Archive for April, 2009

Sebentuk Hati di Padang Ilalang

Rumput-rumput itu tumbuh liar. Hijau tua. Hijau muda.
Menjuntai menantang langit, seolah ingin melompat tinggi menggapai.
Warnanya biru saja.
Sementara awan berarak berbagai bentuk,
Terkadang seperti angsa, seperti apel, ada juga yang seperti pegasus.
Semua putih. Seputih kapas.
Andai bisa tersentuh.
Pastilah lembut.

Saya tahu dia disana.
Sengaja, agar tak mudah terlihat.
Agar nyaman dan tak mudah terluka.
Tak pula terusik oleh nestapa dunia.
Terlindung dari bising suara dan perih airmata.
Dia bilang, dia menyukai damai ilalang.

Suatu pagi,
Tetes embun menyapanya,
Bulirnya menyejukkan,
Setiap tetesnya menentramkan.
Kicau burung menciumi telinganya.
Dia bilang, dia menyukai pagi di ilalang.

Suatu siang,
Terik matahari membakar manusia,
Beberapa kulit mereka tampak kemerahan, Beberapa lagi menjadi berminyak karena kelenjar yang aktif bekerja.
Sementara dia kesenangan berputar bertabur sinar.
Hingga lengket berkeringat.
Dia bilang, tak apa, dia menyukai siang di ilalang.

Suatu sore,
Dia kelelahan,
Selepas bermain seharian,
Mengejar kupu-kupu dan belalang.
Dia meringis kesakitan, lupa beralas kaki seharian.
Namun matanya tak berkedip melihat jingga nuansa langit barat.
Dibasuhnya keringat.
Dia bilang, tak apa, dia menyukai sore di ilalang.

Suatu malam,
Tak ada suara selain krik krik suara jangkrik.
Tak ada sinar, selain cahaya bulan.
Berteman dengan jentik menawan kunang-kunang.
Kuning keemasan.
Angin malam menyayat hingga sendi tulang belakang.
Dia menggigil kedinginan.
Bibirnya sesekali tergetar.
Namun sembari tersenyum, dia tetap bilang, dia menyukai malam di ilalang.

Suatu saat, selepas siang,
Saya temui dia di ilalang.
Saya bilang, saya harus menjemputnya pulang.
Dia menangis.
Dia bilang, jangan sekarang.
Dia menyukai ilalang.
Saya mengalah,
Biarlah dulu dicumbunya ilalang.

Esok harinya, saat gerimis halus membasahi hijau rerumputan,
Saya kembali menghampirinya,
Saya bilang,
Ikut saya, pulanglah saja.
Lagi-lagi dia menangis.
Dia bilang, dia tak mau pulang.
Ilalang adalah rumahnya.
Dia menyukainya.

Saya bertanya,
Apa asyiknya disini,
tanpa atap yang melindungi terik matahari,
Tanpa dinding yang mengusir dingin,
Tanpa jendela yang menghalau serangga.
Dia bilang,
Dia tak perduli terik atau dingin yang menghadang.
Bahkan serangga boleh datang kapan saja untuk bercanda.
Hanya tak terbayang harus menahan rindu ilalang,
bila mesti melangkah pergi.
Dia bilang,
Dia terlanjur mencintai Ilalang.

Saya bilang,
Sudahlah.
Berhenti sembunyi.
Hadapi saja dunia.
Sementara dia belum juga berhenti menangis,
Saat dia bilang, sesungguhnya dia tidak sedang bersembunyi. Dia hanya menikmati hijau ilalang.
Yang liar namun sanggup menerimanya walaupun tanpa sebab.
Tanpa harus menjadi langit, bukan menjadi rumput, bukan pula serangga.
Ilalang membebaskannya menjadi apapun.
Tak ada ketakutan.
Meskipun dia hanya sekedar menjadi sebentuk hati.

Lalu saya menyerah,
Meninggalkannya sendiri. Di padang ilalang.
Angin bertiup,
Tak lagi mengirimkan lembut tangis suara.

