Archive for May, 2009

Hati di Hari Senin

Hai,
Selamat pagi,
Semoga nyenyak tidurmu semalam, sayang.

Lihat,
Pagi ini aku hadir dengan sebuah hati yang kubingkiskan untukmu.
Hati dengan pita merah jambu.
Dengan kartu mungil bertuliskan “milikmu”

Oya, coba sentuh sebentar.
Ada malaikat kecil berbaju hangat yang kuselipkan didalamnya.
Kutitipkan pesan padanya untuk menjaga hatimu.
Agar tersabarkan marahmu.
Agar ditenangkan langkahmu.
Dan tentu saja, agar selalu hadir segala tentangku yang nakal tak mau pergi dari otakmu 🙂

Masuklah, sayang.
Jangan khawatir, kusediakan tempat yang luas untukmu.
Agar kita bebas berlari dan berkejaran.
Terjatuh dan bergulung-gulung dibawah matahari.
Tak perlu berhenti karena terantuk dinding yang membatasi.
Tenanglah,
Untukmu,
Hatiku lapang tak bersudut.

Sayang, matahari mulai tinggi.
Waktunya kita memeras keringat lagi.
Nanti, ketika kamu membutuhkanku untuk sekedar bercerita tentang menu sederhana di saat break makan siangmu,
Telphone saja aku.
Akan aku ceritakan betapa rindunya aku 3 jam berpisah denganmu.
Lalu,
Silahkan teguk lagi Coca-Colamu 🙂

Sayang, sudah dulu ya.
Selamat hari senin.
Aku mencintaimu seperti hari-hari kemarin.

May 25, 2009 at 5:33 am Leave a comment

Hareee genee ke kuncee di kamar mandeeee.. GOD HELP!!

Sumpah ya.. kali ini bukan cerita sedih.. apa lagi romantees…. huuuks

Jadi. Pagi ini rumahku yang kecil dan hangat itu sudah mulai terasa cukup hiruk pikuk. Kak Naya, keponakanku, akan lomba drumband cilik di GOR UNY. Dari pagi Cak Sari, kakakku uda mulai ngebangunin masa untuk siap_siap. Sebenernya di rumah kami ada 3 kamarmandi. 2 dibawah 1 diatas. Tapi seringnya kami males pake kamar mandi atas. Kamarmandi yang di belakang juga jarang dipake.

Karena aku menjadi tertuduh utama pemakai kamarmandi paling luamaaaa, maka akupun terpaksa menjalankan perintah mandi di kamarmandi Belakang.. Yah, mungkin aku emang jarang d rumah si ya, ato kurang perhatian ama rumah.. makanya nasib naas itu menimpaku..

Abis mandi ala kadarnya, karena mau sok2an begaya ala ida iasha ga mampu.. Aku pake anduk yang ga ber-“Budi”.. karena liat mukanya ditipi aja geli apalagi kalo diliatin langsung.. Dengan gaya balerina males diet aku buka pintu..
“ceklek ceklek” kunci kamar mandinya ga bergerak, bo!
ceklek ceklek lagi.. hiks.. tetep ga bergerak.. Mati deh. kekunci beneran.
selanjutnya sibuk di dalem kamar mandi ceklek ceklek doang tapi pintunya ga kebuka-buka juga.. Ah.. dasar kau angkuh!!! pintu durhakaaaa!!

Yeaaah, u r rite. aku kekunci di kamarmandi. Nista. Nestapa. mulai panik dan meneriakkan satu persatu nama manusia yang didalem rumah.. Mendadak kayak vokalisnya jamrud karena uda ga bisa melafalkan huruf “i” dengan benar sangking paniknya. hiks..
“Dek Arlaaa…Caaaak Sareeeeee.. Mas edoooo.. Mbak Umeeee… Mbak SReeee.. Barneeeeey.. (boneka besar warna ungu terong punya arla yang tetap lincah berjoget walo berbadan besar)”

Dari dalam kamar mandi mulai kedengeran suara riuh ga renyah-renyah amat di luar..
Cak Sari yang Hamil 5 bulan: “yaaaaaaah… dek santi kekunci di kamar mandi…yaaaahhhh…”
Mas Edo: “lho tii.. ngapain kamu kunci kamar mandinya kan ga bisa dikunci???” Dalam hati menjawab.. huhuuuu kalo tau ga bisa dikunci ga bakalan aku kunci laaaah maaas 😦
Arla: “antii… antiii.. antiii” keponakanku itu serius menyemangatiku seolah olah tantenya sedang seru ikut lomba karapan sapi di dalam kamar mandi..
ato mbak Sri dan mbak Umi yang asik kasak kusuk investigasi, seperti :’Lho kok mbak santi iso ke kancing too??” “opo ora ngerti nek pintu ne ora iso di kancing”
Hiiikksss… mesti bilang berapa kali siiiii.. kalo tau ga bisa dikunci ya aku ga bakan ngunci pintu.. Emang apa asiknyaaa ngunci diri di kamar mandi.. *hosh hosh* emosi.com

Setelah dengan perjuangan beberapa saat. Mengikuti saran mas edo untuk Neken pintu, tahan, tarek kuncinya.. pokoknya semacam tuntunan itulah.. Lalu Baca berbagai macam doa dari mulain dari ayat kursi ampe ayat2 cinta, Dengan rahmat Allah yang maha Esa ahirnya aku bisa keluar dengan keringet segede_gede jeruk lokam turun harga di indogrosir. Tak kuasa aku menahan haru begitu keluar kamar mandi.. Massa menyambutku dengan luapan haru…
dan Arla pun berhambur kearahku dan berucap innocent..
“selamat ya antiiii..” Oh iya sayang.. Rasanya memang perlu anti mu ini diberi ucapan selamat setelah lolos terkurung di kamar mandi. LEGA bin BAHAGIA binti TERHARU. Seperti abis lulus ujian dengan NEM tertinggi tingkat propinsi -emmm, belum tau rasanya si, karena belum pernah juga hehehe.. tapi anggep aja rasanya begitu-

Hiiiiuuuuuuhh… sia sia deh udah mandi jadi keringetan lagi gara2 kekunci di kamar mandi.. ato aku harus mandi lagi??? ah bercandaaaa kamu sayang, tentu tidaaak laaaah!!

May 23, 2009 at 7:48 am Leave a comment

Mata yang Meredup

Tidak seperti malam biasanya. Saya tak memperpanjang percakapan. Karena sudah cukup keruh warna rasanya, tak perlu saya aduk lagi agar lebih keruh.

Saya putuskan. Menelan segala ego saya. Meski terlampau bulat dan terasa pahit. Menyimpan pembelaan saya. Tidak ada kata tidak. Lalu Mengubur airmata saya. Tak akan berguna. Saya ucapkan selalu saat nyaris terjatuh beningnya setetes.

Saya perempuan. Kesabaran maha hebat tersembunyi dibalik senyuman. Berulang kalimat itu coba saya yakinkan. Saya membaca Al fatihah dalam hati, entah untuk berapa kali. Hanya agar saya tak sempat membantah lagi.

Demi tuhan, saya mohon maaf. Saya lelah sekedar mengaku salah. Saya malu mengidamkan pengakuan. Bahwa cukup keras usaha saya. Kasar telapak kaki saya. Terlalu sering saya memaksanya berlari.

Saya menyesal. Hanya ini yang saya punya. Kalau kau meminta lebih, saya sungguh tak ada. Habis, saya berikan semua untukmu. Namun bila belum lega tenggorokanmu, tolong beri saya waktu. Menelusuri liku untuk mata airmu.

Dengar. Bila malam memang sudah semestinya menghitam. Paling tidak, tak akan saya biarkan malam kami terlampau gelap. Biarlah seberkas binar saya berikan dibalik bulan.

Jadi maaf sayang, bila meredup mata saya malam ini.

May 23, 2009 at 5:51 am Leave a comment

Di Perjalanan Malam

Menikmati setiap titik waktu seolah tak kenal pada rotasinya yang diluar kendali. Melepaskan rasa seperti balon gas yang dilepas ke udara. Hanya ada kami. Berdua saja.

Tak pula ada sentuhan yang berlebihan. Tercukupkan jemari saling genggam. Memberi spasi pada rapatnya beban yang melelahkan.Melegakan. Memulihkan.

Sekedar cerita yang mengalir tak putus-putus. Tentang masa yang belum juga terjamah, namun kami tetap ingin melangkah. Tentang mimpi. Tentang pangeran-pangeran dan putri kecil kami yang cantik. Tentang tangan2 mungil mereka yang akan mensucikan dosa kami dengan doa2nya. Tentang mereka yang akan mempercantik rumah kami dengan langkah kecilnya. Dengan larinya yang kadang lincah, kadang terjatuh. Mungkin mereka akan menangis, tapi lalu segera berhenti ketika kami hadiahi ice cream vanila coklat kesukaannya. Yang ini khayalannya sih, katanya terinspirasi dari kesukaan saya yang mungkin saja akan menurun pada putri kecil kami.

Cerita khayalan yang tak seindah negeri dongeng milik Nirmala. Tapi kami akan cukup bahagia berlindung bersama di rumah sederhana. Rumah putih berdesign Kuno mirip rumah jaman Belanda, dengan tanaman rambat dan lampu sorot di tamannya. Rumah yang sempurna oleh cinta manusia yang mendiaminya. Tapi ketika khayalan itu mengerucut pada pertanyaan kapan terwujudnya. Kami hanya tertawa. Sepakat bahwa biarlah itu hanya menjadi rahasia tuhan dan bala malaikatnya. Kami merapatkan nafas kami, menyatukan arah dan tujuan kami. Memohon agar diberi cukup waktu untuk mewujudkan mimpi kami.

Pernah merasa rindu bahkan saat masih duduk berdampingan? Saya pernah. Dia pun pernah. Tepat disaat itu kami merasakannya. Saat kami menghabiskan waktu berputar mencari ujung jalan sambil menertawakan kisah lalu kami yang cukup seru dan lucu.

Saat saya menyandarkan kepala disampingnya meskipun kepala saya tidak terasa berat. Saat dia membelai rambut saya dengan sebelah tangannya. Saat dia perlahan berkata “Dek, lihat keluar. Bulannya bagus. Full Moon”

Ya. Memang indah. Saya mengamatinya dari balik jendela. Sementara kendaraan kami terus melaju. Hendak menambatkan rindu di ujung jalan. Lalu kembali meneruskan perjalanan panjang yang mungkin terjal dan berliku. Ketika mimpi melambai-lambai memohon agar segera diwujudkan.

Hari ke 183 di perjalanan malam, saat dunia seolah hanya milik kisah saya dan kisahnya.

May 23, 2009 at 5:50 am Leave a comment

Tentang Daisy di Halaman Belakang

Seorang perempuan menanti di teras depan. Gelisah. Diremas tangannya, digigit bibirnya. Tampak tak redup matanya. Berbinar membiaskan rindu.

Adalah aku perempuan itu.

“Ah, itu dia” Sebuah senyuman tak kuasa sembunyi terlalu lama dihati bernuansa ungu.
“Kenapa lama sekali?” Meski sudah kutahan, tak mampu aku tak manja.
“Maafkan aku, sayang. Sudah semampuku secepatnya meraihmu disini” Raut wajahnya yang menyesal menyiksaku.
“Ah tidak tidak, jangan meminta maaf. Hanya aku saja. Menunggu memang tak pernah sebentar bukan rasanya. Sudahlah.” Sesungguhnya aku lebih menyesal bila harus melihatnya menyesal.
“Eh sayang. Ada yang ingin aku perlihatkan padamu?” Aku kembali teringat sesuatu yang membuat rindu makin memonopoli harihariku. Ya, akan kubiarkan dia tahu.
“Apa itu, Sayang?”
“Kemarilah. Ikut aku ke halaman belakang.” Dia mengikutiku langkahku dari samping. Ujung jariku menyentuh jarinya. Tergetar hatiku seperti hebatnya magma yg hendak dimuntahkan. Lalu, aku menyerah pada genggaman hangatnya.

“Ini dia” Aku sungguh tak mampu menutupi kekagumanku pada indahnya. Hamparan bunga daisy putih yang kontrast dengan hijau rumput yang mengelilinginya.
“wow, cantik sekali sayang. Kamu yang merawatnya?”
“Tentu saja.”
“Luar biasa cantiknya. Daisy putih bersih dan sedikit kuning keemasan ditengahnya. Tapi, kenapa Daisy sayang?”
“Kenapa bukan? Kecantikan Daisy menyiratkan ketulusan dan penantian yang kucurahkan saat merawatnya.”
“Bukankah Daisy hanya mampu bertahan selama semusim?”
“Ya, sayang. Kamu benar.Bila tak cukup sinar matahari, Daisy itu akan layu. Dan saat musim hujan tiba, aku akan merawatnya kembali dari awal. Menanti kuncupnya menyembul malu malu, dan berdebar setiap hari menanti merekahnya mahkota putih itu. Lalu sayang, aku akan bersyukur bukan main saat kamu datang dan melihat matamu yg mengagumi hamparan Daisyku.” aku tertawa senang. Jika ada kata lain yang bisa mengungkap level tertinggi diatas kata senang. Akan aku gunakan kata itu.

Dipeluknya pinggangku dari belakang. Aku biarkan saja. Kami terduduk di bangku putih menghadap hamparan daisy itu. Segala angkuhku runtuh. Menyerah dan mengaku kalah pada rindu yang setiap hari mendobrak pertahanan yang kubuat atas nama penantian. Tak ada lagi pertahanan. Maka mengalir air mataku. Tak kusangka sebelumnya, menahan rindu sanggup menyakiti sedemikian dahsyatnya.
Kulegakan semua. Kusandarkan kepalaku dibahunya. Kubisikkan rindu di telinganya. Dibelainya rambutku. Dia mengangkat wajahku perlahan. Hingga mataku sejurus dengan matanya.
“Sayang, dengar. Aku merindukanmu bahkan lebih dari yang kau tahu” aku menyimak baik baik kata-katanya. Perasaanku tak enak.
“Tapi aku tetap harus pergi. Habis sudah waktuku. Lihat, senja datang dari segala penjuru arah. Jingga itu semakin berwarna tua sayang” Dipeluknya aku. Pelukan erat yang menyakiti hatiku. Rasanya perih. Kembali menusuk-nusuk ditempat yang sama. Tempat bernama penantian.

“Sayang, sungguh. Bukan aku tak menikmati keindahan daisy yang kau tanam dengan ketulusan. Bukan aku tak merindukanmu seperti kamu merindukanku. Bukan pula aku tak ingin berlama-lama denganmu. Tapi aku sungguh harus pergi. Malam mengusirku dari keindahan bersamamu. Berat langkahku tak mampu menahanku pergi dari nyaman didekatmu. Siksa yang aku rasa tak mampu menghentikanku mewujudkan mimpiku. Kamu tahu kenapa sayang?” Aku diam. Khawatir sepatah kata salah mampu memperparah lukanya. Itu saja. Karena sudah kuputuskan untuk tak hiraukan lukaku.
“Karena.. selalu kulihat kau tersenyum cantik dalam mimpiku.” Sesaat dia terdiam. Lalu menghela nafas berat. Kuusap tangannya, berharap mampu sedikit redakan bebannya.
“Meski untuk mewujudkannya, berat langkahku mencapainya, sayang” Matanya berkaca-kaca. Pasti sakit menahan air mata. Lalu kuusap mata itu. Terpejam sekali. Jatuh genangan dari mata lelaki. Tanpa suara yang mengisak. Namun aku tahu pasti rasanya sesak.

“Pergilah. Legakan langkahmu, sayang. Aku perempuan. Kekuatan besar tak akan habis dibalik kelembutan, bukan” kubiarkan pelukan menghangatkan dingin angin yang mulai bersenandung tentang lagu sepi. Jika boleh kulukislan, rasanya semacam tak ingin menambah goresan pada lukanya. Tak ingin menjadi besi mengganjal yang memberatkan langkah pada sepatunya.

Dia memandangiku beberapa saat. Menyentuh bunga daisy yang makin bersinar dibawah bias malam dan cahaya lampu halaman belakang.
“Boleh kupetik setangkai, sayang? Hanya, belum habis rinduku padanya”. Aku mengangguk. Dipetiknya daisy putih setangkai, diletakkan dikantong samping tas kerjanya. Tak ada kata cinta. Namun aku merakannya dari mata sayunya.
“Aku akan kembali sayang. Untukmu dan untuk bunga daisymu”
Aku mengangguk. Meski kecupan dikeningnya tak akan mampu meredakan rindu sepanjang musim yang menghantam malam penantian. Tapi tak apa, biarkan malam ini sempurna dengan perpisahan yang lembut penuh sayang.

Langkahnya tak lagi terdengar, hanya bintang malam yang berdansa menemani. Binarnya seolah mengiringi alunan melodi sepi yang mengisi ruang kosong di hati. Kutatap langit malam dan mengucapkan salam padanya. Sedikit kedipan kecilnya menguatkan hatiku yang berkabut.

Kupetik setangkai Daisy dari halaman belakang. Biar kubawa masuk kamar tidurku. Akan kuletakkan disampingku, temani lelap tidurku. Daisy, bunga penantianku, ayo ucapkan selamat datang kembali pada sepi malam kerinduan.

Aku perempuan, Daisy. Jadi biarkan dia pergi. Sementara kamu dan aku, jangan lupa tersenyum saat dia kembali.

May 23, 2009 at 5:49 am Leave a comment

Letter About Him

Tuhan yang baik,
Saya sedang tak punya teman bicara,
Pun saya tahu diriMu tak pernah lelah mendengar.
Maka disinilah saya.
Dengan kepala tertunduk dihadapMu, meratap malu-malu.

Tuhan yang selalu mengerti.
Jika saya merasa sudah cukup mencoba semampu saya,
Memberikan yang terbaik dari saya,
Namun lalu baginya saya hanyalah duri yang melukai.
Saya harus bagaimana..
Hati saya nyeri karena ketidakmengertian saya.

Tuhan yang selalu ada waktu meskipun tak pernah berhenti sibuk.
Saya lelah menjadi penyakit baginya.
Saya bosan akan kesedihan yang saya hibahkan padanya.
Saya marah pada api yang saya sulutkan selalu pada sabarnya.
Kaki saya tak mampu menyangga rasa bersalah seorang diri.
Saya butuh bersandar dan menyeka keringat saya yang terlanjur bercampur dengan air mata.

Tuhan sayang, tolong peluk saya.
Hangatkan diri saya.
Lalu redakan hitam yang terlalu pekat pada malam saya.

Tuhan yang setia,
Percaya saya. Saya ingin menjadi lebih baik baginya.
Perempuan yang mampu menguraikan kelembutan tutur bahasa.
Yang memiliki hati luas tanpa batas untuk menerima kekurangannya.
Yang merengkuh kesalahannya dengan maaf yang ikhlas tak meninggalkan bekas.

Tuhan yang menghidupkan dan melumpuhkan keindahan rasa,
Izinkan saya menelan sakit semampu saya.
Biar dulu kering airmata saya, tak apa meski kerontang.
Biar dulu habis malam-malam saya panjatkan doa tentangnya.
Lalu, silahkan Kau gerakkan tanganmu untuk sesuatu atas nama kuasaMu.

Apapun itu, Engkau tahu kan Tuhan. Saya mencintainya. Tolong pertimbangkan itu ya, Tuhan.

Terimakasih saya tak terhingga…

May 9, 2009 at 11:32 pm 3 comments

Pernah Kamu Merasakannya?

Menjadi tidak berguna baginya.
Seperti setumpuk daging basi yang siap dibuang. Seperti bernafas dgn paru2 pinjaman yg harus segera dikembalikan.
Lalu mulai mempertanyakan arti hadirmu yang seolah sama saja. Mungkin lebih baik tak ada ketimbang ada.

Menyakiti perasaannya tanpa sengaja.
Tapi lalu sakit di hatimu seolah berkali-kali lipat dari sakitnya. Seperti ingin menggoreskan pergelangan kananmu dengan pisau tajam. Agar klimaks sakitmu. Menyesal. Sungguh.

Membuatnya marah diluar kuasa.
Namun kamupun tak mampu menahan amarah. Tak ingin seorang diri dilimpahkan salah. Pecah sudah. Lalu kamu lihat matanya memerah. Tangannya mengepal. Tak satupun kata dia lontarkan. Hanya satu hembusan nafas berat.
Apa yang kamu rasakan? Perasaan marah di hati yang hilang entah kemana. Terganti oleh keinginan untuk memeluknya dan meredakan marahnya. Sayangnya, tak bisa sesegera itu kamu memeluknya. Perlu redakan marah yang menjadi abu2 tua di hatimu. Tentu saja bukan padanya, namun marahmu pada dirimu sendiri.

Ketika kamu ingin membuatnya bahagia, namun kamu menjadi tak berguna.
Ketika ingin bicara manis, namun hatinya malahan terluka.
Atau ketika ingin selalu menentramkannya, namun tak sengaja menghidupkan amarahnya.

Rasanya seperti kehilangan sepenggal halaman dalam tumpukan naskah. Tak sempurna artimu.
Seperti tersobek bagian peta menuju pulau impian. Kamu kehilangan tujuan.

Pernah merasakannya?

Saya baru saja merasakannya.
Hingga hanya saya temukan rasa benci pada diri saya sendiri.

Lalu tak bisa berkata tidak pada rasa sakit yang menyerang bertubi-tubi.

May 7, 2009 at 5:55 am Leave a comment

Older Posts


warna-warniku

yang menghampiri

  • 40,914 pasang kaki