Untuk Sebuah Sore Tadi

June 6, 2009 at 1:10 am 2 comments

Mari Sayang,
Kita bicara sebentar.

Duduk tenang, melepas beban. Lapangkan hati untuk rasa yang biasa kita nikmati. Sementara, letakkan dulu sebentuk ego yang membungkus diri sehingga harganya jadi mahal sekali. Dan aku, aku janji tak akan menangis lagi.

Lihat sayang, sudah kuhapus airmataku. Tak tersendat lagi nafasku. Tak terbata kalimatku.

Genggam tanganku sayang. Ya seperti itu. Tak apa menari sesekali telunjukmu. Namun jangan lupa membuka hatimu. Karena aku tak hanya membutuhkan telingamu untuk mendengar gelisahku.

Pernahkah terbayang sayang,
Rasanya terbangun saat pagi dan tak lagi bisa mengirimkan pesan sekedar ucapan “selamat pagi, sayang”. Atau seketika menjadi canggung saat ingin sekali bertanya “Hari ini mau ngapain aja, sayang?” Pernah terbayangkah, sayang, saat semua yang sudah terlalu terbiasa kita awali dipagi hari terpaksa diganti? Sungguh, tak mampu membayangkan betapa kehilangannya pagiku.

Lalu pernah terlintaskah, sayang,
Rasanya bila tak ada lagi teman yang selalu bersemangat untuk berbagi nikmat Magnum sang ice cream kesayangan. Atau bila tak ada lagi teman bercanda yang mampu melupakan jauhnya jarak jogja-klaten demi semangkuk sup ayam kesukaan. Bila energi iseng berlebihpun, rasanya tak akan mampu menggerakkan kakiku untuk menyinggahi Kaliurang sekedar membeli tahu jadah dan ampyang. Tahu kenapa sayang? Karena tak akan sama rasanya bila tak ada kamu. Lidah ini seperti terlalu kaku untuk menelan. Hanya pahit saja dirasa.

Pernahkah sayang,
Kamu membayangkan tak ada lagi yang membacakan catatan kecil yang dituliskan untukmu. Tidakkah kamu akan merindukannya, sayang? Karena meskipun aku tau tak sering kau membaca catatanku, namun tak ada yang lebih menyenangkan dari membacakan sendiri catatan yang kubuat untukmu. Kadang aku malu membacakannya, kadang kamu tersipu mendengarnya. Tapi memang hanya kumpulan huruf yang tak seberapa itu yang mampu hati ini persembahkan.

Tidakkah kau ingin melakukannya lagi, sayang?
Tiba-tiba menjatuhkan tubuhmu dipangkuanku saat lampu merah menghentikan kemudimu. Tidakkah kau ingin melakukannya lagi? Bukankah kau selalu terbahak dengan keras setiap kali tahu kau berhasil mengejutkanku dengan gaya mendadak jatuhmu itu. Lakukan lagi ya sayang, nanti tanpa sepengetahuanku. Karena meskipun aku selalu cemberut dan menyerbumu dengan cubitanku karena tak mampu menahan jantung yang terkaget-kaget, tapi bukankah kita selalu menutupnya dengan tawa kita yang berderai. Lalu siapa nanti yang akan kumarahi karena menjatuhkan tubuhnya dipangkuanku, sayang? Ah, menuliskan ini saja membuatku menangis.

Kamu bilang aku cengeng, ya sayang. Sedikit-sedikit menangis. Tapi percayalah, hanya kamu yang paling sering memergokiku menangis. Tahu kenapa, sayang? Karena hanya kamu teman berbagi yang mampu menyempurnakan ceritaku.

Aku tak mampu membayangkan sayang,
Bila tak lagi bisa sesuka hati menelponmu untuk sekedar bercerita tentang perutku yang bertambah lipatan. Atau tak lagi bisa mendengar cerita tentang keponakan kesayanganmu yang lucu dan bandel. Pernah terbayang rasanya sayang, bila puluhan telpon berdering namun tak satupun memunculkan namaku di LCD mu. Maaf bila aku tak mampu membayangkan itu terjadi padaku, ya sayang. Rasanya tak cukup kuat aku menahan kecewa yang terlalu hebat. Terlalu pedih. Dan hanya suaramu yang menjadi mujarab.

Apa pernah terbayang sayang,
Mendengarkan track ke 3 itu tanpa suara anehku. Suara yang tetap berusaha bernyanyi demi obsesi berduet denganmu. Meskipun tak pernah sekalipun terlihat percaya diri saat bersenandung denganmu, tapi tak sanggup aku membayangkan bila harus mendengar lagu itu tanpamu. Tanpa suara berat meski hanya sesekali mengiringi. Masihkah lagu riang itu bercerita tentang sepasang jatuh cinta, sayang? Kenapa hanya kudengar lagu sedih sepanjang perjalanan kemudi yang menyiksa rindu.

Maaf sayang,
Bila membayangkanpun aku tak cukup mampu. Bila belum terjadipun sudah sesak nafasku. Lalu mulai mengambang air di mataku. Lagi.

Boleh kupinjam tanganmu, sayang.
Sebentar saja. Karena hanya milikmu itu yang mampu menghentikan aliran air mata.

Sementara cintaku,
Meski terkadang tak cukup berani, tapi dia tak pernah berhenti.

*catatan sebuah sore bersama lelaki kesayangan

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Sekedar waktu yang tak pernah sama

2 Comments Add your own

  • 1. Lexy Noerdi Sugara  |  October 17, 2009 at 12:59 pm

    kamu tau Shan…?

    aku tau Shan…aku tau…..sebatas apa yang aku tau

    aku mengerti sebatas apa yang aku mengerti

    mendengar..memahami dan mengerti apa yang orang rasakan terasa sebagai hal menarik yang sangat suka aku lakukan..

    tapi nyatanya….aku masih saja bukan sesosok lelaki yang pengertian ujar kekasihku….dulu

    tapi teruslah menuliskan apa yang kamu mau

    ketik semua rasa yang kamu rasa sesak menjejali seisi kepalamu

    biar aku tau…mencoba memahami rasa itu…mencoba mengerti

    apa yang sedang kamu pikir dan rasakan

    Lexy Paranoia

    Reply
  • 2. mase mungil  |  November 20, 2009 at 11:53 pm

    salam knal…. hihihih
    mampir yahhh…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


warna-warniku

yang menghampiri

  • 41,080 pasang kaki

%d bloggers like this: