang cemas, terkadang kesal. Bila tak sengaja kau meniadakanku ditengah kesibukanmu. Ya sudah. Tak apa. Memang begitu lelakiku. Asal berjanjilah kau jaga kesehatanmu dan tak jatuh sakit. Ummm, tapi rasanya sedikit kau luangkan waktu untuk menelponku ditengah break, tak akan jadi masalah bukan? Hanya terkadang rindu suara beratmu..

Lelakiku Sayang,
Inginku sekali waktu mencuri-ciri daftar mimpimu. Hanya sekedar mencari tahu ada di urutan berapa kau meletakkanku. Jika kau meletakkanku dibawah kebahagiaan ibumu. Akan kuciumi tanganmu. Karena ku tahu, kau memang lelakiku.

Lelakiku sayang,
Jangan khawatir.
Biar saja begitu,
Percayalah, Cinta bekerja dengan sendirinya.

Dan untukmu, dia bahkan tak mengenal hari libur 🙂

Luvs,

March 31, 2009 at 4:50 pm 3 comments

Anak Lelaki di Pertigaan

Simpel saja.

Kalau lapar, ya makan.
Kalau ngantuk, ya tidur dong.

Seandainya setiap kita, tanpa terkecuali mampu mengaplikasikan hubungan sebab akibat tersebut sesederhana itu, tentulah pemandangan seperti semalam tak perlu menggerus hati saya.

Saya akui, saya memang sensitif. Sebagian menyebut saya terlalu mudah tersentuh. Melankolis. Cengeng. Biarlah. Saya tak keberatan. Nyatanya hati saya memang mudah tersentuh.

Saya tak tahu bagaimana harus bercerita. Lebih mudah jika kamu melihatnya bersama saya malam itu. Tak apa, saya akan mencoba menuliskannya. Untuk saya, untuk kita, yang terkadang lupa menghargai dan menikmati waktu istirahat yang Tuhan anugrahi.

Kejadiannya tak lama, tak lebih dari 5 menit. Di pertigaan traffict light Jati Kencana jalan Godean.

Dini hari saya mengemudikan mobil dengan kecepatan lumayan, buru2 ingin sampai rumah. Cukup membuat lelah dan mengantuk setelah siaran sampai lepas malam. Sayang, Nyala lampu merah membuat saya harus menunda hasrat menekan gas lebih dalam. Roda mobil saya berhenti sedikit menyentuh garis marka.

Humm.. Letih sih rasanya. Tapi sebelah hati saya seperti berkoalisi dengan otak yang masih curi-curi pikir tentang hutang pekerjaan. Jika bisa dikerjakan sebelum subuh, kenapa harus menunggu besok. Jika kantuk masih mau mengalah, kenapa harus merelakan memejamkan mata dan meninggalkan realita. Bulat tekad saya, berencana on line sesampainya di rumah, mencari materi siaran untuk program top 40 radio tercinta.

Saya pikir itu ide brilliant sampai anak lelaki itu memperlihatkan pada saya, bahwa tak semua tentang hidup hanya soal mengejar mimpi. Ada waktunya untuk berhenti. Memberi arti dan mensyukuri kenikmatan yang sederhana.

Tak tahu berapa usia anak laki2 itu. Mungkin sekitar 10 tahun. Entahlah. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Jam setengah dua pagi dia masih di jalan. Anak jalanan. Di pertigaan. Sendiriaan.

Saya curi2 pandang. Biasanya, sekitar jam segini, sering saya lihat orang tertidur di emper toko. Tapi anak laki2 itu lain. Rasanya dia masih terlalu kecil menghadapi buasnya jalan dan jahatnya angin. Boro2 mengkhawatirkannya terlambat sekolah esok pagi, saya terlanjur pesimis dia masih tertarik duduk manis membaca kurikulum pendidikan yang kaku.

Anak laki2 itu menutup wajahnya dengan topi lusuh hijau tua, emmm atau coklat tua? Entahlah.. Sudah terlalu lusuh untuk saya kenali warnanya dengan benar. Dia bersandar pada traffict light, menyangga tubuh kecilnya. Tangannya terlipat kedepan. Pastilah kedinginan, atau bisa jadi memang begitulah posisi ternyaman untuknya. Sangat mungkin.

Entah bagaimana wajahnya. Sebagian wajahnya tertutup topi berwarna mbladus tak jelas itu. Tak pula tahu apakah dia sudah asyik tenggelam dalam mimpi atau sedang ketakutan melintasi batas alam sadarnya. Satu hal saya yakini, dia sedang menikmati (atau tersiksa?) kantuk yang tak lagi mungkin terbendung. Meskipun tidak besar, Tiang kecil traffict light tentulah tak mampu menahan badannya. Bergoyang ke kanan badan kecil itu. Lalu kembali ke tengah. Sempoyongan lagi sedikit ke kiri. Lalu kembali lagi ketengah. Berulang beberapa kali hingga ia kesal. Tekluk-tekluk bahasa Jawanya.

Di bukanya topinya sesaat, mengedarkan pandangan entah memeriksa apa. Membenahi posisinya, tak lagi duduk menyandarkan tubuhnya pada tiang traffict light. Rebah terlentang, masih di pembatas jalan. Topi mbladus tak jelaspun masi menutup sebagian wajahnya. Dia tak lagi usik bergerak. Tertidur. Begitu saja. Tanpa alas selembarpun yang melapisi punggungnya. Tanpa bantal apalagi embel2 ucapan selamat malam dari ibu nya. Entah apakah bisa pulas tidurnya.

Sesederhana itu kah baginya arti istirahat. Tuhan memang tak pernah mempersulit keadaan jika kita memang tak berpikir rumit. Dan Dia mengindahkan kenikmatan jika kita mensyukuri kesederhanaan.

Saya tersenyum.
Bersyukur atas malam, pagi, siang, sore lalu malam lagi, yang satu persatu terlewati. Saya bersyukur untuk istirahat saya yang sederhana, namun tidak sesederhana milik anak lelaki itu. Saya bersyukur atas diri yang melankolis. Paling tidak hati melankolis ini yang peduli mengingatkan diri, bahwa ada waktunya untuk berhenti dan mensyukuri yang ada. Terimakasihku tak bosan-bosan, Tuhan.. 🙂

Oh ya, Terimakasih juga ya adik laki2 di pertigaan jalan. Semoga nyenyak tidurmu. Semoga nyamuk tak sampai hati menggigitmu. Semoga bising kendaraan seperti lullaby di telingamu.

Dengar, malam ini saya akan langsung tidur, besok saja mencari materi siarannya 🙂

Luvs,

March 27, 2009 at 3:54 pm Leave a comment

Lelaki dan Harmonika

Entah kapan awalnya, saya nyaris lupa pastinya.

Namun jika kamu tanya bagaimana, terlintas sebuah senja di musim hujan yang menghantarkan saya menikmati tanah lembab di tepi danau. Danau yang berselimut kabut putih. Tak pula angkuh rumput2 tinggi berkeliling disekitarnya. Hijau memukau. Meruntuhkan lelah yang seolah menjadi souvenir setiap keseharian saya. Danau di tepi kota yang membuat saya terjatuh bukan pada kubangnya, namun pada rasa.

Senja itu saya terduduk di bangku kayu tua. Letih mempertanyakan cinta. Nyaris bosan dan putus asa. Tak pula saya dengar langkah kaki menghampiri. Tersadar saat dia sudah duduk disamping saya. Tanpa bicara tanpa kata. Hanya menatap mata saya. Saya pun menatap matanya. Tak seorangpun berkedip. Lalu entah kenapa saya seperti tak kuasa menampung semua. Air mata tak lagi hanya tergenang. Tumpah sudah letih yang meruah bersama airmata.

Senja itu menjelma seperti titik nadir bagi saya. Tangis saya tanpa suara. Pilu.
“Tak apa. Lepaskan letihmu, Jingga” Lelaki itu sesaat pelan berkata.
Hening mengiringi senja menjemput malam.
Jingga. Darimana dia tahu nama saya. Dalam hati saya bertanya.
“Tak perlu heran. Tak ada yang tak saya tahu tentangmu” Laki laki itu tersenyum. Seolah terbaca isi kepala olehnya.
“Nama saya Langit”.
Angin sayup menghantarkan suaranya yang berat. Sementara dingin mulai merasuk membelai kulit kami.

Langit. Laki2 itu merapatkan jaketnya. Dia merogoh saku kanannya. Mengeluarkan sesuatu berwarna hitam. Dilekatkan benda itu dibibirnya. Lalu ditiupnya perlahan. Matanya terpejam. Mengalun melodi mengiringi malam. Kadang lembut kadang tajam. Terdengar nyeri. Menghujam hati. Tersayat. Namun seolah hilang segala penat. Saya tersihir sesaat. Harmonika.

Danau itu berkilau oleh sinar malam. Saat bulan mulai menyapa malu-malu. Begitu saja pertemuan pertama. Tanpa genggam salam hangat. Hanya melodi menyayat yang menyisakan indah dalam hati. Bahkan hingga mimpi datang di malam hari.

Selanjutnya, saya selalu menanti alunan harmonika di senja lain hari. Di bangku yang sama, di danau tepi kota. Pun Senja ini.

Gerimis yang jatuh halus perlahan membasahi rambut tak pula membuat saya beranjak. Masih di bangku kayu tua, di danau tepi kota. Sekali saya mendongak meratap pada awan kelabu yang berarak. Bergulung2 besar, gelap seperti tak sabar menumpahkan tetesan pekat. Jangan dulu hujan, Langit belum juga datang.

Saya makin resah, jiwa saya meronta memelas buaian suara. Ingin dimanja oleh melodi harmonika. Langit, dimana kamu. Bisik saya. Tak biasanya dia terlambat.

Saat senja pergi tanpa permisi lalu malam berganti, tampak sesekali bintang berhias bermain mata. Entah menghibur entah menggoda. Saya hampir putus asa. Tak ada lagi tempat bagi saya menyembunyikan letihnya luka. Tak juga dibalik merdu alunan harmonika. Saya nelangsa. Terlanjur terkoyak perih hati ini, terpikir Langit tak datang kali ini. Namun saat suara langkah tergopoh mendekati, keliru lah saya.

Lelaki itu Langit. Langkah tergesa itu miliknya. Bibirnya pucat, keningnya berpendar peluh.
“Maaf, Jingga, saya terlambat” nafasnya tersengal sengal.
“Kenapa terlambat, Langit?” saya bicara tercekat, menahan rindu yang tertahan ditenggorakan takut saya muntahkan.
“Sekali lagi, maafkan saya. Percayalah, Jingga. Apapun yang telah saya lakukan, itu karena saya terlalu larut mengejar mimpi. Berharap bosan mimpi berlari, lalu menyerah, menjelma menjadi nyata”
“Tapi saya menunggumu hingga nyaris putus asa, Langit”
“Jangan begitu, Jingga. Tolong, jangan pernah putus asa menunggu saya” Langit terdiam sebentar. Sesekali dilemparnya kerikil kearah danau. Memercik air mencipta syahdu suara. Sesaat dia menarik nafas panjang.
“Karena bila putus asamu, tak ada artinya lagi saya mengejar mimpi, Jingga”
Matanya sayu, tampak letih sekali. Sekalipun tak pernah saya melihat wajahnya sesedih itu. Saya mengetuk hatinya, masuk dan menikmati isinya.
“Langit, berbagilah pada saya. Apakah itu mimpimu?”
Langit terdiam. Sesaat menatap mata saya.
“Kamu sungguh ingin tahu, Jingga?”
“Tentu saja” saya tersenyum.
“Mimpi saya adalah membuatmu bahagia, Jingga”

Saya terperangah. Nurani ini jujur tersentuh. Lelaki itu tak pernah mengeluh, namun saya tahu dia bersungguh sungguh.
“Jingga, dengar janji ini. Akan saya wujudkan mimpi saya. Meski letih harus rela terkubur selamanya” Suaranya tergetar. Namun mata sayunya tegas mengirimkan sinar. Silau hingga terang sudut jiwa saya.
“Ampuni saya Langit, tak akan saya siksa kamu dengan mimpimu. Bangunlah, dan tercukupi sudah bahagia saya”
Saya menangis. Tak lagi pilu, meski tetap tanpa suara.
“Satu lagi, Langit. Tak perlu kamu berjanji. Cukup hadir melodimu dihati saya, setiap hari. Itu saja”

Langit tersenyum. Senyum lelaki dengan mimpi tak terhenti. Tak pernah mati.

Alunan harmonikanya menyayat hati. Menyiksa mimpi. Membuat malam terjaga tak ingin pagi. Tak ada sentuhan lelaki pada perawan. Tapi kami pasrah. Merelakan cinta yang memeluk hangat kami.

Tiupan Harmonika masih mengalun. Nyeri menyayat menikmati mimpi. Saat saya mendengar cinta dalam lantunan melodi. Tak berjudul. Namun indah sekali.

Luvs,
Untuk Langit yang membirukan hati.

March 23, 2009 at 10:22 am Leave a comment

Hobi Kok Nyasar

Buat beberapa teman terdekat dan keluarga, pastilah mereka sudah tidak asing lagi dengan kelemahan saya yang satu ini. Hobi nyasar. Maksud saya, hobi sekali nyasar.

Bener deh, ga perduli sudah seberapa sering saya kesuatu tempat, tetap saja ada kemungkinan nyasar. Menyebalkan.

Sempat membaca. Menurut penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Jerman dan pernah dimuat di Journal Intelligence, Secara genetis perempuan memang cenderung kurang baik melakukan beberapa hal dibandingkan laki-laki. Yaitu untuk urusan menyetir mobil dan parkir mobil (untuk kedua hal ini, rasanya saya tidak terlalu bermasalah, kecuali kalau kebut2an tanpa melihat spion sambil bedakan dan pake blush on itu masuk dalam kategori kegiatan membuat onar bukan bonus atraksi cantik dari kelihaian saya:P ) Lalu jurnal itu menyebutkan, perempuan juga kurang dalam hal kemampuan spatial, mengukur ruang dan bentuk. Ya, mungkin,bisa jadi. Saya jarang memperhatikan kemampuan saya untuk yang satu ini. Tapi kalau untuk satu hal lain yang disebutkan bahwa perempuan kurang bisa membaca peta dan menghafalkan arah. Wah, tentu saja saya sebagai pelaku nyata tak bisa mengelak lagi.

Saya memang kesulitan untuk memutuskan arah timur dan utara, bahkan untuk sekedar arah selatan yang sebenarnya di kota Jogja menjadi dimudahkan karena mengacu pada pantai Parangteritis atau arah utara yang mengacu pada arah gunung Merapi. Tapi tetap saja sedikitpun tidak membantu saya dalam menentukan arah suatu tempat. Hobi saya masih selalu sama, nyasar.

Bila saya datang kesuatu tempat dengan arah itu, pulangnya saya pasti lupa, meskipun jalannya tetap sama. Bila ada lebih dari 2 belokan. Saya mendadak tersergap pusing. Lalu memutuskan pulang sambil menelpon, membutuhkan bantuan dari seseorang yang lebih paham arah. Menyedihkan memang.

Saya sering sekali berputar2 disuatu tempat hanya karena tidak berhasil menemukan route yang benar. Pernah nyaris 45 menit waktu yang saya butuhkan dari rumah saya di Godean untuk sampai di jalan Parangteritis. Entah kenapa saya merasa harus melewati kantor saya dulu di Gayam sebelum kesana, meskipun sebenarnya tidak perlu. Dari gayam, saya ke jalan taman siswa, lalu bingung. Lupa harus belok kanan atau kiri. Hehe padahal sudah tahunan di jogja. Parah.

Pernah suatu saat, saya hendak pergi ke rumah Dita, teman saya, di daerah nitikan dari rumah saya di jalan godean. Boro2 nyampe rumah Dita, saya yang iseng mencoba route baru lewat ring road, sukses nyasar sampai jalan imogiri.

Kakak perempuan saya, pernah kesal bukan main, karena setelah beberapa kali mengantarnya ke kantornya yang didaerah Katamso, saya masih juga tidak berhasil menyetir sampai sana seorang diri. Lagi2 melewati route ring road itu lagi. Sampai2 saya harus berhenti dan menelpon menanyakan bantuan arah.

Ada apa ya dengan jalan di ring road itu, kenapa saya susah sekali menghapal jalan. Pagi ini saya ada jadwal siaran di Jogja TV, lokasinya di jalan wonosari. Tak ada yang aneh ataupun berbeda dengan jalannya. Tapi memang sih, saya sedikit melamun. Bukan keputusan yang benar sebenarnya, melamun sambil menyetir, apalagi saat sedang terburu-buru. Setelah belok kiri di jalan yang saya anggap jalan Wonosari, saya terlambat sekali menyadari keganjilan yang terjadi. Rasanya memang aneh sih, karena tidak seramai biasanya, lebih aneh lagi karena di kiri jalan tak saya temukan toko buah yang biasanya. Tak ada pom bensin juga. Jalan Imogiri no 148 menurut papan kecil yang terpampang di depan toko voucher seluller. Yeaaaa, lagi2 saya salah belok. SEBAL seolah2 tak ada sedikitpun pengertian bahwa saya sedang terburu-buru. Hiks. Saya putar balik mobil saya sambil tak sanggup lagi menahan diri untuk tidak berteriak. Sungguh mengesalkan sekali. Saya marah pada diri sendiri. Ingin menambah hormon testoteron tapi tidak tau warung mana yang jual.

ARRGH. Saya sungguh marah pada diri sendiri. Karena percuma saja kalau marah pada ring road. Ring road gak asik. WEK!!!

March 20, 2009 at 10:13 am 2 comments

Kopi Anti Mimpi

“Tidurlah.. sebelum pagi menjemput”
“Tidak..”
“Tidak? Maksudmu?”
“Aku tidak bisa tidur”.
“Tidak bisa atau tidak mau?”
“Menurutmu?”
“Tidak mau.”
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Ya karena sejak kapan kamu tidak bisa tidur.. heheh.. you are master of it.. Pura pura lupa..”
“Hahaha.. Benar juga.. Ya. Aku tidak mau tidur”.
“Benarkan.. Apa ku bilang.. Kenapa?”
“Apanya?”
“Ah, pura pura bodoh lagi. Kenapa tidak mau tidur?”
“Oh itu.. Aku takut dia datang”
“Siapa?”
“Mimpi”.
“Oh.. baiklah.. Aku temani kamu terjaga..
“Sampai kapan?”
“Selama yang kamu mau..”

Lalu dia membuatkan kopi pahit untukku. Pahit sekali. Ku tenggak sampai habis. Berharap kantukku ikut hanyut tertelan bersama cairan hitamnya.

“Akan sampai berapa banyak kopi yang kau buatkan untukku?”
“Tak perlu khawatir. Tak akan habis persediaanku..”
“Tak akan habis?”
“Ya. Sampai nanti kamu tak lagi takut pada mimpi”.

Dia mengaduk kopi pahitnya untukku. Lagi. Cangkir yang kesekian..

“Hey, kamu..”
“Ya..”
“Jangan letih membuatkanku kopi pahit untukku..”
“Semoga saja…”

Kutenggak kopi pahit dalam cangkir keseratus lima belas. Kantung mataku menghitam. Mati2an mataku kupaksa terbuka. Malam ini aku tak ingin tertidur.. Tak akan kubiarkan mimpi itu datang… Dia masih disampingku, menggengam tanganku erat. Sementara tangan kanannya lincah membuatkan kopi pahit untukku. Cangkir selanjutnya.

“Kemarilah.. Kubisikkan sesuatu..”
“Apa?”
“Terimakasih untuk kopi anti mimpinya…”

March 19, 2009 at 4:54 am Leave a comment

Hari Ke-16 di Bulan Ini

Hai,
Apa kabar? Lama tak saya dengar cerita tentang rupa rupa harimu, tentang campur campur rasamu. Semoga baik2 saja ya. Seperti yang selalu saya minta, saat saya menengadahkan tangan dalam curhat saya padaNya.

Tak banyak lagi yang saya tahu tentangmu. Maafkan saya ya. Saya memang membatasi diri untuk melihat detail tentangmu. Darimana lagi kalau bukan dari Facebook. Satu2nya media yang memudahkan saya menjadi pengintai rahasia mu. Belakangan ini, larangan keras saya berlakukan, tak lagi saya membuka profilemu. Segala tentangmu. Saya berusaha melindungi diri. Saya mengkhawatirkan diri saya. Takut kepala saya akan berkunang-kunang seharian atau hati saya akan nyeri berdenyut denyut seperti pesakitan. Sayangnya sistem notification Facebook sering mengganggu ketangguhan saya. Toh, bobol juga. Saya tetap ingin tahu tentangmu. Seperti fans yang ingin tahu tentang idolanya dari infotainment. Saya memicingkan mata melihat gambar2 terbarumu. Aneh rasanya. Saya seperti melihatmu yang baru, lahir kembali. Saya tidak mengenalmu. Tapi kamu tersenyum lebar disana. Kamu ceria. Bahagia. Hingga tak kuperdulikan perasaan aneh yang membuat hati saya berkabut.

Saya bahagia. Bukan untuknya, tapi untukmu. Bukan untuk senyumnya, tapi untuk senyummu. Untuk malam2mu yang tak lagi kamu lewati dengan sepi yang menyiksa hati. Untuk rindumu yang tak lagi tanpa penawar yang sering datang dan membuat jengkel, kesal pada nasib.

Banyak pula yang tak kamu tahu lagi tentang saya. Bukan saya menyimpan rahasia, tapi karena memang inilah pilihan yang dijalani. Merasakan pahit manisnya, baik buruknya. Mau tak mau. Namun bila tak sengaja kamu membuka catatan kecil ini, benarlah rasamu. Ini memang cerita tentangmu.

Saya menjalani hidup saya. Melewati hari yang tak pernah sama. Menikmati waktu yang tak mungkin berputar ke kiri. Pun semua tak membuat saya melupakan hari ini. Saat sejarah mencatatmu membuka mata pertama kali. Melihat dunia. Mencicipi cinta. Hari ke 16 di bulan Maret.

Dini hari ini, tentulah saya bukan yang pertama yang mengucapkan selamat untukmu. Saya tak memelukmu dan bersorak bahagia di telingamu. Tapi percaya saya, saya menitipkan salam untukmu, mengiba padaNya agar menemani langkahmu. Saat kamu tertatih, berjalan dan berlari. Karena hanya padaNya saya mempercayakan semua tentangmu.

Malam ini saya masih terhenti di kota asal saya. Malam ke 16, dibulan yang sama, tahun yang lalu, saya bahkan berada di tempat yang lebih jauh lagi. Bukan dikota kecil dimana kita dulu mengurai cerita, lalu menjalinnya lagi, lalu mengurainya kembali, lalu burai. Berantakan. Kita terlalu letih menjalinnya kembali. Kehabisan energi. Seperti kendaraan yang kehabisan bahan bakar. Kita berhenti.

Namun, tahu kah kamu, itu tak membuat saya berhenti mengingat hari ini. Hari pertama kamu takjub akan sentuh cinta dunia di hati.

Dulu sekali, saya pernah menemanimu melewati hari ke 16 di bulan ini. Hari yang kita syukuri dengan sepenuh hati. Saya mensyukuri apa yang sudah kamu lewati. Saya mengamini apa yang kamu ingini. Setiap tahunnya, Kita melewati hari itu dengan mimpi setinggi langit. Damai dihati. Seolah mungkin menyentuh sedikit lagi. Namun sayang, saat terbangun ternyata kita masih terperosok dilapisan bumi. Hari ke 16 bulan Maret, di tahun ini, tak ada lagi mimpi.

Saat bagimu, saya seperti ada dan tiada. Doa saya, saya bisikkan ditelingaNya. Ribuan mill saya terpisah olehmu, saya tak membuat jarak denganNya. Saya mohonkan bahagia untukmu, terlindungi langkahmu, dan kuat hatimu. Saya memintaNya menemanimu, karena terkadang manusia lelah, namun Dia tidak. Saya memohon agar Dia menjagamu. Karena saya tahu, Dia tak seperti satpam, Dia tak pernah jatuh tertidur 🙂 Di sudut hati saya bersungguh-sungguh mengiba padaNya, agar menemanimu setiap waktu. Saat kamu malu menangis, saat kamu tersiksa meredam marah, atau bahkan saat kamu tak lagi berani bermimpi. Saya percayakan kamu padaNya. Jadi jangan lupakan Dia 🙂

“Selamat ulang tahun, ya”. Semoga semakin bijaksana dalam memaknai hari dengan perjuangan hati. Jangan letih berlari, namun jangan lupa saat harus berjalan dan berhenti. Pada perempuan yang bersamanya kamu lewati harimu, saya wakilkan bahagia saya pada matanya. Saya wakilkan doa harapan saya pada hangat genggam tangannya.

Maafkan saya jika catatan ini dirasa tak berkenan, tak pula saya butuh telinga untuk mendengar. Saya hanya ingin menuangkan isi kepala yang tak mungkin lagi tertampung. Butuh dituang. Thank god, i have facebook 🙂

Sekali lagi, “Selamat ulang tahun, ya”

Nah, sekarang saya baru bisa tidur.. 🙂

Luvs,

March 17, 2009 at 3:14 am 4 comments

Older Posts


warna-warniku

yang menghampiri

  • 41,080 pasang kaki