Di padang ilalang itu,
Saya titipkan hati saya.
Tak perlu tergesa.
Kembalilah kapan saja.
Saya tahu dia akan baik-baik saja.

Luvs,

Advertisements

April 8, 2009 at 10:48 am 1 comment

Duh, Terselip Kamu Saat Bekerja

Pekerjaan saya masih sama. Mengandalkan bicara untuk recehan rupiah yang tak kunjung membuat tebal dompet saya. Tapi saya rasa menyenangkan.
Apalagi kalau saja terlihat mata sosokmu yang berdiri menyemangati saya di sudut ruangan.

Kebiasaan. Suka sekali saya bercermin berulang kali. Melihat pendar bayang diri, sambil belajar bicara dengan volume setengah berbisik. Meletakkan senyum yang seolah natural agar lancar kalimat tersampaikan. Segera. Sebelum ada langkah datang di kamar mandi. Bisa malu saya nanti. Kalau saja ada kamu, tentulah tak perlu berlama2 saya eksodus di kamar mandi. Akan saya recruite kamu menjadi pendengar latihan mengoceh saya. Meskipun hanya sambil lalu di telingamu. Sembari kamu asyik membuka lembaran koran harian atau menonton acara olahraga di saluran TV kesukaan.

Selalu begitu. Saya membutuhkan sekedar ketikan sms untuk saya kirimkan. Agar kamu mendoakan ketenangan lidah saya yang terkadang suka terserang kaku dadakan bila akan mulai bicara dihadapan banyak mata. Kepercayaanmu bahwa saya akan baik2 saja menguatkan saya. Menetralisir jantung saya yang berdebar seperti suara dentuman kereta api. Kalau saja ada kamu, pasti akan saya pinjam tanganmu. Akan saya letakkan tepat di titik jantung saya. Agar terasa debarannya sampai di permukaan kulit luarmu. Ah kamu, saya jadi rindu saat nadi saling bertaut menyatu.

Cermin berpendar. Ada mawar merah terselip di rambut hitam saya. Ada gelang hitam bulat besar di pergelangan tangan kiri saya. Dress putih dengan list hitam yang baru dua kali ini saya kenakan melekat ditubuh saya. Sepatu pump hitam dengan heals 10 centi, penuh perjuangan terjenjang di kaki saya. Saya suka bayangan saya. Andai saja kamu juga melihatnya, apa kamu juga menyukainya ya. Teman-teman memuji. Katanya mereka menyukainya. Meski entah tulus entah sekedar saja. Saya terlanjur malu-malu kegran. Hati saya berdendang, melodi rindu sayang. Bila saja pujian itu terucap dari bibirmu, pastilah rasa saya mampu membuncah berpuluh-puluh kali lipat.

Berpacu waktu dalam tingkatan adrenalin cepat. Tik tak tik tok. Dig dag dig dug. Mahsyuk saya ditengah pekerjaan yang memaksa untuk menepikanmu dipinggir pikir saya. Saya bergumul dengan kalimat kalimat panjang. Masih demi recehan. Namun tak juga menjadi seberkas samar bayangmu. Malahan. Terselip jelas di tiap satuan sel dalam otak saya. Bercampur dalam tiap tetesan mili darah saya. Kalau saja ada kamu, cukup kutatap mata itu. Maka kamu akan segera tahu, sedang nelangsa saya merindumu.

Sesungguhnya, ini pekerjaan tanpa paksaan.Bahkan menyenangkan. Menyatu dengan tatapan mata banyak manusia.Mengikuti dan memperhatikan gerik saya. Bila rasa ini tak berlebihan, beberapa mata bersinar seperti sedang tertangkap kekaguman. Kedipan mata saya, menjentikkan bahagia senang. Intim kecintaan saya. Seandainya ada kamu, pasti akan saya genggam tanganmu. Semacam ingin mentransfer energi klimaks agar turut kamu rasakan. Berbagi nikmat.

Benar. Pekerjaan saya hari ini tak mendekatkan kulitmu di kulit saya. Tak menghadirkan bayangmu yang meneduhkan langkah saya. Tak tertangkap bening matamu oleh iris mata saya. Bahkan organ saya seolah bersekongkol untuk sepakat menyerah mengaku lelah. Kecuali otak saya yang tak ikut berkonspirasi. Belum juga berhenti memikirkanmu. Pun begitu hati saya, masih memaksa merindumu tanpa peduli apa.

Pekerjaan saya baru saja selesai. Berhenti berusaha bicara sempurna juga ahirnya. Seandainya ada kamu, pasti akan kamu belai rambut saya. Bertanya lembut apakah letih perempuan ini. Lalu seolah ter-recharge energi saya.

Sayangnya kamu tak ada disini.

Karena seandainya ada kamu, tentu saya tak perlu menuliskan kata per kata di notes ini. Lalu mengiba meratapi rindu yang semoga tak bertepuk sebelah hati.

Dalam perjalanan pulang.
Dari Solo, 4 April 2009.
Rindu kamu,

April 8, 2009 at 10:43 am Leave a comment

“Fogging” Maha Heboh

Masih saja seperti tradisi lama. Tindakan preventif terjadi setelah jatuh korban. Di perumahan saya sudah ada 2 anak terdiagnosa terjangkit demam berdarah. Maka mulai lah penyemprotan nyamuk aides eigepty (maap kalau salah nulisnya hehe) heboh dilakukan. Sudah 2 minggu ini. Minggu lalu dan minggu ini. Pagi2 benar, sebelum terang, sebelum mata jernih melakukan aktivitas. Biarlah. Kalau memang untuk kebaikan bersama.

Kebaikan? Dengan sedikit ramuan jengkel di dalamnya juga sih.

Kakak perempuan yang tinggal serumah denganku. Cak Sari. Semangat sekali menyambut penyemprotan ini. Sangking semangatnya penyambutan yang dia lakukan, saya malah jadi panik.

Minggu pertama penyemprotan, Cak Sari heboh membangunkan seisi rumah persis seperti membangunkan orang telat sahur. Heboh bener deh ah. Anaknya arla yang belum juga melek, diangkut, dieteng2 sambil memasukkan semua barang yang terlihat mata ke dalam lemari. Katanya takut kena bau asap. Baju2 dan handuk yang ada di luar ruangan eksodus dulu ke dalam lemari. Tentu saja tak lupa memberi ultimatum pada saya untuk menyelamatkan barang2 saya dari bau semprotan massal nyamuk itu. Karena saya masih ngantuk berat, mengingat saya baru tidur jam 2 dan sudah dipaksa dengan tdk terhormat bangun jam 5. Tanpa banyak berpikir. Yang saya selamatkan cukup 1 saja. Hair clip saya. Hehe ga lucu aja kalau nanti rambut saya bau semprotan nyamuk. Biarlah rambut “mendadak_gondrong” itu tenang sementara waktu di dalam lemari. Sementara saya, cak sari, dan Arla keponakan saya yang lucu, mengungsi sambil puter2 mencari sarapan.Sayangnya, karena terlalu semangat. Kami ngungsi sambil cari sarapannya, terlalu pagi. Sudah beli sarapan, sudah puter2 ring road selatan separoh jalan ampe 2x, ternyata rumah kami belum kena giliran juga. Cuman mau ngungsi dari semprotan nyamuk saja, jaraknya sama dengan perjalanan jogja-klaten pulang balik.. Ckckckck.. Cak sariku sayang.. Capek lah adek sopirmu ini kau buat di pagi hari maha indah.

Dan pagi ini. Hari dek Santi tidak kalah indah dari hari Penyemprotan nyamuk di minggu pertama.

Kali ini persiapan Cak Sari jauh lebih matang. Dari malam harinya, dia sudah sibuk menutup barang2 dengan koran. Mulai dari piring sampai TV!! (tuhan toloooong :()

Hari H, Pagi buta. Tentu saja Cak Sari masih gegap gempita bin semangat binti menggebu membangunkan semua manusia rumah untuk mengungsi sementara. Tapi kali ini saya tidak mau tertipu lagi. Rasanya tidak perlu mengungsi “terlalu rajin sebelum waktunya” seperti minggu kemarin. Sementara Cak sari sudah berkemas2 di luar rumah sambil menenteng Arla dengan gaya sedikit dijepit diantara perut yang mulai membuncit dan ketek, saya putuskan untuk mandi dulu saja. Mengingat pagi itu juga, saya ada kerjaan. Jam 8 pagi harus sampai tujuan. Membutuhkan waktu ekstra berdandan untuk acara itu. Sehingga saya rasa memang keputusan yang bijak, mandi sebelum manusia rumah lain mengantri setelah penyemprotan.

Oh tuhan. Tapi ternyata, pilihan mandi sebelum fogging datang, juga bukan pilihan asik. Cenderung mengecewakan. Trauma kamar mandi.

Sedang intim aktivitas pagi saya di kamar mandi. Penuh penghayatan duduk diam di atas kloset. Ok. Agak cemberut sih. Maklumlah, nikmat. Ah, sudah jangan dibayangkan. Bukan itu intinya. Sedang mahsyuk aktivitas saya. Pintu kamar mandi di gedor dengan tidak senonohnya.
“Yaaaank.. Buruan.. Semprotannya udah deket” Suara siapa lagi kalo bukan suara cak sari.
“Iya… Bentar.. Lagi pup”
“pup nya bentar aja lah.. Semprotannya udah deket.. Nanti kalo kejebak asep gimana” yeeeah… Si cak sari mulai berlebihan. Sementara gedoran bertubi2 membuat hati tak tenang. Terpaksa saya pakai kembali baju2 saya. Menunda keintiman dengan kloset. Hukks sungguh tak enak. Saya keluar dengan bersungut sungut. Bergabung dengan manusia2 rumah yang sudah diluar duluan. Heran. Tak saya temukan asap di depan rumah..
Hanya Cak Sari yang tertawa tak lucu campuran tak enak 0,05%
“Pup lagi aja sana yank.. Semprotannya masi di RT 3 ternyata hehe..”
“Masyallloooooh” saya kesel bukan maen.

Tidak lagi melanjutkan kemahsyukan diatas kloset. Hilang mood saya. Mepet juga waktunya. Aktivitas menggosok badan biasa. Menyikat gigi pilihan favorit saya. Lalu keramas yang sebenarnya malas tapi efek kemalasan bisa merusak penampilan seharian. Hiks. Sehingga tak ada pilihan lain. Keramas lah saya.

Belum juga habis bagian rambut saya kena shampoo. Lagi2 pintu kamar mandi digedor dengan sadis.
“yaaaank.. Buruan mandinya… Udah deket beneran ni semprotannya”
“iya cak.. Belum selesay mandinya”
Lalu diam.. Tak bersuara.. Eh, sebentar aja. Suara tak merdu itu lagi!Berkumandang lengkap dengan orkestra gedoran pintunya.. Seperti teror ditelinga.
“yaaaank.. Buruan dong uda di sebelah tu semprotannya”
“iya cak.. Lagi keramas”
Lha kok tiba2 si kakak perempuanku tersayang itu malah ngambek.
“Yauda terserah kalo mo kena asep. Di bilang udah disebelah gak percaya!!”
lha.. Kok malah marah. Asep asep.. kang asep.. Asep Marasep.

Ckckckck hatiku tak tenang lagi, buru2 aku selesaikan keramas pagiku. Handukan secepatnya. Masih agak basah malah.

Sayangnya. Sampai diluar rumah. Lagi2 saya harus rela dibuat heran. Belum juga saya lihat asap bahkan didepan rumah.

Cuman cak sari yang dengan berkata tenang namun kejam ditelinga.
“Ihhh dek santi ga bersih mandinya. Masak rambutnya masih ada busanya.. Mandi lagi sana gih yank bentar.. Semprotannya masih di gang sebelah kok ternyata hehe…”

AHHHHH… GAK DEH, cak.. BIARIN. Mau masih ada busanya kek.. Mau ada businya kek.. OGAH bolak balik kamar mandi lagi 😦

HIKS.

April 8, 2009 at 10:42 am 2 comments


warna-warniku

yang menghampiri

  • 41,080 pasang kaki