Sekedar waktu yang tak pernah sama

June 6, 2009 at 1:09 am Leave a comment

Menelisik persatu jalannya waktu yang lalu, membuat saya mengerti. Bahwa bumi tempat saya berpijak tak pernah berhenti berotasi.
Setiap menit berganti tanpa pernah sudi menengok kebelakang lagi. Langkah saya tak pernah berhenti sesekali walau apa terjadi. Dan lalu hati ini berubah raut sesuai isi. Kadang sepi, kadang gaduh, namun bahkan kadang tak pula berpenghuni.

Tubuh ini berevolusi sesuai suasana hati. Naik beberapa kilo saat sedang jatuh hati, lalu turun sedikit ketika patah hati. Timbangan yang tak pernah ajeg. Pasrah menikmati.

Beberapa titik tak lagi sama. Seiring pergantian cerita, saya belajar menjadi bisa. Dulu sekali, bahkan meneteskan obat tetes matapun saya tak bisa. Sekarang, bila temui abu warna iris mata, itu saya yang merekatkan softlens hanya dengan seketika.

Atau, dulu sekali, betapa jagoannya saya mendamaikan kesepian dalam diri saya. Nyaris untuk puluhan tahun. Namun tidak saya sadari pergerakannya, laun saya menjadi jinak pada bersama. Saya jatuh pada nikmatnya berdua.

Nikmat yang tak bermewah-mewah namun terasa wah. Sederhana saja. Sesederhana langkah yang seirama, berlari, berhenti dan saling menyemangati. Tertawa geli dan menjadi bodoh dengan suka hati, menangis bila terluka karena terlalu menyayangi, atau marah bila mulai merasa takut akan kehilangan yang tak muat ditampung lagi. Berbincang sampai larut lalu tertidur, terbangun dan seketika dilanda rindu yang tak mungkin bila dipendam dan tak diucap. Ritme yang setiap hari menyusup menjadi keseharian yang terlanjur menjadi bagian yang teraduk rata dalam saya. Menyatu tanpa ragu dan malu. Tanpa sekat yang serat dan berat.

Lalu maaf bila rasanya tak rela andai harus kembali sendiri, apalagi bila harus lagi-lagi bersahabat dengan sepi. Saya tak lagi sekuat dulu. Saya akui. Maka, andai Tuhan berbaik hati mengucap selamanya untuk hati yang tak lagi ingin merasa sendiri. Tak akan lupa saya ciumi sajadah dan berucap syukur tak berhenti.

Memang tak semua berubah, beberapa masih saja tertanam di akarnya. Namun saya tetap tak lagi sama. Dan tak ada penolakan dalam saya.

Berjalanlah waktu, mari saya iringi dengan harap dan mimpi perempuan yang mengabdi. PadaNya sang pemilikmu. Dan lalu pada rasa yang selalu saya tuliskan sebelumnya.

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Jaketmu. Untuk Sebuah Sore Tadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


warna-warniku

yang menghampiri

  • 40,914 pasang kaki

%d bloggers like this: